Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Potensi fiskal dan strategis Bougainville pasca-merdeka

Tangkapan ikan tuna dari perairan Pasifik. – RNZI/Giff Johnson

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Rumah bagi sekitar 300.000 orang, Bougainville adalah wilayah otonomi khusus di Papua Nugini (PNG), di Samudra Pasifik, yang jarang menarik perhatian media internasional. Namun referendum Bougainville yang akan datang untuk merdeka dari PNG, bisa membawa ancaman finansial dan strategis yang dapat memengaruhi wilayah Asia-Pasifik secara meluas. Tiongkok, Amerika Serikat, dan Australia, semuanya memiliki kepentingan tersendiri dalam masa depan Bougainville.

Dari 23 November hingga 7 Desember 2019, warga Bougainville akan memiliki kesempatan untuk memilih apakah daerah otonomi itu ingin mendapatkan kemerdekaan penuh dari pemerintah PNG. Beberapa jajak pendapat yang dilakukan menunjukkan bahwa mayoritas orang Bougainville (lebih dari 65%) mendukung kemerdekaan Bougainville. Terlepas dari hasil pemungutan suara ini, parlemen PNG harus meratifikasinya sebelum langkah selanjutnya dapat diambil. Meskipun orang-orang Bougainville telah berjuang demi kebebasan mereka selama beberapa dekade, perpisahan dari PNG yang selama ini tidak dirancang dengan baik juga membawa risiko bagi perekonomian Bougainville.

Di tengah-tengah perdebatan tentang kemerdekaan Bougainville adalah tambang Panguna, yang merupakan salah satu deposit tembaga terbesar di dunia. Tambang Panguna menjadi penyelamat ekonomi pemerintah pusat PNG pada 1970-an dan 1980-an. Pemasukan negara dari tambang tembaga itu mencakup sekitar 45% dari pendapatan ekspor PNG, 17% dari pajak pendapatan, dan 12% dari PDB-nya. Selama periode ini, tambang itu sangat menguntungkan PNG, tetapi hanya sekitar 5% dari pendapatan yang dihasilkan tetap tinggal di Bougainville, sementara mayoritasnya dikirim ke pemerintah pusat PNG. Akhirnya, akibat ketaksetaraan ini, ditambah kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh tambang itu, menyebabkan perang saudara antara pasukan Bougainville dan PNG. Konflik ini merenggut 20.000 nyawa dan menyebabkan penutupan tambang Panguna pada 1989. Konflik itu berakhir secara resmi pada 2001, ketika perjanjian perdamaian antara Bougainville dan PNG ditandatangani.

Saat ini, Bougainville belum memiliki kemandirian fiskal untuk bisa beroperasi dengan independen. Pendapatan yang dihasilkan dari dalam daerah melalui pajak perusahaan, bea cukai, dan pajak pertambahan nilai tidak cukup untuk menutupi pembelanjaan Bougainville. Pemerintah Bougainville dilaporkan memerlukan sekitar 300 juta kina ($ 88 juta) untuk berjalan dengan mantap. Namun pada 2017, hanya sebagian kecil dari anggaran berulangnya, sebesar 162 juta kina ($ 48 juta), yang dihasilkan secara internal. Menurut beberapa perkiraan, hanya sekitar 21 juta kina ($ 6 juta), atau 13% dari anggaran ini yang ditanggung oleh pendapatan daerah. Oleh karena itu, Bougainville sangat bergantung pada dana dari PNG dan pemangku kepentingan lainnya, seperti Australia, yang dilaporkan menyumbang $ 50 juta per tahun. Pengaturan dan pendanaan referendum kemerdekaan Bougainville juga tidak akan mungkin terjadi tanpa bantuan keuangan sebesar $ 7 juta dari AS, Australia, Selandia Baru, dan Jepang.

Loading...
;

Keberhasilan Bougainville pasca-kemerdekaan akan sangat tergantung pada perbaikan manajemen pajak dan izin-izin. Persoalan ini menimbulkan pertanyaan apakah tambang Panguna harus dibuka kembali ke depannya, untuk meningkatkan kemandirian fiskal jangka panjang daerah itu. Bangsa Bougainville yang berdaulat kemungkinan akan melihat peluang dalam penambangan dan sumber daya mineral, namun ia harus berhati-hati dengan risiko konflik terulang, serta risiko keamanan di daerah sekitar tambang Panguna. Studi-studi ilmiah menunjukkan bahwa peluang pemasukan juga bisa didapatkan dari sektor pertanian Bougainville. Lisensi perikanan, ekspor hasil laut, pemrosesan tangkapan tuna, dan produksi kakao dapat menambah penghasilan dari industri pertambangan. Investasi asing dapat mendorong pembangunan ekonomi Bougainville dan meningkatkan standar teknologi. Selain itu, memperluas lapangan kerja dan melatih tenaga kerja yang terampil adalah komponen penting untuk pembangunan dan pertumbuhan fiskal di Bougainville.

Dari sudut pandang strategis, Tiongkok, AS, dan Australia, semuanya memiliki kepentingan dalam kemerdekaan Bougainville.

Dalam upayanya untuk memperluas Inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan secara global, Tiongkok kemungkinan akan mencari jalan untuk bisa membangun kerja sama ekonomi dengan, dan berinvestasi di Bougainville. Pada September dan Oktober 2019, dua negara tetangganya, Kepulauan Solomon dan Kiribati, telah mengalihkan kerja sama dari Taiwan ke Tiongkok, memperluas jaringan ekonomi Tiongkok di Samudra Pasifik. Peralihan ini berarti hanya Nauru, Tuvalu, Palau, dan Kepulauan Marshall yang masih mempertahankan persahabatannya dengan Taiwan.

AS kemungkinan akan mengamati naiknya kehadiran Tiongkok di Oseania dengan skeptisisme. Bertekad untuk membatasi perluasan pengaruh Tiongkok di Pasifik, AS akan melihat potensi keterlibatan Tiongkok di Bougainville sebagai isu keamanan, karena lokasi strategis Bougainville antara Asia dan Amerika. Australia akan mendukung dengan AS dalam hal ini. Australia sebelumnya pernah berkata bahwa mereka akan menerima hasil dari referendum kemerdekaan Bougainville, namun mereka was-was melihat semakin banyak negara Kepulauan Pasifik yang memperkuat hubungannya dengan Tiongkok. Selain itu, Australia juga akan memainkan peran sebagai mediator dalam urusan Bougainville.

Meski investasi Tiongkok, melalui pinjaman dan bantuan, dapat memacu pertumbuhan ekonomi, negara-negara seperti Sri Lanka, Maladewa, Laos, dan Pakistan kini bersusah payah membayar kembali utangnya pada Tiongkok. Oleh karena itu, Bougainville harus memastikan bahwa proyek-proyek pembangunannya di masa depan, tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan asing. Jika Bougainville merdeka, Bougainville kemungkinan besar terus bergantung pada bantuan asing dari Australia dan negara-negara lain, setidaknya tidak lama setelah mendapatkan kemerdekaan. Mengidentifikasikan potensi sumber-sumber pendapatan dan menganalisis ketergantungan finansialnya pada negara-negara lain itu sangat penting, kalau Bougainville ingin memastikan perkembangan fiskal yang berkelanjutan dan kedudukan yang kuat, sebagai mitra dagang di dunia global. (JD Supra)

Editor: Kristianto Galuwo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top