HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pra-revolusi 4.0, orang Papua perlu bikin apa?

Ilustrasi, teknologi – Jubi/Pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Quaeres Rumbewas

Sejarah panjang keterhubungan

Pernahkan Anda mendengar globalisasi, pasar ASEAN dan IoT? Ketiga istilah ini menggambarkan perjalanan sejarah keterhubungan. Berbicara mengenai globalisasi, (keterhubungan) antarbenua itulah yang sering diwacanakan.

Kemudian beberapa tahun berikut muncul lagi wacana mengenai pasar ASEAN. Pasar ASEAN berkaitan dengan keterhubungan. Berbeda dengan globalisasi, ASEAN merupakan keterhubungan di dalam wilayah benua, yakni Asia.

Loading...
;

Keterhubungan ini mengarah langsung kepada kerja sama ekonomi se-ASEAN yang mencakup negara-negara di dalam benua Asia. Tujuannya sama bahkan bisa dikatakan “anakan” dari globalisasi. Yakni, untuk membangan pasar bebas. Nah, IoT atau Internet of Thinks, merupakan wacana jaringan penghubungnya (softwhare-hardware). IoT merupakan keterhubungan jaringan internet secara luas di seuruh dunia. Entah terhubung antarmanusia, juga terhubung dengan benda-benda mati. Misalnya, HP Anda bisa memantau keadaan rumah, atau memantau anak, dari tempat kerja Anda melalui CCTV di rumah. Tidak hanya sekadar itu, diandaikan bisa melakukan aktivitas di dalam rumah dari jarak jauh. Misalkan menyiram bunga dari kantor, memberikan makan kepada anjing dari tempat rekreasi ketika sedang berliburan, dst.

Pernahkan mendengar 2G, 3G, dan 4G? G disingkat dari kata generasi. Generasi yang dimaksud merupakan generasi perkembangan jaringan telekomunikasi. Perkembangannya mengarah kepada arsitektur jaringan juga di dalamnya menyangkut kecepatan mengakses data.  Pada tahun 1980-an, jaringan masih di generasi 1 (1G) dengan kecepatan masksimal 2.4 Kb/s. Berikutnya (setelah 10 tahun), pada tahun 1990, masuk di generasi kedua (2G) dengan kecepatan maksimal 65 Kb/s. Tiga belas tahun kemudian, tahun 2003 mulai masuk pada generasi ketiga (3G), dengan kecepatan maksimal 2 Mb/s. Kemudian, pada saat ini telah masuk di generasi ke empat (4G), dengan kecepatan 100 Mb/s.

Generasi ke-4 bermula dari tahun 2009, tetapi hampir di seluruh Papua masi menggunakan 3G, itu pun hanya beberapa saat saja. Diisukan bahwa tahun 2020 akan masuk ke dalam generasi kelima (5g) dengan kecepatan yang ditawarkan 1 Gb/s.

Ya, menggambarkan ini, dengan melihat keadaan Papua, terutama berhubungan dengan infrastruktur jaringan, Anda akan merasa tertinggal, bukan? Itu tidak masalah sebenarnya. Tawaran ini cuman gula-gula manis dari keterhubungan yang telah kita bahas tadi.

Untuk membangun itu, pemerintah pusat sedang berupaya keras untuk menghubungkan seluruh Papua. Pertama, dengan kelistrikan, yang sudah sedang masuk hingga di pelosok-pelosok Papua. Kemudian, bersamaan juga dengan fiber optic, yang terhubung seluruh dunia.

Yang telah kita bahas tadi mengenai 1G sampai 4G merupakan jaringan yang terhubung tanpa kabel (nirkabel). Sedangkan fiber optic mempunyai sejarahnya sendiri. Berawal dari tahun 1975 dan yang sedang di sambungkan di Papua merupakan perkembangan terakhir dekade ini dari tahun 1997, yang merupakan generasi kelima. Fiber optic berbeda dengan jaringan nirkabel, yang merupakan jenis yang lainnya, yakni menggunakan kabel yang mampu menghantarkan data hingga 100 Mb/s.

