Potensi pariwisata di Kota Jayapura belum terkelola maksimal

Potensi pariwisata di Kota Jayapura belum terkelola maksimal

Salah satu sudut di Pantai Hamadi Kota Jayapura – Jubi/Ramah.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Matias B. Mano mengakui masih banyak potensi wisata alam di Kota Jayapura yang belum terkelola dengan baik, karena masih dikuasai pemilik hak ulayat.

“Kota Jayapuara memiliki objek wisata alam, sejarah, budaya dan religius, namun belum dimaksimalkan pengelolaannya,” kata Matias Mani di Kantor Wali Kota Jayapura, Senin (20/5/19).

Berbagai promosi dan momen dijadikan alasan untuk menarik minat wisatawan lokal, nasional maupun mancanegara, seperti Fertival Teluk Humbold di Pantai Hamadi, agar wisatawan tertarik untuk kembali ke bumi cenderawasih.

“Pemerintah dan masyarakat bersinergi dalam membangun kesepahaman dalam mengelola objek wisata, karena wisatawan masih banyak yang komplain kepada pemerintah bahwa objek wisata yang di kelola masih mahal, karena pengelolaan kurang jelas,” kata Matias Mano.

Dispar Kota Jayapura saat ini mencari solusi agar meningkatkan kunjungan wisatawan, melalui penataan kawasan objek wisata yang lebih lanjut, mulai dari pemetaan potensi wisata yang ada di Kota Jayapura.

“Agar pengunjung merasa nyaman dan puas yang datang ke Kota Jayapura dan semakin meningkat. Kalau sudah meningkat PAD Kota Jayapura ikut meningkat.

Fokus utama kami pantai Hamadi karena dekat dengan jembatan Holtekamp. Apalagi saat PON XX di Papua khususnya di Kota Jayapuara pasti banyak pengunjung,” jelas Matias Mano.

Wali Kota Jayapura, Benhur Tommy Mano menyatakan, tempat wisata hanya boleh dikelola masyarakat adat dengan tujuan meningkatkan taraf hidup dalam pemenuhan perekonomian.

“Kalau ada masyarakat yang bukan masyarakat asli Port Numbay (Kota Jayapura) datang berjualan di tempat wisata, harus minta izin dulu sama pengelola wisata, apakah diperbolehkan atau tidak. Kalau diizinkan, maka harus ada kontribusinya,” kata Tommy Mano.

Menurut Tommy Mano, hal itu dilakukan agar masyarakat asli Kota Jayapura mendapatkan uang dari tempat wisata sehingga tidak berteriak haknya sebagai masyarakat asli Port Numbay diambil orang lain.

“Saya lihat sekarang, kami orang-orang Port Numbay ini menjadi penonton di tanahnya sendiri. Bukit Jokowi sudah ditangani orang dari daerah lain. Penjual kelapa di Skyline itu adalah orang-orang dari luar, baru orang Port Numbay mau dapat apa?” kata Tomi Mano. (*)

Editor      : Edho Sinaga

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)