Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pengungsi Nduga kekurangan pelayanan kesehatan

Anak-anak pengungsi asal Kabupaten Nduga yang berada di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya sedang makan di tempat pengungsian mereka. Jubi/Foto Dok. Allah Tabuni

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi –  Ribuan warga Kabupaten Nduga, Papua yang mengungi ke sejumlah wilayah di Kabupaten Jayawijaya tinggal dalam kondisi memprihatinkan, tanpa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Para pengungsi itu hanya ditangani seorang dokter dan seorang suster, dan sudah ada dua pengungsi yang harus dirujuk ke rumah sakit.

Pasca pembunuhan 19 pekerja PT Istaka Karya di Kabupaten Nduga pada 2 Desember 2018, TNI/Polri terus menambah jumlah tentara dan polisi di Kabupaten Nduga. Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang dipimpin Egianus Kogoya telah mengumumkan bertanggungjawab atas pembunuhan 19 pekerja Istaka Karya itu, dan pasukan gambungan TNI/Polri menggelar  “operasi penegakan hukum” untuk mengejar kelompok Kogoya.

Baca Perang antara TNI/Polri dan TPNPB rugikan warga sipil

Situasi keamanan di Kabupaten menimbulkan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Ribuan warga Nduga, termasuk ratusan anak-anak, harus mengungsi ke sejumlah wilayah di Kabupaten Jayawijaya. Mereka mengungsi demi menghindari pertikaian bersenjata yang terus berlanjut di Nduga.

Loading...
;

Salah satu relawan yang mengurus para pengungsi asal Nduga, Flori Geong menuturkan para pengungsi kekurangan obat-obatan dan tidak mendapat pelayanan kesehatan yang memadai. “Saat ini, sudah ada sejumlah relawan yang mengurus para pengungsi, termasuk tenaga kesehatan. Akan tetapi, tidak ada persediaan obat yang memadai bagi para pengungsi,” ungkapnya kepada jurnalis Jubi pada (20/03/2019).

Baca Anak-anak Nduga jatuh pingsan kurang makan

Menurut Ence, panggilan akrab Flori Geong, sebagian pengungsi terkonsentrasi di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya. Sebagian pengungsi lainnya bertahan di Ilekma. Hingga pekan ini,  belum ada tenaga medis yang dikirimkan Pemerintah Kabupaten Nduga untuk memeriksa dan merawat kesehatan para pengungsi di Wamena maupun Ilekma.

Relawan lainnya, Arim Tabuni, hingga pekan hanya terdapat seorang dokter dan seorang perawat yang secara sukarela datang memeriksa kesehatan para pengungsi. Menurut Tabuni, dokter itu tidak setiap saat berada di lokasi pengungsian, namun setiap dibutuhkan bisa dipanggil untuk datang. “Kalau ada yang sakit, kita panggil dokter datang,”ungkap Tabuni.

Video : Kami lari ke hutan karena takut TNI-POLRI

Akan tetapi, dokter itu tidak memiliki cukup obat-obatan. Jika ada pengungsi yang sakit, dokter terpaksa membuatkan resep obat yang harus ditebus di apotik. “Terkadang perawat yang mengantar resep dari dokter. Kami menebus resep itu di apotik. Jika ada pengungsi yang sakit parah, dokter akan merujuknya ke rumah sakit,” kata Tabuni.

Relawan pengungsi Nduga, Soleman Itlay menyatakan hingga pekan lalu dokter telah merujuk dua pengungsi asal Nduga ke rumah sakit. “Seorang pengungsi dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Wamena, karena tulang tangannya patah. Seorang pengungsi lainnya perempuan, dan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Dok 2 Jayapura,” kata Itlay.

Para relawan itu juga mengeluh tidak adanya kendaraan yang bisa dipakai jika sewaktu-waktu harus membawa pengungsi ke rumah sakit. “Orang sakit (tidak mungkin berjalan kaki) dari Gereja Weneroma dan Ilekma ke RS di Wamena. Kerja para relawan berat, tetapi semangat teman-teman luar biasa,” ujar Itlay.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top