Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pengungsi banjir bandang Sentani kesulitan mendapatkan air bersih

Pengungsi banjir bandang Sentani, di Kampung Toladan saat mengunakan air untuk mencuci sayur. Jubi/Yance Wenda

 

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Para pengungsi banjir bandang Sentani di Kampung Toladan, Kabupaten Jayapura, Papua, kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Para pengungsi itu telah menerima bantuan tangki air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Jayapura, namun tidak pernah menerima kiriman air.

Karel Tabuni, Koordinator Pos Pengungsi Toladan menyatakan hingga kini para pengungsi banjir bandang di sana masih kesulitan mencari air bersih. “Hingga saat ini itu kami masih terkendala air bersih untuk makan, minum, mencuci dan mandi. Sumber air Toladan debitnya semakin kecil, sehingga kesulitan air,” kata Tabuni kepada Jubi, Kamis (24/10/2019).

Tabuni menjelaskan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah memberi bantuan berupa tangki air bagi para pengungsi dari Kampung Toladan itu. Akan tetapi, hingga kini para pengungsi itu tidak pernah mendapatkan kiriman air. “Kami dapat tangki itu, tapi sampai saat ini tidak [mendapat bantuan air]. Mereka isi [tangki] itu hanya satu kali saja, pas waktu [tangki] datang,”  tuturnya.

Loading...
;

Menurut Tabuni, para pengungsi kesulitan mencari air untuk mencuci dan masak. “Kalau mencuci sayur, kami harus berhemat-hemat. [Kalau] kami mau mandi,  anak kecil dan orang dewasa mandi air kali. Padahal air sungai kotor karena sampah menumpuk [di hulu], tapi kami tidak punya pilihan. Ada yang pergi mandi di toilet gereja, tapi debit air di sana pun semakin kecil kalau dipompa siang-malam,” kata Tabuni.

Pengungsi banjir bandang Sentani yang kini tinggal di Jalan Pasir, Eko Pilipus Kogoya juga menyatakan pengungsi di Jalan Pasir kesulitan mencari air bersih. Kogoya mengeluh, pengungsi banjir bandang kurang mendapatkan perhatian dari posko induk.

“Kami di sini juga kekurangan air. Kami tidak pernah mendapatkan air bersih itu dari posko induk atau kabupaten Jayapura. Mau mandi saja, kami pikir setengah mati, apalagi mencuci dan masak, paling susah,” ucapnya.

Untuk mencari air bersih, Kogoya harus pergi ke bekas tempat tinggalnya yang sudah hancur terkena banjir bandang. “Kalau ada uang untuk membayar transportasi, kami naik ke tempat yang sudah hancur. Kami ke sana hanya cari air saja, mencuci dan mandi di sana. Baru kami turun kembali, Air ini kebutuhan yang paling penting,” keluh Kogoya.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top