HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pergeseran nilai perang di Lapago dan Meepago

Penampilan mahasiswa dari wilayah adat La-pago dan Mee-pago di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah, 3 Mei 2019 – Jubi/Dok. Penulis

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jika zaman dahulu perang antarsuku dihentikan oleh orang yang netral, kini sudah jauh beda. Zaman sekarang perang dihentikan oleh pihak keamanan (polisi). Jika perang masih berlanjut, maka pihak pemerintah daerah juga turut turun tangan untuk menghentikan dan menyelesaikan perang tersebut Oleh: Imanuel H. Mimin, Magel Kobak, dan Gasper Tabuni

Artikel ini ditulis sesuai dengan apa yang sering terjadi di Tanah Papua, khususnya di wilayah adat La-pago dan Mee-pago. Kejadiannya dipentaskan melalui drama dalam pentas seni budaya Papua 7 wilayah di Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah, 3 Mei 2019.

Artikel ini membahas tentang pergeseran nilai perang dalam drama yang dipentaskan tadi. Dalam drama tersebut diceritakan perbedaan pemicu peperangan, perbedaan aturan perang dan perbedaan proses perdamaian pada zaman dahulu dengan zaman sekarang (modern), baik sebelum dan sesudah terkontaminasi dengan sistem pemerintahan, keamanan (polisi/tentara), maupun gereja atau injil.

Di dua wilayah tersebut, seperti dalam drama itu, hanya suku Lani dan Amungme yang memiliki budaya perang. Tidak semua suku di wilayah adat La-pago dan Mee-pago mempunyai budaya perang.

Loading...
;

Pemicu terjadinya perang

Pemicu perang dikategorikan menurut masanya, yaitu masa lamapu dan zaman sekarang.

Zaman dahulu

Pada umumnya definisi perang zaman dahulu sejatinya secara adat ialah mekanisme mencari keseimbangan. Tempat mencari pembenaran; antara benar dan salah. Namun definisi perang secara luas, yaitu seni, cara merebut, semangat/spirit, dan demokrasi dalam keberlangsungan hidup mereka.

Perang yang terjadi di masa lampau biasanya hanya karena perebutan batas wilayah, perempuan, dan ego kepemimpinan (ego dalam memimpin suku). Pada zaman dahulu yang lebih dominan menjadi penyebab terjadi perang yaitu karena batas wilayah. Perebutan wilayah menyebabkan pembunuhan.

Pembunuhan adalah pemicu terjadi sebuah peperangan. Contohnya  suku Lani membuka lahan perkebunan melewati batas wilayah sampai pada wilayah adat suku yang lain secara sengaja maupun tidak sengaja, tetap akan menimbulkan pertengkaran karena sudah melewati batas wilayah. Dari pertengkaran itu, terjadilah pembunuhan.

Dari situlah penyebab terjadi perang antarsuku dan perang itu pun harus ada persetujuan dari kepala suku dan panglima perangnya. Tidak hanya membuka lahan perkebunan saja, tetapi juga berburu melewati batas wilayah pun, menjadi suatu hal yang bisa menimbulkan peperangan antarsuku.

Setelah peperangan, pasti ada perdamaian. Proses perdamaian pada zaman dahulu biasanya ada sosok orang netral, orang yang pembawa kedamaian, orang yang suci dan tidak punya masalah dengan siapa pun. Kehadirannya tidak lain hanya untuk mendamaikan dan menghentikan perang. Orang ini yang biasa disebut sebagai “Nduma” dalam bahasa suku Lani atau “Meki” dalam bahasa suku Amungme. Sosok orang netral ini yang dapat menyelesaikan masalah secara adat dan kekeluargaan.

Ketika perang berhasil dihentikan, maka kedua suku yang tadinya berperang akan saling memaafkan satu dengan yang lainnya. Kemudian dilanjutkan dengan acara bakar batu dan makan bersama.

