Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Penyidik Polda Papua sedang melengkapi berkas tujuh tersangka makar

Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal – Jubi/Arjuna Pademme

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah atau Polda Papua, Komisaris Besar Ahmad Mustofa Kamal menyatakan penyidik Polda Papua sedang melengkapi berkas perkara ketujuh tersangka makar yang kini dititipkan kepada Polda Kalimantan Timur. Ia menyatakan pemindahan ketujuh tersangka itu tidak akan mempengaruhi prinsip keadilan dalam proses pemidanaan mereka.

Kamal menyatakan penyidik masih terus melengkapi berkas perkara ketujuh tersangka makar yang ditangkap pasca amuk massa yang terjadi di Kota Jayapura, Papua, pada 29 Agustus 2019 lalu. Ketujuh tersangka makar itu adalah Buchtar Tabuni, Agus Kossay, Steven Itlay, Alexander Gobai, Fery Kombo, Hengki Hilapok, dan Irwanus Uropmabin.

“Masih dilengkapi administrasinya. Kalau sudah tahap dua, kami akan informasikan. Nanti persidangannya di sana, [di Kalimantan Timur],” kata Kamal dalam keterangan persnya, Kamis (17/10/2019).

Ia meminta publik memahami alasan Polda Papua memindahkan lokasi penahanan ketujuh tersangka itu dari Jayapura ke Kalimantan Timur (Kaltim). Kamal menegaskan pemindahan itu didasarkan pertimbangan keamanan dan ketertiban masyarakat. Pemindahan itu dilakukan untuk menghindari munculnya potensi gangguan keamanan dalam proses penegakan hukum.

Loading...
;

“Penegakan hukum ini dengan maksud bagaimana diberlakukan seadil-adilnya sehingga keluarga korban, saksi, tersangka dan penegak hukum itu, tidak terintervensi. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa was-was,” ujarnya.

Kamal menyatakan analisis keamanan polisi menyimpulkan Kalimantan Timur adalah daerah yang paling aman untuk melanjutkan proses hukum terhadap ketujuh makar itu. “Kalau ke Jakarta terlalu jauh,” ucapnya.

Sementara itu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua, John NR Gobai mendesak polisi segera mengembalikan tujuh tersangka makar itu ke Papua. Salah satu alasannya karena pemindahan itu membuat publik di Papua kesulitan untuk mengikuti proses hukum ketujuh tersangka yang jauh dan harus dijangkau dengan biaya mahal.

“Akses yang jauh akan menyulitkan masyarakat Papua menyaksikan proses berlangsungnya persidangan para tersangka. Apakah benar-benar dilakukan secara adil atau tidak, dan apakah hak-hak para tersangka dapat dipenuhi,” kata Gobai.

Menurutnya, jika polisi khawatir terkait masalah keamanan dan lainnya jika para tersangka diproses di Papua, hal tersebut dapat dikomunikasikan dengan berbagai pihak agar tak ada upaya mengganggu proses persidangan. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top