Purtier Placenta ilegal, penyebarannya melalui MLM

Purtier Placenta ilegal, penyebarannya melalui MLM

Kepala Balai AIDS, Tubercle Bacilius (TB) dan Malaria, Dinas Kesehatan Papua, dr. Berry Watori – Jubi/Roy Ratumakin.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Purtier Placenta, nama sebuah produk suplemen mulai hangat diperbincangkan di dunia kesehatan khususnya di Papua, setelah didapati beberapa pengidap HIV dan AIDS di Sentani, Kabupaten Jayapura meninggal dunia yang beralih dari ARV ke Purtier Placenta.

Apakah Purtier Placenta tersebut legal? Kepala Balai Besar Pengendalian Obat dan Makanan (BPOM) di Jayapura, H.G. Kakerissa mengatakan ada produk suplemen dengan nama yang sama yang sudah memiliki nomor register dari BPOM Pusat.

“Jadi untuk suplemen Purtier adalah produk yang legal sedangkan untuk splemen dengan nama Purtier (Placenta) adalah produk yang ilegal,” kata Kakerissa kepada Jubi, Senin (13/5/2019) diruang kerjanya.

Menurut Kakerissa, kegunaan dari sebuah suplemen adalah asupaan gizi tambahan dan bukan obat penyembuh, dan yang dapat merekomendasikan suplemen atau obat yang bisa menyembuhkan adalah pihak kesehatan.

“Saya juga mau ingatkan kepada pekerja kesehatan agar dapat memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang apa itu suplemen dan ap itu obat,” ujarnya.

Untuk BPOM sendiri menurut Kakerissa, akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Papua untuk melakukan penelusuran terkait dengan penyebaran dari Purtier Placenta tersebut.

“Saya yakin penyebaran Purtier Placenta tersebut melalui Multi Level Marketing (MLM) dan terselubung. Kalau MLM, berarti ada testimoni-testimoni yang ditawarkan, mulai dari diskon dan segala bentuk promosi agar produk tersebut terjual. Belum tentu testimoni tersebut bisa berhasil di orang lain dengan kondisi tubuh yang berbeda,” katanya.

Disinggung apakah ada konsekuensi hukum terhadap penyebaran produk yang ilegal, Kakerissa mengatakan bahwa konsekuensi hukum pasti ada.

“Pasti ada konsekuensi hukumnya, namun bukan kami yang menindak, jadi pada saat sidak nanti kami akan melibatkan aparat kepolisian. Sehingga kalau kedapatan langsung bisa ditindak oleh pihak aparat,” katanya.

Menurutnya hingga kini pihaknya belum mengetahui bentuk atau rupa dari suplemen tersebut.

“Saya belum liat, dan staf saya juga belum ada yang melihat produk itu. Itu yang saya katakan bahwa penjualan produk tersebut mlalui MLM. Kalau teman-teman pegiat HIV dan AIDS ada mempunyai sample dari produk teersebut bisa sharing kepada kami,” ujarnya.

 

Indikasi keterlibatan petugas kesehatan

 Kepala Balai AIDS, Tubercle Bacilius (TB) dan Malaria, Dinas Kesehatan Papua, dr. Berry Watori mengatakan, pihaknya mengindikasi ada keterlibatan oknum-oknum yang menggunakan profesiya untuk melakukan penyebaran terhadap Purtier Placenta tersebut.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak BPOM, dan pihak BPOM mengatakan bahwa Purtier Placenta tersebut adalah produk ilegal. Nah, kalau sudah ilegal maka tidak mungkin akan ada penyebaran yang begitu intens di Papua khususnya di Kota Jayapura. Saya pikir ini sudah menyalahi aturan,” kata dr. Beery kepada Jubi diruang kerjanya, Senin (13/5/2019).

Kata dr. Beery, pihaknya mengindikasi ada keterlibatan oknum-oknum kesehatan yang telah melakukan penyebaran dari suplemen tersebut.

“Kalau untuk teman-teman yang aktif dalam dunia kesehatan atau aktif dalam program pengendalian penyakit menular dari program pemerintah saya boleh katakan tidak ada yang melakukan penyebaran tersebut,” ujarnya.

Namun, dirinya mengindikasi ada teman-teman seprofesi lainnya tetapi yang pekerjaannya di luar lingkup dunia kesehatan atau diluar kebijakan pemerintah yang melakuan hal tersebut.

“Jadi mereka gunakan profesinya untuk melakukan hal-hal yang boleh kita katakan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah atau norma-norma pelayanan kesehatan yang sudah ditetapkan. Orang-orang seperti ini bisa dikategorian melakukan mal praktek. Kalau kedapatan maka IDI akan mengambil tindakan tegas dengan menarik status atau profesinya sebagai dokter atau tenaga kesehatan,” katanya.

Untuk itu, diriya berharap kepada seluruh ODHA yang ada di Papua untuk tetap menggunakan ARV.

“Belum ada rekomendasi dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) soal obat untuk ODHA selain ARV,” ujarnya.

Pegiat AIDS Robert Sihombing mengakui adanya pengidap HIV/AIDS di kawasan Sentani, Kabupaten Jayapura yang meninggal setelah beralih dari ARV ke Purtier Plasenta .

“Memang ada laporan tentang adanya pengidap HIV/AIDS yang meninggal karena tidak lagi mengkonsumsi ARV melainkan beralih ke purtier plasenta yang berbahan dasar plasenta rusa.Namun untuk memastikannya kami masih akan berkoordinasi dengan pegiat lainnya,” kata Robert Sihombing dalam keterangannya kepada wartawan belum lama ini di Jayapura.

Robert mengatakan, dari informasi yang diterima jumlah pengidap AIDS yang sudah beralih dari ARV ke purtier plasenta tercatat 15 orang. (*)

Editor      : Edho Sinaga

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)