Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pengurus KPA Papua jangan buru-buru rekrut relawan

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tolikara, Arianto Kogoya – Jubi/Arjuna Pademme.

Papua No. 1 News Portal | Jubi 

Jayapura, Jubi – Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tolikara, Arianto Kogoya mengingatkan pengurus KPA Provinsi Papua bijaksana melaksanakan sejumlah program kerja agar tidak tumpang tindih dengan program kerja KPA di daerah, salah satunya dalam perekrutan relawan.

Ia mengatakan, mestinya KPA Papua mengundang pengurus KPA kabupaten (kota) dan mendengar barbagai tanggapan untuk mengetahui masalah di daerah, karena cara penanganan HIV/AIDS di setiap daerah berbeda-beda.

“Mestinya gelar rapat kerja (raker) dulu. Misalnya rencana perekrutan relawan, saya pikir itu terburu-buru,” kata Arianto Kogoya kepada Jubi, Senin (4/2/2019) malam.

Menurutnya, pengurus KPA provinsi baru dilantik, Desember 2018 lalu, sehingga sebiknya menunggu waktu yang tepat dan berdasarkan masalah di daerah barulah disimpulkan langkah apa yang akan diambil, misalnya merekrut relawan.

Mestinya kata Arianto Kogoya, terlebih dahulu dilakukan pemetaan masalah, dan disimpulkan seperti apa program yang akan dilaksanakan. Selain itu, perlu mempelajari program pengurus KPA sebelumnya, jika tidak sesuai barulah diubah. Jangan sampai terjadi tumpang tindih program dengan KPA di daerah, padahal pihak di daerah yang lebih tahu kondisi wilayahnya.

Katanya, beberapa waktu lalu Ketua KPA Papua menyatakan akan merekrut hingga 2.000 relawan untuk diturunkan ke setiap kabupaten (kota). Namun mesti diperjelas apa tugas para relawan itu nantinya.

Loading...
;

“Kalau misalnya diberikan honor dari dana hibah APBD, dan tak sesuai prosedur, bisa menjadi temuan. Relawan, mestinya bekerja untuk kemanusiaan, bukan karena faktor lain,” ucapnya.

Ia juga khawatir karena kriteria relawan, tidak jelas. Misalnya batas usia, pengalaman dan aspek lainnya.

Padahal tantangan di daerah cukup berat. Bukan hanya kondisi medan yang sulit, kultur budaya masyarakat setiap kabupaten berbeda-beda, sehingga yang mesti di tempatkan di setiap kabupaten adalah orang yang mengerti kondisi dan karakter penduduk di daerah itu, sehingga dapat melakukan pendekatan sesuai budaya, bahasa dan pola hidup masyarakat setempat.

“Misalnya di Tolikara, tidak mungkin orang dari Jayapura yang ke sana. Apalagi yang akan didekati adalah orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Mereka tidak akan terbuka pada semua orang,” ujarnya.

Ia berharap, pengurus KPA Papua dapat mempertimbangkan berbagai masukan dari sejumlah pihak, terutama KPA di daerah.

“Kami bukannya tidak mendukung pengurus KPA yang baru dan programnya. Namun harus ada pola yang benar, terstruktur dan terarah. Jangan sampai karena keliru, program sudah baik, ada anggaran, tapi hasilnya tidak sesuai yang diharapkan,” katanya.

Hal yang sama dikatakan Askin dari KPA Kota Jayapura. Menurutnya, secara umum, perekrutan atau memperbanyak relawan cukup bagus. Tapi harus melibatkan pihak dari daerah. Hal itu dianggap penting karena yang tahu peta wilayah setiap kabupaten (kota) adalah mereka yang berasal dari daerah itu.

Selain itu, relawan mesti berasal dari setiap daerah karena dia yang tahu kondisi daerah dan masyarakatnya, sehingga pendekatan kepada masyarakat di wilayah itu lebih menyentuh.

“Tapi secara program saya lihat cukup bagus untuk. Semakin banyak relawan, penanggulangan HIV/AIDS-nya lebih cepat,” ujar Askin.

Namun lanjutnya, harus digaris bawahi relawan bekerja sukarela tanpa upah. Karena bekerja untuk HIV/AIDS, merupakan pekerjaan kemanusiaan.

“Kalau sampai relawan kemudian digaji atau dapat honor, itu nantinya akan disoroti,” ucapnya.

Saat KPA Papua menggelar pertemuan akbar relawan di Kompleks Ekspo Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura Minggu (3/2/2019), Ketua KPA Papua, Yan Matuan mengatakan, ia telah melaporkan kepada Gubernur Papua, Lukas Enembe bahwa ada sebanyak 1.199 relawan yang siap bekerja.

“Gubernur minta untuk ditambah sampai 2.000. Kami buka kesempatan lagi sampai 3.000 orang,” kata Yan Matuan ketika itu. (*)

 

Editor  : Edho Sinaga

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top