Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Perspektif negatif negara barat atas kava perlu diubah

Australia hanya memperbolehkan pengunjung untuk membawa dua kilogram kava per orang. – The Conversation/Todd Henry, CC BY-ND

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Apo Aporosa

Pemerintah Australia saat ini sedang mempertimbangkan, apakah mereka akan menaikkan jumlah kava yang dapat dibawa wisatawan masuk ke negara itu. Proses konsultasi yang dilakukan termasuk dimulainya program percobaan atau pilot program, untuk mengurangi batasan impor kava untuk penggunaan pribadi, dari dua kilogram menjadi empat kilogram per orang.

Banyak penduduk di Australia, terutama mereka yang memiliki darah Kepulauan Pasifik, akan menyambut baik perubahan seperti ini. Tetapi proposal tersebut didasarkan pada bukti-bukti yang tidak benar.

Dalam pengajuan tertulisnya ke badan pengawasan obat-obatan, Office of Drug Control, Australia, pemerintah Fiji dan Vanuatu percaya bahwa Australia harus setuju, untuk menaikkan jumlah kava yang dibawa menjadi bisa jauh lebih tinggi.

Loading...
;

Pembatasan impor kava di Australia awalnya diberlakukan karena kekhawatiran akan penyalahgunaannya di komunitas-komunitas terpencil. Namun, kebijakan pemerintah ini kebijakan yang imperialistis dan cenderung menyepelekan bukti-bukti yang ada tentang konsumsi kava, efek samping, dan makna budayanya.

Kava: aspek sosial

Tanaman kava (Piper methysticum) banyak dibudidayakan oleh masyarakat Kepulauan Pasifik untuk akarnya, yang dapat dihaluskan menjadi bubuk dan dicampur dengan air, untuk meracik minuman kava, yang digunakan untuk upacara-upacara adat dan dalam konteks budaya lainnya.

Kava mengandung kavalakton, bahan psikoaktif yang menyebabkan penikmatnya untuk merasa lebih santai, tanpa mempengaruhi pemikiran. Tidak seperti minuman beralkohol, kava tidak menyebabkan euforia yang berlebihan atau menyebabkan perubahan secara emosional. Ia juga tidak membuat ketagihan.

Saat ini banyak komunitas Kepulauan Pasifik yang memproduksi akar kava dalam bentuk bubuk, dan lalu diekspor untuk keperluan medis dan sosial di seluruh dunia.

Secara khusus, peraturan Australia atas kava dimulai pada 1997, ketika jumlah 2 kilogram ditetapkan sebagai batas maksimum bubuk kava yang bisa dibawa penumpang ke Australia, tanpa perlu mendapatkan izin khusus. Pada 2007, boikot atas kava diberlakukan di wilayah Australia Utara. Batas 2 kg tetap berlaku di negara bagian lainnya di Australia.

Mengatur kava

Langkah pemerintah Australia untuk mengontrol kava dikarenakan adanya ‘kekhawatiran’ tentang penyalahgunaan kava, dalam komunitas pribumi Aborigin di Wilayah Australia Utara. Kava awalnya diperkenalkan ke komunitas-komunitas ini pada 1980-an sebagai bagian dari serangkaian upaya, yang bertujuan untuk mengurangi persoalan-persoalan yang disebabkan oleh minuman beralkohol.

Berbagai tulisan opini yang diterbitkan setelah kava diperkenalkan menggambarkan pesta-pesta minuman dan masyarakat mencampurkan alkohol dan kava. Pemerintah lalu menggunakan laporan-laporan itu sebagai dasar untuk memperkenalkan larangan di seluruh Wilayah Australia Utara, meskipun tidak ada bukti konsisten yang mendukung laporan-laporan itu, dan meremehkan peran kava dalam mengurangi kekerasan terkait penyalahgunaan alkohol.