Keterhubungan itu semuanya merupakan, kelanjutan dari wacana Globalisasi dan ASEAN yang akan bergerak di bidang ekonomi. Untuk itu, mereka membutuhkan jaringan. Oleh sebab itu perkembangannya cukup signifikan yang telah kita bahas. Begitu pun di dunia ekonomi. Untuk mendukung itu, ada pula industri. Industri saat ini telah sampai kepada generasi ke-4, yang sedang diwacanakan dengan istilah 4.0 (for point zero).

Keterhubungan ini, sedang diupayakan untuk menghubungkan dengan generasi telekomunikasi yang akan datang, yakni 5G. Namun, di beberapa negara industri sudah dimulai. Beberapa tahun lagi, akan hadir di Papua.

Presiden Jokowi telah berupaya keras hingga mengeluarkan biaya besar untuk mempercepat itu. Di pelosok-pelosok jika Anda melihat selang merah yang sudah mulai ditarik tanam di dalam tanah, jalan yang sedang dihubungkan, wacana harga bensin sama, mulai menggunakan lampu PLN, itu semua adalah makanan pokok dari industri-industri besar yang akan masuk. Tentu saja, kita akan terlempar begitu saja. Kecuali beberapa orang yang telah bertekun belajar dan mampu membangun relasi.

Jika Anda mendengar ada pemecatan karyawan besar-besaran. Itu merupakan konsekuensi dari Industri 4.0. Karena generasi ini mengandaikan pekerjanya dengan robot-robot industri. Mereka hanya membutuhkan orang-orang yang mampu mengoperasikan puluhan robot dalam sekali kerja. Mereka tidak lagi membutuhkan manusia untuk mengerjakannya, karena “dianggap” tidak cepat dan tidak konsisten. Juga membutuhkan jumlah yang banyak. Tetapi, dengan robot, bahkan ia bisa mengerjakannya dalam waktu 24 jam tanpa pergantian dan tanpa capek. Hal itu terjadi pada perusahaan-perusahaan berstandar internasional milik negara-negara industri.

Kita punya masalah

Menjadi operator membutuhkan pendidikan yang mapan. Oleh karena itu, beberapa tahun kedepan  tamatan SMA, tidak akan digunakan sebagai pekerja. Yang mereka butuhkan adalah orang-orang yang telah sarjana, minimal S1. Itu pun dengan standar nilai di Indonesia IPK 2,7. Tetapi, di perusahaan maju standarnya adalah 3.00.

Kebanyakan mahasiswa yang lulus masih jauh dari pencapaian seperti ini. Belum lagi kasus beli ijazah yang marak. Pengangguran yang semakin banyak. Minat mahasiswa cuma jurusan ekonomi dan pemerintahan. Begitu banyak jurusan yang dipandang sebelah mata.

Kita memiliki masalah di berbagai aspek, baik aspek pengelolaan pemerintahan, berelasi politik, maupun manajemen ekonomi yang cukup buruk. Di bidang ekonomi, kita belum bicara lagi mengenai jual-beli online yang mengandaikan kita mampu mengelolah sendiri. Belum banyak orang yang bergerak di bidang ini. Bahkan, membuka kios kecil saja belum banyak. Yang kita bicarakan ini adalah pasar internasional. Pemerintah pun belum baik mengurus mama-mama di pasar.  Hanya untuk memberikan tempat yang layak.

Berbicara mengenai globalisasi adalah kekuatan kapitalis dengan modal triliunan. Di mata kapitalis (pemilik uang banyak), negara dan pemerintahannya hanya sebagai permainan tawar-menawar (politik), bisa disebut hanya kaleng-kaleng bahasa gaulnya.

Mereka menguasai ekonomi yang merupakan tahanan (kebutuhan) dasar manusia bernegara, yang kemudian kapan saja dapat dimainkan oleh pemilik modal. Itulah yang sudah kita alami, dan akan kita hadapi.

Di dunia pendidikan, tindakan maksimal yang bisa pemerintah lakukan adalah mengirim mahasiswa ke luar negeri. Itu pun sebagian mahasiswa hanya mengejar uang. Menggunakan persoalan Papua untuk mencari keuntungan sendiri. Artinya bahwa, dari segi pendidikan tidak selalu akan menjamin masa depan kita menjadi cerah.

