Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pindah ke Pasar Hamadi, penjual pakaian bekas sepi pembeli

Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Kota Jayapura Robert L. N. Awi melakukan sidak di lantai dua Pasar Hamadi – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Tiga bulan sejak direlokasi ke lantai dua Pasar Hamadi, penjual pakaian bekas (cakar bongkar) mengeluhkan sepi pembeli.

Relokasi tersebut merupakan penataan pedagang pakaian di Pasar Hamadi agar lebih tertata rapi dan menyenangkan bagi para pengunjung. Pembeli dapat dengan mudah mencari barang yang diinginkan. Lantai satu digunakan untuk kios dan hasil bumi.

Penghasilan 64 penjual cabor ini menurun drastis bila dibandingkan saat berjualan di lantai satu pasar. Bila sehari bisa meraup omset sampai Rp1 juta, kini hanya bisa laku paling banyak Rp300 bahkan tidak laku sama sekali.

Penjual cabor di Pasar Hamadi Siti Mariam asal Gorontalo menuturkan dagangannya sepi pembeli karena konsumen enggan naik ke lantai dua karena capek dan belum semua orang tahu.

Loading...
;

“Semua penjual cakar bongkar kayaknya menangis karena sepi pembeli, satu hari kalau ramai bisa dapat Rp100 ribu sampai Rp300 ribu, kalau sepi kadang tidak laku, kalau di lantai satu saya jualan satu jam saja sudah dapat Rp300 ribu sampai Rp400 ribu,” ujar Siti, Kamis, 7 November 2019.

Menurut Siti, lantai satu pasar ramai pembeli lantaran orang yang datang belanja langsung sekalian singgah di lapak penjualan pakaian bekas. Bila cocok mereka langsung membeli.

Lain cerita sejak berada di lantai dua pasar, keramaian suara tawar-menawar barang antara penjual dan pembeli selama 10 tahun seakan redup. Akibatnya penghasilan berkurang, sementara kebutuhan sehari-sehari tetap jalan. Bisa-bisa penjual cabor gulung tikar.

“Kalau di lantai dua ini orang malas lagi naik, apalagi kalau bawa barang banyak, harga satu pakaian bekas mulai dari Rp10 ribu sampai Rp65 ribu, kalau buka baru banyak pembeli, saya beli barang di Jakarta, sekarang tidak bisa kembali modal,” ujarnya.

Siti berharap suara bising pembeli di lapaknya terulang lagi sehingga menggairahkan penjualan pakaian bekas miliknya untuk bisa menambah pundi-pundi rupiah demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-sehari dan kebutuhan anak-anaknya sekolah.

Cerita yang sama juga dialami Nurlina, penjual pakaian bekas di Pasar Hamadi. Berbagai merek pakaian bekas impor seperti Singapura, Thailand, Cina, Korea, dan Amerika Serikat, yang didatangkan dari Jakarta setiap hari kurang dijamah tangan-tangan pembeli.

“Sekarang sudah setengah mati lakunya, jualan di lantai dua ini kalau sepi laku Rp300 ribu tapi kalau ramai laku Rp500 ribu, kalau di bawah (lantai satu) satu hari bisa dapat Rp1 juta sampai Rp2 juta,” katanya.

Perempuan asal Buton, Sulawesi Tenggara ini mengatakan harga pakaian bekas dijualnya bervariasi, mulai dari Rp5 ribu sampai Rp50 ribu. Meski demikian, susah lakunya karena saat ini sepi pembeli.

“Harga pakaian bekas ambil di Jakarta (celana pendek) satu bal Rp4 juta sampai Rp6 juta, kaos laki-laki satu bal yang berkerah dan leher bundar Rp6 juta, kalau kaos perempuan saya beli Rp5 juta, kalau jualan di lantai satu, dua hari sudah kembali modal,” ujarnya.

Nurlina berharap lantai dua pasar cepat ramai pembeli sehingga dagangannya cepat laku dan modal yang dikeluarkannya untuk membeli pakaian bekas bisa digunakan lagi untuk kebutuhan lainnya sehingga perputaran ekonominya tidak berhenti.

“Supaya cari makan tidak susah, saya jualan pakaian cakar bongkar ini dari 2011, kami penjual cakar juga untung-untungan saat membeli pakaian karena tidak bisa pilih atau bongkar pakaian dari dalam karung,” ujarnya tersenyum.

Di sisi lain, Nurlina menjelaskan, meski pakaian bekas, pemakaiannya bisa bertahan lama, masih bagus, dan hargannya relatif terjangkau alias lebih murah bila dibandingkan dengan harga toko.

Namun, ia tidak bisa membantah kalau tidak semua pakaian bekas layak pakai yang dijual kualitasnya baik. Kadangkala dalam satu karung ada saja pakaian yang sudah rusak meski merek terkenal.

“Berburu pakaian bekas, mata dan tangan harus cekatan, bila terlihat bagus, sebaiknya langsung cepat-cepat diambil karena nanti diambil orang lain,” katanya.

Kepada Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kota Jayapura Robert L. N. Awi mengaku semua penjual pakaian bekas di lantai dua Pasar Hamadi mengeluh sepi pembeli.

“Memang begitu karena masih baru, sekarang kami sudah buka pintu lantai dua, kami sudah perbaiki tangganya supaya orang dari lantai satu bisa langsung ke lantai dua dengan harapan lebih ramai lagi, ada juga papan informasi yang kami pasang di lantai satu supaya orang tahu kalau di lantai dua ada berbagai macam jenis jualan,” katanya.

Awi mengatakan tetap memperhatikan keramaian di Pasar Hamadi sehingga tidak ada diskriminasi sesama pedagang. Sebagai bentuk pelayanan kepada warga yang harus diberikan yang sebaik-baiknya.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada pedagang yang sudah pindah ke lantai dua, ini sebagai bentuk dukungan atas ketertiban pasar, kami tetap memberikan yang terbaik,” ujarnya.

Awi meminta kepada pedagang pakaian bekas agar bersabar karena penataan di Pasar Hamadi terus dilakukan sehingga ramai pengunjung yang datang berbelanja.

“Tentu saja ini berdampak positif kepada pedagang sehingga jualan mereka laku, modal bisa digunakan untuk beli barang dagangan lainnya,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top