HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

PON 2020, momentum Gastro Diplomasi Kuliner Papua

Pengunjung Festival Makan Papeda di Kampung Abar, Kabupaten Sentani, Papua, tahun 2018. Masyarakat setempat menyediakan Papeda dan pelengkapnya, seperti ikan saus, untuk dinikmati pengunjung – Jubi/Yuliana Lantipo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Makanan tradisional khas suatu daerah selalu masuk dalam daftar kegiatan yang harus dicoba oleh para pelancong. Apalagi pada saat suatu perhelatan acara besar, seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) XX tahun 2020, yang akan dilangsungkan di Provinsi Papua.

Kini, hanya terhitung 16 bulan, waktu menuju pembukaan perhelatan olahraga akbar di Indonesia: Oktober 2019 nanti. Menuju itu, apakah Papua sudah siap dengan kuliner-nya untuk menjamu para atlit, tim official, hingga pelancong (domestik maupun asing) yang hendak ke Papua?

Pendiri Komunitas Papua Jungle Chef, Charles Toto, berpendapat, “Masalah waktu, saya pikir kita tergesa-gesa. Harusnya sudah dibuatkan food maping sejak 5, 10, atau bahkan 20 tahun lalu,” ucapnya saat ditemui Jubi di sela-sela kegiatan yang mengusung tema “Klasterisasi Pembuatan Makanan Olahan Berbahan Dasar Sagu dan Buah Pinang” dengan sub tema “Mendukung Makanan Sagu Sebagai Makanan Resmi PON 2020”, di Pasar Mama Mama Papua di Jayapura, Kamis, pekan kemarin.

Kegiatan di atas diselenggarakan oleh Pemodalan Nasional Madanai (PNM) Wilayah Indonesia Bagian Timur, bertujuan membantu pedagang asli Papua di Pasar Mama Mama melalui pemberian modal usaha dan pelatihan. Kegiatan pertama kemarin, Mama Mama Pasar berhasil membuat delapan resep menu makanan berbahan dasar sagu dan pinang, yang akan dibukukan dan disebarkan.

Loading...
;

Pemilik sapaan akrab Chato ini, bersama sejumlah chef lokal Papua, sudah memulai kegiatan mendata dan mengenali makanan (food maping) khas masyarakat dari Sorong hingga Merauke sejak mendirikan komunitas tersebut, tahun 2008.

Mereka konsisten mempopulerkan makanan yang terbuat dari beragam bahan di hutan.

Bahkan, hingga ke masyarakat internasional melalui Gastro Diplomasi, yakni seni diplomasi yang mengedepankan rasa. Chato bilang, untuk rangkaian PON XX, yang akan dimulai dengan sejumlah kegiatan olahraga mulai tahun ini, merupakan momentum untuk memperkenalkan kekayaan ragam makanan khas masyarakat Papua ke luar.

“Makanan itu bisa sebagai Gastro Diplomasi. Diplomasi makanan ke luar. Dan, moment seperti ini yang saya pikir penting tapi kita (Papua) seperti tidak punya persiapan dari awal yang matang sehingga terkesan terburu-buru untuk menggalakkan kembali pangan lokal,” ujarnya.

Selain sagu dan pinang yang sudah populer, bagi Chato, Papua sesungguhnya memiliki lebih banyak makanan tradisional yang harus digaungkan lagi.

Di antaranya, Kabahele: makanan khas masyarakat Sentani (Kabupaten Jayapura) yaitu ikan kuah hitam yang disajikan dengan papeda. Kemudian, Norhosori: makanan khas orang Tobati (Kota Jayapura) yang berisi daging kerang dicampur kelapa parut. Lalu, ada juga Swamening: makanan khas masyarakat Genyem (Kabupaten Jayapura).

“Ini yang perlu kita gaungkan, kita perlu galakkan kembali makanan-makanan tradisional ini, sehingga ketika orang datang dari luar, di sana tidak hanya ada sagu karena mereka pasti butuh makanan-makanan tradisional lainnya,” ujar Chato.

Wisata kuliner di tengah hutan

Rasa penasaran pasti menyelimuti setiap telinga setelah mendengar kalimat “Restoran di Hutan”. Berbagai pertanyaan pun sudah pasti terbesit: tentang lokasinya, apa saja menunya, bagaimana akses ke lokasi, setingan tempatnya, berapa harga menu per orang, dan sebagainya.

Wisata kuliner di tengah hutan, yang diadopsi dari moto Jungle Chef, “Hutan adalah restoran bagi orang Papua makan tanpa mengeluarkan uang”, menjadi satu kegiatan Chato dan para Jungle Chef di Jayapura, yang akan ditawarkan kepada para pecinta kuliner tradisional.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu cara bagi Chato dkk untuk menggaungkan menu-menu tradisional ke luar. Persiapan khusus itu, kata Chato, sudah dan masih melakukan pendataan semua makanan lokal. Yang terdekat, di sekitar Kota dan Kabupaten Jayapura.

Di sana, kata Chato, pengunjung tentu akan mendapat banyak pelajaran penting dan berharga dari alam, salah satunya tentang jenis tanaman yang akan diolah menjadi produk makanan saat itu. Ia belum menyebutkan lokasi “hutan” di mana saja yang akan dibuka nantinya.

“Papua Jungle Chef hanya menyediakan itu. Kita tidak punya bayangan yang harus membangun satu bangunan yang di dalamnya punya dapur yang mewah, kursi-kursi dan peralatan yang lengkap. Tapi, kami tetap akan fokus ada hutan yang menjadi sumber kehidupan bagi orang Papua itu sendiri. Ini yang akan kami tawarkan menjadi destinasi wisata kuliner di tengah hutan,” jelas Chato. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top