HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Perajin lukisan kulit kayu di Kampung Asei

Masyarakat di Kampung Asei, Kabupaten Sentani, Papua sedang melukis – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Kampung Asei di Sentani, Kabupaten Jayapura terkenal sebagai perajin lukisan kulit kayu khas Papua. Turun-temurun mereka mempertahankan tradisi leluhur hingga membantu ekonomi keluarga.

Lukisan menggunakan media kulit kayu adalah kerajinan asli masyarakat Papua. Salah satu dilakukan penduduk Kampung Asei, Sentani, Kabupaten Jayapura.

Warga Asei mempunyai keahlian khusus yang berbeda dengan masyarakat Sentani lainnya. Mereka menggunakan kulit kayu ‘kombou’ sebagai media untuk mengekspresikan seni melukis.

Keterampilam melukis kulit kayu tersebut merupakan tradisi yang diajarkan turun-temurun sejak dari leluhur mereka dan tidak sembarangan orang bisa melakukannya.

Loading...
;

Lukisan kulit kayu yang tadinya digunakan untuk pribadi bagi, kini sudah menjadi salah satu sumber ekonomi banyak keluarga di Kampung Asei.

Albert Ohee, 34 tahun, adalah pria Kampung Asei yang menjadikan seni melukis berbahan dasar dari kulit kayu sebagai mata pencaharian tambahan.

“Melukis adalah hobi saya, dengan melukis ada kepuasan tersendiri bagi saya, sudah menjadi tradisi bagi warga di Kampung Asei harus bisa melukis, baik laki-laki maupun perempuan,” ujar Ohee, saat ditemui Jubi di Lapangan Mega Futsal Kotaraja, Sabtu, 25 Agustus 2019.

Ohee menceritakan bahwa lukisan dibuat sebagai simbol dan peringatan atas segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan di kampung tersebut.

Misalnya lukisan dengan motif tombak dan kail melambangkan sebagai mata pencarian utama warga sebagai nelayan.

Lalu, lukisan dengan motif karang melambangkan tempat perlindungan bagi leluhur Asei. Gambar dengan motif ikan melambangkan simbol bahan makanan utama. Ada juga lukisan sejumlah orang sedang menaiki perahu sambil membawa jaring, burung cenderawasih, dan alat musik pukul tifa.

“Dengan melukis saya bisa melestarikan budaya dengan menjaga keaslian dan nilai otentik dari lukisan, tapi memiliki nilai kesenian yang cukup tinggi yang bernilai ekonomis,” katanya.

Warna-warni tinta pada kulit kayu digoreskan dengan batang lidi dari daun kelapa, mayang kelapa (tunas), dan akar kayu, yang diperoleh di sekitar kampung. Cara ini dilakukan untuk mempertahankan guratan lukisan.

“Kalau sekarang saya pakai pewarnaan menggunakan cat air, dulu untuk melukis warga menggunakan warna alami seperti kapur, sari buah merah, dan arang, bahkan menggunakan ludah pinang,” katanya.

Lebih jauh, Ohee menceritakan, untuk mendapatkan kulit kayu kombou warga di Kampung Asei harus menembus hutan mencari bahan yang diinginkan. Setelah mendapatkan pohon yang diinginkan, ditebang kemudian diambil kulitnya, lalu diserut kulit bagian luarnya.

“Kemudian dipukul-pukul agar lebar, diremdam memakai air kemudian direntangkan di paku dan dijemur di bawah terik sinar matahari,” katanya.

Untuk satu lembar kulit kayu kombou bisa menghabiskan waktu tiga hari untuk prosesnya.

“Selain di kulit kayu, motif ikan, kerang, perahu, dan tombak juga biasa diaplikasikan menjadi ukiran di perahu khas Sentani,” katanya.

Warga Kampung Asei, kata Ohee, sudah bisa melukis sejak usia anak-anak karena sudah menjadi tradisi turun-temurun agar kelestarian lukisan kulit kayu tetap terjaga meski zaman berganti.

“Saya melukis sejak usia 14 tahun, dulu saya belajar sendiri, kadang juga saya melajar sambil melihat orang tua saya melukis, kalau menggambar, satu hari bisa dapat tiga lukisan kulit kayu, melukis membutuhkan konsentrasi dan ketelitian,” ujarnya.

Sebelum membuat pewarnaan, Ohee terlebih dulu membuat pola menggunakan pensil agar hasilnya seimbang dan bagus. Tapi ada juga warga yang langsung menggambar tanpa membuat pola.

Lukisan-lukisan kayu yang mereka buat sekarang dijual. Harga tergantung ukuran dan kerumitan pembuatan, mulai Rp100 ribu sampai Rp1 juta

“Saya biasa menjual per hari sampai lima lukisan,” katanya.

Dikatakan Ohee, indahnya lukisan kulit kayu warga Asei sudah banyak dikenal turis lokal maupun mancanegara untuk dijadikan oleh-oleh.

“Saya bersyukur dengan melukis bisa menambah pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya meneruskan pekerjaannya melukis.

Sama seperti Ohee, Jefry Nere, 41 tahun, menjadikan lukisan kulit kayu sebagai salah satu sumber pemasukan uang menambah kebutuhan keluarganya sehari-hari.

“Saya menggambar motif Sentani, Yoniki, satu kali gambar untuk satu lukisan bisa empat jam, satu hari bisa tiga lukisan, saya mulai melukis umur delapan tahun dengan belajar sendiri,” katanya.

Menurut Nere, untuk menjadi pelukis kulit kayu harus ditekuni dengan baik sehingga hasilnya maksimal. Tanpa harus terburu-buru dan tetap menjaga keaslian lukisan agar berniliai seni tinggi, mempertahankan budaya, tapi juga memenuhi ekonomi keluarga.

“Bagi saya melukis adalah hobi sekaligus melestarikan budaya karena sudah menjadi tradisi turun-temurun,” katanya.

Jika warga Asei tidak diajarkan melukis sejak anak-anak, kata Nere, maka tradisi seni melukis Kampung Asei yang sudah terkenal hingga mancanegara bisa hilang.

Ia mengatakan umumnya melukis dengan kulit kayu menggunakan warna alami, seperti warna merah diambil dari sari buah merah, hitam dari arang, dan putih dari kapur.

Namun, seiring perkembangan zaman makin modern, kini pewarnaan untuk melukis kulit kayu sudah menggunakan cat air. Meski begitu, teknik melukis kulit kayu di Kampung Asei tetap mempertahankan kualitas lukisan.

Selain itu kulit kayu kombou juga tetap dijaga tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis agar gampang dilukis.

Nere menjual lukisannya bervariasi dengan harga terendah Rp150 ribu.

“Sebagian besar kami membuat lukisan kulit kayu untuk kami jual, kalau untuk kehidupan sehari-hari kami menjaring ikan dan berkebun,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top