HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Perajin noken perlu dilibatkan dalam PON 2020

Mama-mama Papua saat memajang noken karyanya di depan auditorium Uncen Abepura, 4 Desember 2018 – Jubi/Timo Marten

Papua No. 1 News Portal | Jubi

” Pengunjung atau peserta PON nanti diajak untuk mengunjungi museum yang berlokasi di Taman Budaya Expo-Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura itu, dan membeli cenderamata noken dari mama-mama Papua”

Direktur Yayasan Ekologi Papua Titus Krist Pekei mengatakan mama-mama Papua sebagai perajin noken harus dilibatkan dalam menyukseskan PON ke-20 tahun 2020 di Tanah Papua. Karya-karya mereka harus dipusatkan di salah satu tempat dan dijadikan pusat noken.

Tempat itu bakal dijadikan objek wisata budaya dan art shop atau toko souvenir khsus noken. Museum noken merupakan tempat yang represetatif untuk memasarkan cenderamata noken Papua.

Pada hari ulang tahun ke-6 di halaman Majelis Rakyat Papua (MRP), Wakil Ketua MRP Jimmy Mabel, dalam sambutan, kata Titus, menegaskan pentingnya melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan noken sebagai warisan budaya orang Papua.

Loading...
;

Noken sebagai warisan leluhur orang Papua yang sudah diakui dunia melalui UNESCO. Maka pelestarian dan pengembagannya merupakan tanggung jawab bersama.

“Intinya saling menghargai dalam pengembangan,” kata Titus Pekei kepada Jubi di Jayapura, Selasa, 16 Juli 2019.

Penggagas noken ke UNESCO ini pun mengajak semua orang Papua untuk menanam pohon sebagai bahan baku pembuatan noken dari kulit kayu. Tanah-tanah kosong, pekarangan rumah, atau dimana pun harus ditanami pohon, dengan semangat “satu orang satu pohon”.

Penanaman pohon merupakan bentuk pelestarian lingkungan dan alam Papua serta demi kemudahan mendapatkan bahan baku noken.

“Dengan hidupkan semangat ‘Gerakan Cinta Noken Warisan Budaya Dunia Khas Papua’. Untuk menyambut PON XX tahun 2020 jangan lewatkan mama-mama perajin noken dari tujuh wilayah adat Papua,” katanya.

Dengan melibatkan mama-mama Papua menyukseskan PON 2020, museum noken perlu difungsikan. Museum noken hendaknya dipergunakan untuk menjual kerajinan noken hasil karya mama-mama Papua.

Pengunjung atau peserta PON nanti diajak untuk mengunjungi museum yang berlokasi di Taman Budaya Expo-Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura itu, dan membeli cenderamata noken dari mama-mama Papua.

“Supaya bagi mereka (pegunjung) mudah mengetahui tentang noken. Juga sebagai tempat promosinya di museum noken sekalipun terbatas, kita terus dorong ke depan,” kata Titus Pekei.

Titus Pekei juga menyebutkan bahwa Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Papua harus mengakomodir mama-mama Papua dengan merajut noken bertuliskan PON XX 2020.

Senada dikatakan peneliti dari Balai Arkeologi Papua Hari Suroto. Menurut Hari, noken sudah menjadi bagian hidup sehari-hari masyarakat Papua. Oleh karenanya, sudah selayaknya dibuat tugu noken UNESCO di Tanah Papua, terutama daerah Meepago.

“Noken telah diakui sebagai warisan dunia UNESCO. Namun hingga kini, belum ada tugu atau monumen peringatan, sebagai tanda bahwa noken sudah diakui UNESCO,” ujar Suroto.

Monumen noken, menurutnya, dapat didirikan di salah satu kabupaten di wilayah Meepago. Lokasi monumen ini harus berada di tempat strategis, tempat yang mudah diakses publik. Monumen ini, selain menjadi ikon daerah, juga diharapkan akan menjadi destinasi wisata baru.

“Tentu saja bentuk monumen harus mencirikan khas Meepago, untuk itu, sebelum pembangunannya, terlebih dahulu dilombakan desainnya, desain monumen noken yang terpilih, akan jadi pemenang,” katanya.

“Pembangunan monumen noken ini, dalam pendanaan dapat melibatkan BUMN maupun BUMD melalui dana CSR-nya,” lanjutnya.

Menurut dia, noken telah menjadi oleh-oleh wajib bagi siapapun yang berkunjung ke Papua. Bahkan noken sudah diwajibkan dipakai oleh ASN pada hari-hari tertentu di lingkungan beberapa kabupaten/kota di Papua.

“Dari noken, mama-mama pengrajin bisa menyekolahkan anak-anak mereka,” ujarya.

Aktivitas merajut noken oleh mama-mama tampak terlihat di Enarotali, Moanemani, Deyai, Nabire, sambil menunggu dagangan di pasar atau di saat senggang di rumah, atau saat beristirahat di kebun. Di Nabire, mereka berjualan di tepi jalan. Butuh perjuangan dalam berjualan ini, setiap saat kena debu kendaraan, terkena terik matahari, dan segera berkemas saat mulai mendung.

Sedangkan di Kota Jayapura dapat dijumpai di beberapa lokasi, seperti Abepura dan pusat kota Jayapura.

“Untuk itu perlu disediakan tempat khusus yang representatif bagi mama-mama Papua berjualan noken. Jika perlu disediakan pasar khusus untuk noken atau disediakan los pasar khusus noken di pasar umum,” katanya.

Dinas-dinas terkait juga perlu memberikan pelatihan pemasaran noken melalui sistem daring, di saat perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat, untuk hal ini maka perlu melibatkan BUMN atau BUMD melalui dana CSR-nya. (*)

Editor: Angela Flassy

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top