Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pengungsi Sentani minta Dinas Pendidikan tepati janji

Anak-anak korban banjir bandang Sentani di Posko Pengungsian Polomo –Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Tiga siswa SMP dan satu siswa SMA tidak naik kelas karena tidak ikut ujian akibat ketiadaan biaya. Mereka korban banjir bandang Sentani yang masih berada di posko pengungsian.

Bencana banjir bandang Sentani, Kabupaten Jayapura telah berlalu hampir setahun sejak kejadian 16 Maret 2019. Namun tidak ada perhatian serius terhadap sebagian anak-anak usia sekolah yang menjadi korban bencana.

Banyak siswa, baik tingkat SD maupun SMP dan SMA, yang tidak melanjutkan studi mereka dengan baik. Ada sebagian dari mereka tidak mengikuti proses belajar mengajar dengan baik karena kondisi tempat tinggal mereka tidak memadai.

Setelah kejadian banjir bandang memang ada sejumlah instansi pemerintah, termasuk Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura datang ke setiap posko mengambil jumlah data anak-anak yang sekolah. Namun sampai saat ini data yang diambil tersebut tidak kunjung datang hasilnya.

Keluarga dan koordinator yang menangani posko-posko pengungsian, baik itu Posko Toladan maupun Posko Polomo Sentani, hanya berharap ada realisasi dari apa yang pernah disampaikan kepada pengungsi. Mereka berharap Dinas Pendidikan tidak hanya sekedar mengambil data lalu tidak ada kabar lagi.

Koordinator Posko Pengungsi di Polomo Sentani, Yumer Kogoya, menceritakan dulu pernah datang petugas dari Pemerintah Kabupaten Jayapura.

Loading...
;

“Mereka bilang kalau nanti biaya pendidikan anak-anak akan diperhatikan, namun sampai saat ini tidak ada sama sekali, akibatnya saat ujian kenaikan kelas anak-anak kami tidak ikut ujian sehingga mereka tahan kelas (tidak naik kelas –red) karena alasan tidak ada biaya, itu SMP ada tiga orang dan SMA satu orang,” katanya kepada Jubi di Sentani, Senin, 20 Januari 2020.

Mereka berharap pemerintah memperhatikan anak-anak sekolah yang masih duduk di bangku SD, SMP, dan SMA agar mereka juga dapat melakukan studi mereka seperti pelajar lainnya.

“Kami tunggu janji pemerintah itu seperti apa, kalau tahun kemarin gagal itu tidak apa karena memang kondisi kami tidak ada uang juga mau cari uang di mana, dan pemerintah waktu datang dan bilang nanti untuk uang pendidikan kami tanggung dan mereka minta data, kami kasih tapi sampai saat ini tidak ada respons juga,” kata Yumer.

Pemerintah Kabupaten Jayapura, dalam hal ini dinas terkait, katanya, berjanji akan memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan anak-anak didik selama mereka berada di tenda pengungsian.

“Mereka sampaikan kalau mereka akan fasilitasi, baik seragam, maupun buku-buku, alat tulis, dan uang SPP, serta dari Yapelin ada bantu berupa pakaian layak untuk anak-anak SD saja, sedangkan untuk siswa SMP dan SMA tidak ,” katanya.

Koordinator Posko Pengungsi di Toladan, Karel Tabuni, mengatakan sampai di saat ini belum ada Dinas Pendidikan membawa hasil dari data yang mereka ambil.

“Waktu kami masih mengungsi di Gereja Baptis Imanuel Toladan itu petugas dari Dinas Pendidikan datang dan minta data anak-anak sekolah, sekretaris sudah berikan data itu lengkap, anak PAUD berapa, SD, SMP dan SMA ada berapa, cuma belum ada informasi sampai saat ini, jumlah anak PAUD dan PPA 7 orang,  SD 8 orang, SMP 3 orang, dan SMA 4 orang,” katanya.

Menurut Karel, bantuan jika ada bantuan dari Dinas Pendidikan terhadap siswa tentu akan membantu meringankan beban orangtua mereka. Setidaknya ada reaksi dari dinas setelah mengumpulkan data, namun hingga kini belum ada.

“Mereka bilang kalau mereka itu dari Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura dan bilang juga nanti anak-anak akan dibantu pakaian, buku, dan sepatu, nomor sepatu semua kami tulis dan nama sekolah juga kami tulis, tapi sampai sekarang kemana?” kata Tabuni.

Seorang pengungsi, Lesira Wonda, 26 tahun, perempuan dua anak, mengatakan sejak terjadinya banjir bandang Sentani hingga saat ini tidak ada biaya SPP yang dipungut sekolah terhadap anak-anaknya.

“Anak-anak mereka tidak bayar uang sekolah, hanya uang seragam saja itu yang saya bayar,” katanya.

Ibu dua anak ini, ia menyekolahkan anak-anaknya di SD Negeri Inpres Kemiri Sentani.

“Satu kelas tiga dan yang paling kecil kelas satu, waktu banjir itu mereka tidak dapat bantuan pakaian seragam dan fasilitas sekolah,” katanya.

Perempuan asal Kabupaten Puncak ini mengatakan ia juga menjadi korban banjir bandang yang sangat berat.

“Mereka cuma dapat seragam waktu Presiden datang kunjungi sekolah mereka, hanya itu saja, setelah itu tidak ada lagi,” katanya.

Ia berharap dinas terkait yang menangani bantuan bagi anak didik di Kabupaten Jayapura segera menyalurkan bantuan dengan rata.

“Mereka yang tidak korban dapat terus, tapi kami tidak, padahal saya punya anak-anak ini punya buku, seragam, sepatu dan tas semua hilang,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top