Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pengungsi Gome bertambah, stok bahan makanan makin menipis

Para ibu dan anak yang mengungsi di Distrik Gome, Kabupaten Puncak, Papua, sedang duduk di halaman kantor Klasis GKII di kampung Yenggernok, Gome – IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Relawan yang menangani para pengungi di Distrik Gome Kabupaten Puncak, Papua, Torius Tabuni mengatakan persediaan bahan pangan bagi pengungsi di sana semakin menipis, seiring bertambahnya jumlah pengungsi. Hingga Rabu (4/9/2019) jumlah warga sipil yang mengungsi di Kampung Yenggernok telah mencapai sekitar 2.000 orang.

Sejak 24 Agustus 2019, aparat keamanan menyisir sejumlah kampung di Distrik Gome, mengejar kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) pimpinan Goliat Tabuni dan Anton Tabuni. Penyisiran itu seketika membuat 800 warga sipil dari Kampung Misimaga, Tegelobak, dan Kelanungin ke Kantor Klasis Gereja Kemah Injil Indonesia atau GKII di Kampung Yenggernok. Dari hari ke hari, jumlah pengungsi terus bertambah.

Torius Tabuni menyatakan hingga Rabu pengungsi telah bertambah menjadi sekitar 2.000 warga yang berasal dari 11 kampung di Distrik Gome, dan ditampung di enam tenda darurat di Yenggernok.

“Masyarakat mau makan bagaimana, saat ini didalam gudang tersisa beras sembilan sak beras ukuran 25 kilogram, bantuan dari Polsek Gome. Ini tidak cukup untuk pengungsi dengan jumlahnya yang terus bertambah. Karena aparat kemanan masih melakukan penyisiran dan pengejaran kepada TPNPB di  11 kampung di Gome. Masyarakat jadi takut beraktivitas di hutan yang menjadi lokasi berkebun mereka. Lokasi itu dikuasai aparat kemanan yang melakukan pengejaran kepada TPNPB,” kata Torius.

Loading...
;

Torius mengatakan, penyisiran aparat keamanan terjadi di delapan kampung yang di Gome yakni, kampung Kelanungin, Upaga, Tegelobak, Misimaga, Niggibuma, Agome, Gome, dan Yenggegolawi.  “Hingga saat ini aparat masih [menyisir]  dari rumah ke rumah. Rumah rumah yang ditinggalkan oleh masyarakat sudah bisa bongkar, dan mereka ambil sekop, parang, kapak, semua angkat bawa pulang. Ternak babi dipotong oleh mereka. Jadi operasi sedang berjalan terus, masyarkat mau ambil makanan juga masih takut,” katanya.

Torius meminta Bupati dan Wakil Bupati segera memperhatikan nasib para pengungsi di Distrik Gome. Sejauh ini, bantuan bagi pengungsi hanya diberikan oleh Dinas Sosial dan Dinas Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Puncak, serta Puskesmas Gome.

“Tapi dinas lain belum ada tanggapan terkait pengungsian warga ini. [Sementara] beras sudah berkurang. Kami sedang duduk merancang pertemuan, agar pemerintah bisa tambah pasokan bahan makanan bagi pengungsi di Puncak,” katanya.

Salah satu pengungsi di Kampung Yenggernok menuturkan para pengungsi kesulitan untuk memenuhi sendiri kebutuhan makan mereka. Sejak pekan lalu warga harus meminta izin aparat keamanan untuk pergi mengambil hasil kebun.

Menurutnya, di antara para pengungsi, hanya ada lima perempuan yang bisa mengambil hasil kebun “Masyarakat harus lapor untuk mengabil sayur di hutan. Yang biasa mengambil sayur itu perempuan, [ada] lima [orang]. [Mereka] ambil sayur, ubi. Untuk beras, persediaan memang semakin berkurang,” katanya. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top