Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

PM Tonga Akilisi Pōhiva berpulang

Mendiang Akilisi Pōhiva (ketiga dari kiri) menghadiri pertemuan Pacific Islands Forum (PIF) di Tuvalu Agustus lalu. – The Guardian/ Mick Tsikas/ AAP

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Nuku’alofa, Jubi – Kawasan Pasifik kembali berkabung setelah ʻAkilisi Pōhiva, Perdana Menteri Tonga, seorang aktivis pro-demokrasi Tonga dan pemimpin melawan perubahan iklim, menutup usia pada umur 78 tahun.

Kesehatan Pōhiva terganggu sepanjang tahun lalu dan ia sedang menerima perawatan di Selandia Baru untuk mengobati penyakit lever. Dia dievakuasi ke Auckland pada Rabu lalu (11/9/2019) karena terkena pneumonia, menurut laporan Radio New Zealand. Dia dikatakan meninggal dunia pada Kamis pagi.

Pōhiva memainkan peran penting dalam gerakan pro-demokrasi Tonga, yang menyebabkan ia sering berselisih dengan keluarga kerajaan Tonga selama lebih dari tiga dekade ia berpolitik. Pada 2014, ia resmi menjadi rakyat biasa pertama di Tonga yang terpilih untuk posisi perdana menteri oleh Parlemen, dan bukan ditunjuk oleh raja seperti sebelumnya.

Selama karirnya di parlemen Tonga – yang dimulai sejak 1987 – ia dan seluruh parpolnya pernah diberhentikan oleh raja, dipenjara karena contempt of parliament (penghinaan atas parlemen), dan dua kali digugat tuduhan penghasutan (sedition),

Loading...
;

Berkat dorongan Pōhiva akan adanya reformasi yang demokratis, Tonga beralih menjadi kerajaan konstitusional pada 2010, dan saat ini mengadakan pemilihan umum untuk menetapkan perwakilan rakyat di parlemen. Namun, rasa hormat terhadap kerajaan masih sangat kuat dan negara itu memiliki UU penghasutan yang ketat.

Ia menerima penghargaan Defender of Democracy Award pada 2013 oleh Parliamentarians for Global Action, orang Kepulauan Pasifik pertama yang menerima penghargaan itu

Pada Kamis (12/9/2019), media lokal melaporkan bahwa parlemen Tonga ditangguhkan tanpa batas waktu sehubungan dengan berita tersebut.

Pesan-pesan tentang kepergian PM itu datang dari seluruh wilayah Pasifik. Dame Meg Taylor, Sekretaris Jenderal PIF menyebutnya sebagai pejuang sampai akhir hayatnya, serta pendukung demokrasi dan kebebasan, dan seorang yang baik hati dan berprinsip dengan kasih sayang yang sangat besar kepada semua orang Pasifik. Ralph Regenvanu, Menteri Luar Negeri Vanuatu mengungkapkan belasungkawanya ‘untuk kepergian seorang sahabat yang baik dan pemimpin yang berprinsip’.

Meskipun kesehatannya buruk, Pōhiva berkeras menghadiri pertemuan PIF di Tuvalu Agustus lalu. Saat itu ia berkata kepada Guardian bahwa dia merasa pertemuan PIF tahun ini mungkin adalah KTT terakhir untuknya, tetapi dia telah bertekad untuk hadir karena pentingnya KTT ini, terutama karena pembicaraan isu perubahan iklim.

Pōhiva berbicara dengan berapi-api selama PIF 2019 tentang krisis perubahan iklim dan mendesak ada tindakan tegas untuk mengakhiri pelanggaran HAM di Papua. (The Guardian)

Editor: Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top