Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Polisi harus ungkap pelaku dalam kasus tewas 14 korban di Deiyai dan Jayapura

Massa aksi saat menuju Jayapura-Jubi/ David Sobolim.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Juru bicara Komite Nasional Papua Barat atau KNPB Pusat, Ones Suhuniap menyatakan polisi harus segera mengungkap pelaku dalam kasus terbunuhnya 14 korban dalam rangkaian kekerasan yang terjadi di Kabupaten Deiyai dan Kota Jayapura, Papua. Suhuniap menyatakan Negara harus bertanggung jawab terhadap kematian 14 orang korban itu.

“Polisi harus bisa mengungkap pelaku tersebut. Negara harus bertanggung jawab, terhadap masyarakat sipil yang meninggal dunia. Orang Papua yang meninggal [karena tindak kekerasan] bukan baru kali ini [terjadi],” kata Suhuniap kepada Jubi, Kamis (5/8/2019).

Suhuniap mengatakan ia dan masyarakat kecewa dengan cara polisi menangani kasus persekusi dan rasisme terhadap para mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 dan 17 Agustus 2019 lalu. Akan tetapi, ketika masyarakat Papua di Kabupaten Deiyai melakukan unjukrasa memprotes persekusi dan rasisme itu, mereka justru menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia.

“Penyebab [semua reaksi masyarakat di Papua adalah] rasisme di Surabaya. [Akan tetapi] justru masyarakat Papua yang menjadi korban. Sesuai data Sekretariat Keadilan untuk Perdamaian Dekanat Deiyai, delapan warga sipil meninggal karena kekerasan aparat di Deiyai. Di Jayapura, ada enam orang terbunuh,”katanya.

Loading...
;

Suhuniap menyatakan banyak warga sipil terluka dalam rangkaian kekerasan yang terjadi saat rakyat Papua berunjukrasa menolak rasisme. Penyerangan dan persekusi terjadi di lokasi pasca amuk massa 29 Agustus 2019 lalu. Penyerangan terhadap salah satu asrama di Jayapura mengakibatkan 13 orang terluka. Sejumlah sembilan warga lainnya juga menjadi korban kekerasan sekelompok warga di Jayapura.

“Di [Kabupaten] Fakfak, 13 orang terluka. Di Manokwari, satu orang terluka. [Akan tetapi] justru orang Papua dijadikan tersangka kerusuhan di berbagai kota,” katanya.

Suhuniap mengatakan, demonstrasi yang digelar mahasiswa Papua adalah unjukrasa damai. Menurutnya, amuk massa terjadi karena ada penumpang gelap yang memboncengi aksi itu, sehingga mengakibatkan pembakaran Kantor Majelis Rakyat Papua dan amuk massa yang merusak kantor, pertokoan, pusat perbelanjaan, maupun berbagai fasilitas publik lainnya.

Suhuniap mengingatkan pada 19 Agustus 2019 rakyat Papua telah menggelar unjukrasa anti rasisme yang diikuti sekitar 16 ribu orang, dan unjukrasa itu berjalan dengan damai. Itu memperkuat dugaan bahwa ada pihak ketiga yang sengaja membuat kekacauan, sehingga unjukrasa pada 29 Agustus 2019 berkembang menjadi amuk massa.

“Jadi 64 orang ditangkap oleh Polda Papua pada saat aksi demo tanggal 29 agustus 2019, berikut 28 orang yang dijadikan tersangka hanya tumbal. [Ada] kesan aparat hukum mengkambing-hitamkan massa aksi,” katanya.

Suhuniap berharap semua orang Papua tidak terpancing dengan berbagai provokasi yang berusaha membenturkan aksi unjukrasa anti rasisme dengan kelompok masyarakat pendatang di Papua.  “Sebab, musuh kita bukan orang non-Papua, tetapi sistim.  Kita berjuang murni untuk [menuntut Hak] Menentukan Nasib Sendiri,” katanya.

Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St Efrem Cabang Jayapura, Wakol Yelipele meminta pemerintah untuk bersikap adil kepada masyarakat Papua. “Ketidakadilan akan menjadi sebuah luka bagi orang asli Papua,” katanya.

Wakol Yelipele menegaskan lambannya penanganan pemerintah dalam berbagai kasus di Papua menjadi sumber yang melecut amarah warga Papua. “[Dalam kasus] ujaran rasisme, protes rakyat Papua merupakan dampak dari lambatnya penanganan pihak keamanan menangkap dan memproses para pelaku rasisme. Belum adanya proses hukum yang jelas membuat marah rakyat Papua di tanah Papua,” katanya.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top