Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Polisi diminta transparan terkait meninggalnya tahanan Polres Biak

Suasana gelar perkara Polres Biak Numfor terkait meninggalnya Ronaldo Yawan yang dihadiri keluarga dan pengacara keluarga korban, Kamis (18/7/2019) – Jubi. Dok kuasa hukum keluarga korban.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Keluarga Ronaldo Yawan (21), tahanan yang ditemukan meninggal di sel tahanan Provost Polres Biak Numfor pada 15 Juni 2019 pagi meminta polisi transparan mengungkap penyebab kematian korban.

Penasihat hukum keluarga korban, Imanuel Romayon mengatakan pihaknya dan keluarga korban ingin polisi membutikan jika Ronaldo Yawan gantung diri menggunakan ikat pinggang dengan alat bukti yang jelas.

Menurutnya, ada beberapa hal dianggap keluarga janggal dalam meninggalnya korban. Keluarga mempertanyakan darimana ikat pinggang yang disebut polisi digunakan korban gantung diri, karena semasa hidupnya Rolando Yawan hampir tidak pernah memakai ikat pinggang.

“Saksi-saksi yang berseberangan sel dengan korban belum diperiksa hingga kini,” kata Imanuel Rumayon via teleponnya kepada Jubi, Kamis (18/7/2019).

Loading...
;

Selain itu menurutnya, hasil tangkapan CCTV yang memantau sekitar ruang sel korban tidak terekam dengan jelas atau kabur sekitar jam 01.00 Waktu Papua (WP) hingga 05.00 WP pada 15 Juni 2019. Padahal sebelum dan sesudah jam itu, gambar rekaman CCTV jernih

Pihaknya ingin polisi berupaya membuka rekaman tangkapan kamera CCTV pada waktu gambar tidak jelas, agar dapat diketahui apa yang terjadi di sekitar sel korban ketika itu.

Keluarga korban lanjut Rumayon, juga mempertanyakan mengapa Ronaldo Yawan dimasukkan ke sel tahanan Provost, bukan sel umum. Namun polisi beralasan, ketika itu korban belum berstatus tersangka. Masih menjalani pemeriksaan 1×24 jam.

“Kalau belum menjadi tersangka atau tahanan resmi mestinya tidak ditahan. Dipulangkan dulu, polisi kan bisa meminta keluarga memberikan jaminan jika dikhawatirkan korban akan kabur,” ujarnya.

Kejanggalan lain kata Rumayon, ada perbedaan laporan terkait meninggalnya korban antara Polda Papua dan Polres Biak. Dalam laporan Polda Papua disebutkan pada 14 Juni 2019 jam 23.30 WP, korban sempat dibawa keluar sel untuk dimintai keterangan. Pada 15 Juni 2019 jam 03.00 WP seorang petugas piket memeriksa sel korban dan melihat Ronaldo Yawan sedang tidur. Pukul 05.00 WP, petugas lainnya kembali memeriksa sel dan korban masih tidur.

Sementara laporan Polres Biak menyatakan setelah jam 12.00 WP pada 14 Juni 2019, atau jam 00.00 WP pada 15 Juni 2019, tak ada lagi aktivitas.  Korban baru ditemukan meninggal dunia pada pagi harinya.

Polisi juga dinilai lalai dalam kasus ini. Salah satunya ditemukannya surat, pena dan ikat pinggang dalam sel korban dan polisi tidak menggeledah korban sebelum dimasukkan ke sel.

Kelalaian polisi lainnya lanjut Rumayom, dalam surat Polda Papua yang didapat pihaknya disebut sidang disiplin sembilan anggota Polres Biak yang diduga lalai dilakukan terbuka untuk umum dan mengundang keluarga korban. Namun keluarga tidak diundang dan baru mengetahui jika telah digelar sidang disiplin lewat pemberitaan media.

Keluarga juga kecewa lantaran saat gelar perkara di Polres Biak pada Kamis (18/7/2019), dokter forensik yang mengautopsi jenazah korban tidak hadir. Ketika keluarga menanyakan beberapa kejanggalan, polisi tidak dapat menjawab dengan alasan bukan ranah mereka.

“Keluarga menanyakan hasil rekonstruksi, tapi polisi tidak jawab. Kami harap kasus ini diungkap dengan jelas, jangan berhenti diketidakjelasan,” kata Rumayon.

Polres Biak Numfor telah menggelar sidang disiplin terhadap sembilan anggotanya yang dinilai lalai dalam kasus meninggalnya Rolando Yawan. Sidang disiplin yang dipimpin Wakapolres Biak, Komisaris Polisi Tonny Upuya digelar pada Selasa (16/7/2019).

Tonny Upuya yang memimpin mengatakan kesembilan anggota polisi yang diduga melanggar SPO, yakni Inspektur Satu KN, Inspektur Dua PN, Ajudan Inspektur Polisi Dua DK, Brigadir Kepala RN, Brigadir Kepala RR, Brigadir Polisi YR, Brigadir Polisi MK, Brigadir Polisi SS dan Brigadir Dua BY.

“Kesembilan oknum anggota ini diduga tidak memperhatikan beberapa hal sesuai SPO, ketika memasukkan tahanan ke dalam sel saat itu,” kata Kompol Tonny Upuya.

Kata Kompol Tonny Upuya, sebelum tahanan dimasukkan ke dalam sel mestinya digeledah terlebih dahulu, untuk mencegah tahanan membawa barang-barang yang dapat membahayakan dirinya sendiri ke dalam sel. (*)

Editor: Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top