Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Peranakan China Melanesia di Pasifik Selatan

 

Sir Julius Chan dan cucu serta anaknya Byron Chan – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Tij Chung adalah seorang aktivis lingkungan peranakan China Melanesia dari Fiji. Chung menuturkan orang tuanya sudah lama berukim dan tinggal di Suva ibukota Fiji. Bahkan mamanya juga adalah perempuan asli Melanesia dari Fiji sehingga kebudayaan dan kebiasaan orang-orang Melanesia di sana sudah tak asing lagi baginya.

Aktivis lingkungan hidup yang pernah bergabung bersama Green Peace Australia ini kepada Jubi mengaku kalau saudara-saudaranya dari kampung datang mereka biasa mengambil apa saja yang dipunyai mereka.

“Itu sudah jadi adat kita orang Fiji, kalau om atau paman datang pasti mereka mendapat perhatian dari keponakan maupun saudara perempuan mereka,” kata Tij Chung, kepada Jubi beberapa waktu lalu di Singapura.

Loading...
;

Tij Chung, PhD saat ini sedang bekerja di United Nations Environmental di Paris, mengaku orang-orang China sudah lama tinggal dan bermukim di Fiji hingga sekarang. Ia besar di Suva, ibukota negara Fiji, dan melanjutkan pendidikannya di Australia dan Perancis.

Sebenarnya bukan hanya di Fiji saja terdapat peranakan China Melanesia atau Chimel, sebab di Papua New Guinea juga pernah punya Perdana Menteri berdarah China. Nama Perdana Menteri itu ialah Sir Julius Chan.

Orang penting peranakan China Melanesia di Pasifik Selatan mungkin hanya Sir Julius Chan adalah Perdana Menteri Papua Nugini dari 1980 sampai 1982 dan dari 1994 sampai 1997. Politisi senior kelahiran Kepulauan Tanga, Provinsi New Ireland 29 Agustus 1939 ini masih menjadi anggota parlemen dan merupakan Gubernur Provinsi New Ireland.

Kepada ABC news, Sir Julius Chan mengaku lahir dari pasanga dari pasangan Chin Pak (陳柏), seorang pedagang dari TaishanChina. Ibu Sir Julius, Miriam Tinkoris, adalah seorang Papua Nugini asli dengan enam anak, termasuk seorang bayi. Tetapi sebagai istri Chin Pak, ia dan semua anaknya juga digolongkan sebagai orang luar.

Ia pertama kali aktif terlibat dalam politik pada 1960an. Ia terpilih untuk mewakili distrik Namatanai, provinsi New Ireland dalam Majelis Nasional pra-kemerdekaan pada 1972 dan terpilih kembali pada 1977, 1982, 1987, dan 1992. Ia menjadi Deputi Perdana Menteri sebanyak empat kali (1976, 1985, 1986, 1992-1994), dan Menteri Keuangan sebanyak dua kali (1972–1977, 1992–1994). Ia juga memegang portofolio Industri Primer (1976) dan Urusan Eksternal dan Perdagangan (1994).

Putera kandung Sir Julius Chan, yaitu Byron Chan juga mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang politisi dan pernah menjadi anggota parlemen di Port Moresby. Selain itu ada pula Robert Seeto yang pernah menjadi Gubernur Irlandia Baru di Papua Nugini.

Perancis di Papua dan Papua Barat

Sir Julius Chan dan buku berjudul Game – Jubi/IST

Peranakan China Melanesia juga tinggal dan berdomisili di Provinsi Papua dan Papua Barat. Mereka sudah lama hidup dan menyatu dengan orang-orang asli di Kepulauan Yapen maupun Biak dan Teluk Wondama.

Tak heran kalau kehadiran keturunan Tionghoa di Papua biasanya akrab dipanggil dengan istilah Prancis atau Peranakan China-Serui. Komunitas Prancis memang lebih banyak dibandingkan keturunan Tionghoa di kabupaten lainnya di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Keturunan Tionghoa-Papua, hampir merata di daerah persisir Bumi Cenderawasih. Mulai dari Sorong, Fakfak, Raja Ampat, Kaimana, Wondama, Teluk Bintuni, kemudian ke arah Kepulauan Yapen, Waropen, Jayapura, Biak Numfor, dan Merauke. Marga Tionghoa yang lazim ditemui adalah Tan, The, Oei, Soe, Yo, Sie, Goan, Thung, Chung, Cheng, Chi, dan Bong.

Namun ada pula memakai marga dari ibu kandung mereka, misalnya Benny Betay pemain bass Black Brother dari marga Tan. Atau Tony Betay mantan striker PSBS Biak juga berasal dari marga Tan. Sedangkan marga Raweyai berasal dari marga Thung, keluarga Chung biasanya memakai marga Erari.

Dikutip dari Wikipedia.org menyebutkan ditemukannya jejak kapak neolitik dengan teknik penggurdian yang hanya dikembangkan di Tiongkok (Kebudayaan Yang Shao), tersebarnya perunggu dongson, manik-manik, gelang kaca, serta keramik di beberapa penjuru Papua yang disinyalir berumur hampir 2000 tahun yang lalu. Masa ini akhirnya dicatat para arkeolog sebagai masa permulaan perdagangan rempah dunia.

Selain mencari rempah sebagai bumbu dapur dan obat-obatan, para pedagang Tiongkok datang ke kepulauan Maluku dan Papua untuk mendapatkan teripang, mutiara, kerang, kulit kayu masoi, cendana, gaharu, dan lain-lain. Sebagai gantinya, mereka memperkenalkan besi, perunggu, keramik, pisau, dan kain. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top