Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Peran orangtua dalam meningkatkan pendidikan karakter bangsa

Ilustrasi, kegiatan belajar mengajar di sebuah sekolah di Merauke – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Yakob Yanggu

Pendidikan berperan penting dalam membangun SDM suatu bangsa dan meningkatkan karakter, kecerdasan, dan kepribadian yang lebih berkompeten. Oleh karena itu, pendidikan secara berkesinambungan dibangun dan dikembangkan proses implementasinya untuk menghasilkan generasi yang berkualitas.

Begitu juga dengan pendidikan negeri ini, bangsa Indonesia tidak ingin menjadi bangsa yang terbelakang, khususnya di rumah dan sekolah-sekolah, kabupaten/kota di Papua dan Papua Barat, dalam menghadapi kompetisi global.

Pada era revolusi industri 4.0, harus ada peningkatan SDM yang cerdas, berkompetensi, terampil, mandiri, dan berakhlak mulia, yang terus diupayakan melalui proses pendidikan, yakni pendidikan karakter.

Pendidikan karakter sudah tercermin dalam UU Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Loading...
;

Pendidikan karakter merupakan salah satu upaya tepat bagaimana memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Gagasan ini muncul karena proses pendidikan selama ini dinilai belum maksimal dalam membangun manusia Indonesia yang berkarakter.

Penilaian ini didasarkan pada banyaknya lulusan yang cerdas secara intelektual, tapi tidak bermental tangguh dan berperilaku tidak sesuai dengan tujuan mulia pendidikan nasional, misalnya, tindakan pidana korupsi (yang) ternyata dilakukan oleh orang-orang berpendidikan, dan tingginya kekerasan dan perilaku penyimpangan moral remaja yang meresahkan masyarakat.

Komnas Perlindungan Anak merilis jumlah tawuran pelajar tahun 2011 sebanyak 339 kasus dan mengorbankan 82 orang. Jumlah tawuran antarpelajar sebanyak 128 kasus pada 2010. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menyebutkan pengaduan kekerasan kepada anak sebanyak 107 kasus, dengan bentuk kekerasan, seperti, kekerasan fisik dan psikis, pembunuhan dan penganiayaan.

Jajak pendapat Kompas (Oktober 2011), dengan responden di 12 kota di Indonesia, diketahui 17,5% responden mengakui saat SMA sekolahnya pernah terlibat tawuran antarpelajar. Banyak pula responden (keluarga responden) yang mengaku pada masa sekolah terlibat tawuran (perkelahian massal) antarpelajar. Jumlahnya mencapai 66% atau sekitar 29 responden. (htt://komnaspa.or.id/Komnaspa Artikel.html, diunduh 1 Agustus 2012).

Kemajuan suatu bangsa sangat erat kaitannya dengan akhlak dan moral warganya, sebagaimana dikemukakan Lickono (1991:13-18). Ada 10 tanda-tanda zaman yang harus diwaspadai. Jika tanda-tanda itu sudah ada, berarti sebuah bangsa menuju kehancuran.

Tanda-tanda yang dimaksud adalah violence and vandalism; stealing; cheating; disresfect for authority; peer cruelty; bigotry; Bad language; sexual precocity and abuse; increasing self and centeredness an declining civic responsibility; dan self destructive behavior.

Saat ini arus globalisasi sudah mencapai pelosok tanah air. Kemajuan sangat pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dampak negatifnya adalah internet dan medsos yang sangat populer; dengan mudah dan waktu yang sesingkat mungkin, untuk membagi informasi baik dan buruk. Ada juga dampak negatif yang dipengaruhi oleh masuknya nilai-nilai asing yang bertentangan dengan hukum/budaya bangsa yang dapat merusak nilai-nilai moral masyarakat.

Di kalangan generasi muda khususnya akan melemahkan konsep jati diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini tercermin dalam sikap, perilaku, dan mentalitas, seperti menurunnya toleransi dan tenggang rasa, meningkatnya perilaku-perilaku bermasalah (penyalahgunaan substansi psikoaktif, narkoba, seks bebas, miras, dan pemanfaatan waktu luang yang tidak efektif).

Pendidikan bukan hanya mendidik peserta didik agar menjadi manusia yang cerdas, tetapi juga membangun kepribadiannya agar berakhlak mulia. Salah satu tujuan pendidikan di SD adalah mengembangkan pendidikan karakter peserta didik yang dapat dicapai melalui pengembangan dan penerapan kurikulum 2013 (K-13) yang mengacu pada Sistem Pendidikan Nasional (SPN).

