HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pengungsi Nduga kekurangan bantuan

Sebuah mural di Pasar Yibama, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, menyerukan kepedulian terhadap situasi kemanusiaan di Kabupate Nduga. – Jubi/Dok A Tabuni

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Selama tiga bulan terakhir, sejumlah warga Kabupaten Nduga mengungsi menghindari perang antara pasukan gabungan TNI/Polri dan kelompok bersenjata pimpinan Egianus Kogoya. Akan tetapi, hingga Rabu (20/3/2019) kondisi para pengungsi Nduga di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya, masih memprihatikan dan kekurangan bantuan.

Salah satu relawan yang mengurus para pengungsi asal Nduga di Wamena, Arim Tabuni menyatakan terdapat lebih dari 600 anak usia sekolah yang kini belajar di sekolah darurat. Para anak usia sekolah dan keluarganya menggantungkan penghidupan mereka hanya dari donasi gereja. “Sudah tiga bulan ini para pengungsi menggantungkan harapan hidup dari donasi Gereja Kingmi, Baptis, GIDI, Katolik, dan GKI,” tutur Tabuni kepada Jubi, Rabu (20/3/2019).

Tabuni menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Nduga baru datang dan melihat kondisi para pengungsi pada pekan lalu. Pemerintah Kabupaten Nduga telah menawarkan bantuan, akan tetapi para relawan meminta bantuan dari pemerintah itu disalurkan melalui gereja.

Tabuni mengharapkan Pemerintah Kabupaten Nduga secepatnya berkoordinasi dengan gereja-gereja yang selama ini telah membantu para pengungsi Nduga. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Nduga harus memfasilitasi gereja untuk menangani masalah makan, minum, pelayanan kesehatan, hingga penyelenggaraan pendidikan bagi anak-anak pengungsi.

Loading...
;

“Kami menghargai bahwa selama tiga bulan ini gereja yang membantu pengungsi Nduga. Ini soal budaya. Pihak gereja sudah perhatian, lalu tiba-tiba pemerintah datang mau urus itu, sabar dulu. Sebenarnya, kondisi pengungsi Nduga sangat kekurangan bantuan,” ujar Tabuni.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Nduga mengambil langkah cepat untuk berkoordinasi dengan sejumlah gereja yang selama ini menangani pengungsi, karena para pengungsi kekurangan bantuan. Karena terlalu minimnya bantuan para relawan sampai harus datang ke gereja-gereja, dan menggalang dana di jalan serta pasar di Wamena.

Soleman Itlay, aktivis kesehatan Daerah Terpencil Papua mengharapkan perhatian yang diperoleh para pengungsi Nduga dengan perhatian yang didapatkan para korban banjir bandang di Kabupaten Jayapura.

Itlay berharap kemanusiaan semua pihak tidak tebang pilih, dan lebih berfokus kepada masalah kemanusiaan ketimbang masalah ideologi. “Kita harap donasi yang sama banyak juga bisa datang bagi Penggungsi Nduga dan semua kasus di Papua,”ujar Itlay.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top