Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pernyataan Solidaritas internasional dan desakan bagi Pemerintah Indonesia terkait penyempitan ruang kebebasan berekspresi

Para pengunjukrasa di depan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne, Victoria, Australia, Jumat (23/8/2019) membawa sejumlah topeng monyet yang mereka kenakan sebagai ungkapan solidaritas terhadap para mahasiswa Papua yang dimaki ‘monyet’ oleh aparat keamanan dan organisasi kemasyarakatan di Surabaya pada Jumat (16/8/2019) lalu. – Josh

Papua No. 1 News Portal | Jubi

”Free the Political Prisoners!Free the Papuan 5 and Surya Anta!”.

Kebebasan berekspresi dan berpendapat di Indonesia kembali tercoreng akibat penangkapan terhadap sejumlah aktivis pro demokrasi. Sabtu malam, 31 Agustus 2019, Juru Bicara Front Rakyat Indonesia untuk West Papua Surya Anta ditangkap sekelompok polisi di Plaza Indonesia, Jakarta.

Pada malam yang sama, polisi dan tentara menggerebek serta menangkap tiga mahasiswi Papua—Naliana Wasiangge, Ariana Lokbere, dan Norince Kogoya—di asrama mahasiswa asal Kabupaten Nduga di Jakarta. Penangkapan terhadap tiga mahasiswi tersebut tidak disertai surat perintah penangkapan. Polisi bahkan mengancam penghuni asrama lainnya supaya tidak mengambil gambar atau merekam video pemukulan terhadap seorang mahasiswi yang meronta. Surya dan tiga mahasiswi itu dibawa ke Polda Metro Jaya.

Sehari sebelumnya, 30 Agustus 2019, polisi menangkap dua mahasiswa Papua di sebuah asrama di Depok, salah satu kota satelit di selatan Jakarta. Polisi mendobrak pintu dan menodongkan pistol ke arah mahasiswa. Charles Kossay dan Dano Tabuni kemudian dibawa ke markas Polda Metro Jaya. Pada malam yang sama, sejumlah mahasiswa Papua mendatangi Polda Metro Jaya sebagai bentuk solidaritas terhadap dua mahasiswa tersebut. Namun dua dari sejumlah mahasiswa yang bersolidaritas, Ambrosius M dan Issay Wenda, turut ditangkap dan ditahan keesokan harinya, 31 Agustus 2019.

Loading...
;

Penangkapan mereka disinyalir akibat demonstrasi damai Aliansi Mahasiswa Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme, Imperialisme, dan Militerisme, di Mabes TNI-AD dan Istana Negara, Jakarta, 28 Agustus 2019. Dalam demonstrasi tersebut, mereka mengecam tindakan diskriminasi rasialis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, 16-17 Agustus 2019, dan menuntut hak penentuan nasib sendiri bagi West Papua sebagai jalan keluar dari segala diskriminasi rasial. Beberapa demonstran mengibarkan bendera Bintang Kejora sebagai ekspresi politik atas apa yang telah terjadi di Surabaya dan sebagai tuntutan kebebasan berekspresi di Papua.

Kepolisian Indonesia menilai pengibaran Bintang Kejora dan orasi-orasi yang menuntut hak penentuan nasib sendiri sebagai tindakan makar. Karenanya mereka menangkapi dan memburu demonstran yang berorasi serta demonstran yang termasuk dalam struktur demonstrasi.

Tanggal 1 September 2019 dini hari, delapan orang tersebut kemudian dipindah ke Markas Komando Brigade Mobil, satuan elit kepolisian Indonesia, di Depok. Mereka ditahan dan diperiksa di sana. Polisi sempat menghalang-halangi akses bantuan hukum dengan cara pura-pura terjadi miskoordinasi dan menunda-nunda koordinasi/pertemuan antara kuasa hukum dan pimpinan kepolisian untuk mendapat informasi dan perkembangan pemeriksaan serta tentang akses bantuan hukum.

Kemudian diketahui bahwa Surya ditangkap karena ada laporan dari milisi sipil reaksioner Laskar Merah Putih.
Malam 1 September 2019, dua mahasiswi Papua dilepas karena dianggap salah tangkap. Enam orang sisanya, termasuk Surya Anta, ditetapkan sebagai tersangka tindakan makar dan dijerat pasal 106 dan 110.

Upaya pembungkaman kebebasan berpendapat dan berekspresi tidak berhenti sampai di sana. Rabu, 4 September 2019, Veronica Koman, pengacara hak asasi manusia yang biasa membela hak-hak gerakan sosial Papua, ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Jawa Timur. Aktivitasnya menyebarkan informasi-informasi melalui Twitter tentang apa yang terjadi dan dialami rakyat Papua, baik di Tanah Papua maupun di luar Papua, dianggap polisi sebagai provokasi dan makar. Menurut humas Polda Jatim, kepolisian akan bekerja sama dengan BIN dan Interpol untuk memburu Veronica yang kini tengah berada di luar negeri.

Apa yang terjadi pada Surya dan lima mahasiswa Papua, juga pada Veronica Koman dan sejumlah warga Papua yang melakukan demonstrasi damai, telah mengancam masa depan demokrasi di Indonesia. Khususnya terkait kebebasan berekspresi dan berpendapat. Konstitusi Indonesia yang menjamin kemerdekaan berpendapat berekspresi, telah dilanggar oleh pemerintahannya sendiri. Pemerintah juga telah melanggar Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik yang telah diratifikasi menjadi undang-undang No. 12 tahun 2005.

Dengan ini, kami menyatakan:

1. Bersolidaritas pada Surya Anta dan kawan-kawan mahasiswa Papua yang ditahan dan mereka yang kebebasan berekspresinya diberangus oleh Kepolisian Republik Indonesia.

2. Mengecam keras tindak penahanan dan perburuan terhadap rakyat, siapa pun, yang menyampaikan aspirasi politik dan sosialnya secara damai dan demokratis.

3. Menuntut Pemerintah Republik Indonesia untuk segera membebaskan kelima aktivis mahasiswa Papua (Ambros Mulait, Ariana Lokbere, Issay Wenda, Dano Tabuni, Charles Kossay) yang ditahan dan juga Surya Anta, serta benar-benar menghormati, menjamin, dan melindungi kebebasan berekspresi dan berpendapat di Indonesia.

 

Bumi Manusia, 6 September 2019

Tertanda,

Solidaritas Internasional untuk Demokrasi di Indonesia

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top