Dalam proses makan bersama dilakukan pemotongan daging babi atau wam/boe (dalam bahasa suku Lani dan suku Amungme) oleh kedua kepala suku yang bertikai. Setelah itu makanan hasil bakar batu akan dibagikan kepada seluruh pasukan perang atau semua orang yang hadir saat peperangan berakhir. Itu sebagai tanda bahwa perang telah berakhir, dan perdamaian.

Zaman modern

Pada zaman dahulu, perang adalah suatu hal yang sakral, dalam artian, bahwa perang tidak sembarangan terjadi. Ada aturan-aturan dalam berperang dan juga ada pengatur perang. Golongan mereka ini disebut Aap Nggok (Inogobanak) dalam bahasa suku Lani. Aap Nggok adalah orang-orang yang khusus mengatur suatu peperangan. Tetapi berbanding terbalik dengan zaman sekarang.

Zaman sekarang perang antarsuku kapan saja dan dimana saja bisa terjadi. Perang bukan lagi hal yang sakral dan bukan lagi hal yang masih dijaga nilai-nilainya.

Hingga kini pemicu permasalahan perang yang sering terjadi sudah berbeda jauh dengan zaman dahulu. Belakangan ini perang terjadi karena permasalahan perempuan, politik, kursi/jabatan, pangkat atau kekuasaan (kepentingan individu), yang bersifat individualis dan mengorbankan banyak orang, baik kelompok, marga, klan ataupun suatu komunitas.

Ada juga perang yang sudah direncanakan (perang berencana), entah kepentingan-kepentingan tertentu, yang pada akhirnya juga mengorbankan orang-orang tidak bersalah. Perang berencana biasanya sudah ditentukan tanggal, waktu, dan tempat untuk berperang.

Jika zaman dahulu perang antarsuku dihentikan oleh orang yang netral, kini sudah jauh beda. Zaman sekarang perang dihentikan oleh pihak keamanan (polisi). Jika perang masih berlanjut, maka pihak pemerintah daerah juga turut turun tangan untuk menghentikan dan menyelesaikan perang tersebut.

Agar dapat menyelesaikan perang yang terjadi biasanya pihak pemerintah menawarkan pembayaran uang kepala, sebagai gantinya terhadap kedua pihak/kedua suku yang bertikai (berperang). Jika korban belum seimbang dan pembayaran uang kepala tidak sesuai, maka kedua suku tidak akan mau berdamai, dalam artian bahwa perang akan terus berlanjut sampai korban harus sama atau seimbang.

Pihak pemerintah akan memperbolehkan perang itu berlanjut sesuai keinginan kedua suku. Sampai pada akhirnya pihak pemerintah akan kembali bersama-sama dengan pihak keamanan untuk menghentikan peperangan tersebut. Dalam kesempatan itu, pihak pemerintah akan menawarkan pembayaran uang kepala sebagai gantinya agar kedua kubu/kedua suku bisa berhenti berperang.

Setelah pembayaran uang kepala, bila kedua pihak atau kedua suku menerima pembayaran uang kepala itu, maka perang berhenti dan masing-masing suku mendapatkan uang pembayaran kepala dari pemerintah. Biasanya di kisaran Rp 100 juta sampai Rp 200 juta per kepala.

Uang yang diberikan oleh pemerintah sebagai uang pembayaran kepala akan dibagikan oleh kepala suku kepada kepala perang, dan semua orang yang berperan dalam perang tersebut.

Pada umumnya semua suku di Papua, bukanlah suku yang mempunyai budaya perang. Dari sekitar 466 suku, hanya beberapa suku yang mempunyai budaya perang.

Papua adalah tanah damai dan tanah yang diberkati. Tanah yang kaya akan sumber daya alam dan budayanya. Maka dari itu, mari kita sama-sama menjaga dan mengelola anugerah Tuhan ini, dan melestarikan budaya sebagai eksistensi, identitas dan jati diri kita sebagai manusia ciptaan Tuhan. (*)

Penulis adalah mahasiswa Papua asal Meepago dan Lapago di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah

Editor: Timo Marthen

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top