Namun kebijakan imperialistis ini terus berlanjut, mendatangkan konsekuensi negatif yang meluas. Laporan-laporan lain menunjukkan bahwa terbatasnya akses pada kava telah menyebabkan peminum untuk beralih produk, dan akibatnya penyalahgunaan narkoba lainnya yang jauh lebih serius mulai meningkat. Hal ini telah memengaruhi komunitas pribumi Aborigin yang justru sebelumnya ingin dilindungi pemerintah, dan juga komunitas Kepulauan Pasifik yang menyebar di seluruh Australia. Bagi mereka, kava itu lebih dari sekadar minuman yang menyenangkan.

Proses konsultasi publik tidak sesuai

Saya sangat khawatir melihat masih adanya pemahaman yang salah mengenai kava, pemahaman yang menghasilkan larangan kava di Australia, dalam program percontohan modern ini. Hal ini terlihat jelas dari informasi yang sediakan dalam proses konsultasi, dan dalam perubahan yang diusulkan.

Konsultasi ini ditulis sebagai pengakuan atas ‘pentingnya kava bagi budaya dan ekonomi komunitas Kepulauan Pasifik’, tetapi dampak kesehatan dan sosial dari kava terus disalahpahami. Salah satu contohnya termasuk pernyataan dalam beberapa bagian, bahwa kava memiliki efek beracun. Klaim-klaim mengenai toksisitas kava dan potensi keracunan seperti ini telah terbukti salah baru-baru ini, dan menunjukkan kurangnya pemahaman umum tentang nilai budaya.

Demikian pula dengan stigma bahwa setelah meminum kava, perasaan kulit kering yang kadang dialami setelahnya adalah efek beracun, juga tidak benar.

Efek ini, kava dermopathy, adalah efek samping yang umum dari konsumsi kava yang berkepanjangan. Efek ini sudah terbukti tidak berbahaya. Orang-orang Pasifik melihat ini sebagai bukti positif seseorang, yang ingin melibatkan diri dalam budaya mereka.

Dengan mengaitkan dermopathy yang tidak berbahaya dengan toksisitas, mereka menunjukkan bahwa perilaku dan kebijakan yang mendukung konsultasi itu, masih tidak benar, didasarkan pada pemahaman kolot tentang pentingnya kava dari aspek budaya dan identitas Pasifik.

Kava sebagai budaya dan identitas

Kurangnya pemahaman seperti ini tampak paling jelas dalam bagian yang membahas ‘dampak sosial dari konsumsi kava’. Hal pertama yang dibahas dalam bagian itu mengacu pada pasar gelap jual-beli kava dan dampak negatifnya bagi masyarakat. Narasi ini mendorong berkembangnya konotasi negatif dari kava.

Meskipun peran kava dalam mempromosikan persahabatan dan persaudaraan juga disebutkan, bagian itu lalu dilanjutkan dengan poin mengenai permasalahan dalam hubungan kekerabatan akibat penyalahgunaan kava. Ada berbagai studi yang bisa menunjukkan bahwa kava tidak menyebabkan ketagihan, dan khasiat psikoaktifnya tidak menyebabkan halusinasi dan euforia yang berbahaya.

Jika seseorang memilih untuk menghabiskan waktu mereka dengan meminum kava, itu adalah sebuah pilihan. Ada orang yang memilih untuk meluangkan waktu mereka untuk melakukan kegiatan rekreasi lainnya, termasuk bermain game, menonton televisi, dan menggunakan ponsel mereka, dan pilihan-pilihan ini juga dapat menyebabkan permasalahan dalam hubungan kekerabatan, tetapi kegiatan-kegiatan itu tidak diatur oleh pemerintah melalui regulasi khusus.

Apa yang tidak dapat dipahami oleh konsultasi ini adalah pentingnya meminum kava di masyarakat Kepulauan Pasifik, di mana pun mereka berada, itu jauh melampaui aspek sosial. Kava adalah manifestasi budaya dan identitas mereka.

Lebih khusus lagi untuk komunitas diaspora yang jauh dari rumah mereka, acara minum kava menyediakan kesempatan di mana rasa hormat, bahasa, dan tradisi diajarkan.

Mengambinghitamkan kava melalui peraturan yang tidak perlu, memiliki dampak buruk yang berkelanjutan untuk komunitas Pasifik. (The Conversation)

Apo Aporosa bekerja sebagai peneliti di Universitas Waikato.

Editor: Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top