Saya tidak ingin menggeneralisasi, tetapi sejauh ini, sudah berapa lapangan kerja yang mereka hasilkan? Mereka perlu menghasilkan buah dari apa yang telah mereka pelajari, jika tidak kita akan tergesek zaman. Terutama mempersiapkan tameng untuk menghadapi sang harimau dari globalisasi. Dengan demikian, orang Papua akan ke mana?

Pada umumnya kita punya kelemahan di literasi sehingg membuat kita sedang bernina bobo dengan wacana-wacana yang menjerumuskan kita ke dalam persoalan-persoalan yang biasa. Sedangkan jalan, listrik, dan jaringan sedang digenjot cepat. Perusahaan besar hanya membutuhkan tiga hal ini. Jalan, listrik, dan jaringan (jalija) merupakan makanan pokok bagi perusahaan berstandar. Mengharapkan beberapa perusahaan yang ada di Papua, sudah banyak yang sedang “membuang kita” karena tuntutan kemajuan teknologi.

Melihat keadaan seperti ini, kita akan terlontar di hadapan negara yang telah diselimuti oleh para pemilik modal (kapitalis). Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan besar ini. Mereka adalah serigala yang memiliki segalanya yang siap menyergap kekayaan kita. Kita telah terbuai dengan tampilan gawai yang sudah menggilas kesibukan kita dan kekerabatan kita karena sibuk dengan gawai (HP). Bahkan lupa makan, minum, mandi, dst.

Teknologi yang akan ditawarkan, akan memanja kita bagi konsumen. Karena, banyak hal yang ditawarkan membuat penasaran. Sebentar lagi, transportasi online akan berdatangan secara massal. Mulai dari transportasi, makan-minum, bersihkan kamar, antarkan barang, pijat, pengiriman barang, dst ala gojek dan sejenisnya akan mengambil alih pekerjaan-pekerjaan kita. Caranya sangat instan, memudahkan, dan tidak membuang waktu. Semuanya ada di dalam HP. Jangan sampai ko sibuk main HP sampai harimau su di depan mata baru ko kaget.

Oleh karena itu, harapannya bahwa Pemerintah mulai berusaha merevaluasi segala aspek yang telah dilakukan untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi persoalan-persoalan sepele seperti ini. Mulailah berpikir untuk bekerja sama dengan siapa? Dengan perusahaan mana? Pemilik modal siapa? Penyedia jasa siapa? Supaya masyarakat tidak terlindas hanya untuk kepentingan pemerintah dan perusahaan, tetapi tindakan tersebut harus berlandaskan kepada kepentingan rakyat kecil. Jika tidak, kita akan dipermainkan. Hal itu sedang terjadi, sebagaimana pemerintah Papua sedang dipermainkan dengan tawaran 10% dari perusahaan.

Belajar dari itu, seharusnya, pemerintah mulai berpikir ulang akan kejanggalan-kejanggalan yang berhubungan dengan pemerintah pusat dan perusahaan-perusahaan selama ini. Yang akan datang nanti, bisa lebih keras dari ini. Maka, belajarlah membuat tameng terlebih dahulu untuk menghadapi persoalan yang besar ini. Yakni sang globalisasi, anaknya pasar ASEAN, yang merupakan produk-produk dari imperialisme dan kapitalisme yang menggandeng kolonialisme.

Belajarlah dari Aceh yang mampu mengelola otsus dengan baik. Sejauh ini, mereka telah menjadi mandiri dalam pengelolahan hukum. Jangan jadi kaleng-kaleng, dengan hanya melempar uang supaya sembunyi tangan tetapi belajarlah lebih bijak mengatasi persoalan kita yang paling dasar yaitu menjadi mandiri di atas tanah kita dengan membangun tameng terhadap kolonialis berwajah hasrat. (*)

Penulis adalah alumnus STIE IEU jurusan Pemasaran Internasional, tinggal di Australia

Editor: Timo Marthen

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)