Nilai-nilai karakter secara jelas dijabarkan dalam SPN, Standar Kompetensi Lulusan dan materi yang harus disampaikan, dikuasai, serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Pusat Kurikulum Kemendiknas (2010: 8-10) menetapkan 18 nilai karakter yang bisa dikembangkan di sekolah: religius (keagamaan), jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Pendidikan karakter harus diterapkan di sekolah melalui ajaran agama/kepercayaan yang dianut masing-masing siswa. Para guru harus menyesuaikan pola dan cara pendidikan karakter sesuai dengan pedoman yang telah dibuat oleh pemerintah. Hal ini membuat sebagian guru mengalami kesulitan, khususnya dalam mengintegrasikannya dalam mata pelajaran melalui silabus dan RPP, bahkan menggunakan media pembelajaran lainnya.

Lembaga pendidikan di Indonesia, TK sampai SMA/SMK dalam mengembangkan pendidikan karakter belum terprogram secara terintegrasi dengan mata pelajaran. Kurangnya sosialisasi Dinas P dan P kepada guru dan orangtua siswa untuk memahami bagaimana strategi pengembangan dan penerapan pendidikan karakter, sehingga terlihat guru dalam menerapkan pendidikan karakter, yang sesuai dengan pengetahuan dan pemahaman masing-masing.

Peran orangtua dalam mengimplementasikan pendidikan karakter di rumah dan memotivasi belajar, baik informal, maupun nonformal yang baik dapat menunjang sekolah dalam mengembangkan pendidikan karakter siswa.

Kurangnya peran orangtua dalam membentuk karakter anak disebabkan oleh kesibukan dan pekerjaan orangtua, sehingga tingkat perhatian dan kepedulian terhadap pendidikan karakter di rumah belum optimal. Orangtua menganggap bahwa pendidikan secara keseluruhan diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Padahal pendidikan adalah tanggung jawab semua pihak; keluarga, masyarakat, stakeholder pemerhati dan sekolah.

Peran orangtua dalam meningkatkan pendidikan karakter dan mengatasi kenakalan remaja

Pertama, orangtua berperan sebagai partner. Di sini orangtua bisa berperan sebagai teman–orang yang harus ada di sisi mereka, selalu bertanya tentang keseharian remaja tersebut dan senantiasa memberi solusi dalam kesulitan dan menghibur dikala sedih.

Kehadiran orangtua sebagai teman membuat remaja merasa tenang dan bahagia, juga mencegah kenakalan remaja yang dipicu oleh konflik-konflik/masalah sosial, baik yang timbul dari dirinya sendiri, maupun dari lingkungan sekitarnya;

Kedua, orangtua berperan sebagai pendidik. Tidak hanya diberikan pendidikan melalui lembaga-lembaga formal seperti sekolah. Dalam menghadapi masalah kenakalan remaja orangtua harus juga memberikan pendidikan dalam rumah tangga, seperti memberikan pandangan/nasihat/masukan;

Ketiga, orangtua sebagai pemantau. Setelah melakukan kenakalan, remaja tersebut masih bisa direhabilitasi–orangtua memberikan motivasi/dorongan terus-menerus kepada remaja, agar kembali ke jalan yang benar, tidak boleh dengan kekerasan/paksaan, melainkan dengan cara lemah-lembut.

Orangtua memberikan dorongan/motivasi agar anak remaja tersebut tetap dalam keadaan yang baik dan tidak melakukan kenakalan dalam bentuk apapun.

Kejahatan remaja menurut Kartini Kartono, merupakan gejala penyimpangan dan patologis secara sosial itu dapat juga dikelompokkan dan mempunyai sebab-musabab yang majemuk. Dengan menggunakan pemikiran para ilmuwan yang digolongkan dalam empat teori; biologis, psikologis, sosiologis, dan teori subculture (Siti Rahayu Haditono, 2009).

Sebagai solusi yang tepat para orangtua perlu meningkatkan implementasi pendidikan informal dalam keluarga, yang sesuai dengan norma-norma/ajaran agama masing-masing kepada anak-anak remaja, dan fungsi kontrol orangtua harus efektif dan efisien. Hal-hal seperti ini dapat mengatasi kenakalan remaja. (*)

Penulis adalah mahasiswa program pascasarjana MMP Universitas Cenderawasih

Editor: Timo Marten

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top