HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pusmesmas Harapan program percontohan telemedicine

Seorang dokter di Puskesmas Harapan, Sentani melakukan ujicoba telemedicine dengan dokter ahli di Jakarta – Jubi/Agus Pabika

Papua No. 1 News Portal | Jubi

IASA didukung Kementerian PPN/Bappenas membuat program telemedicine di Provinsi Papua. Puskesmas Harapan, Sentani menjadi tempat percontohan.

Indonesian American Society of Academics (IASA) bekerja sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) meluncurkan program pelayanan kesehatan jarak jauh di Provinsi Papua, Rabu (9/8/2019).

Peluncuran pelayanan medis jarak jauh atau telemedicine di Provinsi Papua dipusatkan di Puskesmas Harapan, Sentani, Kabupaten Jayapura.

Perwakilan IASA, Edward Wanandi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu langkah mendukung pelaksanaan lnpres No. 9/ 2017 tentang percepatan pembangunan kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.

Loading...
;

Salah satu kegiatan yang masuk dalam rencana aksi 2018-2019, katanya, adalah peningkatan pelayanan dasar di bidang kesehatan dan pendidikan yang didukung oleh para profesor Diaspora Indonesia di Amerika Serikat yang tergabung dalam IASA.

“Secara prinsip kita sangat ingin memberikan bantuan kepada Papua dengan kemampuan kami terutama dari Diaspora Amerika untuk memberikan cara-cara terbaru dan juga cara-cara yang mungkin bisa memberikan lebih baik di daerah-daerah, terutama di Papua,” katanya.

Sebab, katanya, metode yang dibawa IASA tidak hanya yang terbaru, tetapi juga dengan pengalaman puluhan tahun dari para professor.

“Sehingga kami fokuskan keadaan di Papua, karena Papua lebih unik sifatnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan dari segi telemedicine ada beberapa ketinggalan, yaitu di bidang regulasi atau peraturan-peraturan yang menjadi hambatan pelaksanaan program telemedicine yang digagas IASA.

Telemedicine bila diimplementasikan, tambahnya, akan cepat sekali untuk dibagikan.

“Tentu memerlukan training, peralatan untuk mereka yang akan mengoperasikan peralatan komputer karena dengan telemedicine akan sangat membantu orang di Indonesia, terutama Papua,” ujarnya.

Dengan telemedicine pelayanan kesehatan sangat terjamin, karena Puskesmas yang memiliki telemedicine bisa mengkonsultasikan pasiennya dengan para dokter ahli yang ada di Jakarta dan Makassar secara online.

“Sehingga pasien tersebut tidak serta merta dirujuk ke rumah sakit umum, namun dengan konsultasi tersebut dokter akan mendiagnosa bahwa penyakit yang diderita pasien bisa ditangani di puskesmas saja atau dirujuk,” katanya.

Ia menambahkan dengan adanya pelayanan telemedicine  akan sangat membantu pasien dan dokter atau mantri di daerah pedalaman yang akses ke rumah sakitnya sangat sulit atau jauh. Dengan telemedicine pasien bisa berkonsultasi dari puskesmas tempat tinggalnya.

Dengan telemedicine pasien didampingi dokter di puskesmas bisa mengkonsultasikan penyakitnya ke dokter ahli di Jakarta tanpa harus berkonsultasi ke Jakarta.

“Apa penyakit yang diderita, sudah parah atau tidak dan perlu lakukan operasi segera atau tidak, serta kemungkinan-kemungkinan lain sesuai diagnose, namun untuk operasi harus dirujuk ke rumah sakit terdekat yang memiliki peralatan yang lengkap,” katanya.

Herry Utomo dari IASA mengatakan program pelayanan medis jarak jauh berfokus kepada penggunaan alat telekomunikasi untuk memberikan informasi dan pelayanan medis jarak-jauh.

Program tersebut memanfaatkan teknologi satelit untuk menyiarkan konsultasi di antara berbagai fasilitas kesehatan kedua negara, serta memakai peralatan video conference atau telekonferensi.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, yang hadir menyaksikan demo telemedicine di Puskesmas Harapan menyampaikan terima kasih kepada IASA dan Bappenas yang telah membawa program telemedicine ke Papua.

“Kami berharap program ini dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat Papua untuk berkonsultasi dengan dokter ahli yang ada di luar Papua, terutama mereka yang ada di pingiran kota karena akses jalan yang jauh serta mengeluarkan biaya yang mahal dan ini akan memudahkan pasien,” katanya.

Sekretaris Daerah Provinsi Papua, Herry Dosinaen, mengatakan program telemedicine yang digagas IASA dan Bappenas bisa dibiayai. Tinggal pemerintah kabupaten dan kota melengkapi instrumen pendukungnya seperti penyediaan obat-obatan dan training dokter dan petugas kesehatan di puskesmas dan rumah sakit.

Telemedicine atau pelayanan medis jarak jauh akan mengurangi biaya pengobatan, misalnya di Puncak Jaya untuk berobat harus mengeluarkan uang ratusan juta untuk menyewa pesawat, namun dengan telemedicine kita bisa berkonsultasi dari puskesmas,” katanya.

Bila program tersebut berjalan baik, katanya, Pemprov Papua akan melakukan pelatihan bersama IASA dan Bappernas untuk petugas dari kabupaten dan kota setelah berkoordinasi dengan para kepala daerah.

“Kami hanya terkendala ITE dan listik yang akan berhubungan dengan internet dan sebagainnya, dan sekarang juga Palapa Ring sedang dibangun sehingga bisa menjadi instrumen kami untuk mendukung program ini dapat terlaksana dengan baik,” katanya.

Jika program berjalan baik, kata Dosinaen, maka tidak ada rujukan dan Kartu Papua Sehat (KPS).

“Diharapkan bisa mengakomodir semuanya dan tentunya para bupati dan wali kota mendukung dan melaksanakan ini dan diharapkan Bapak Menteri  PPN/Bappenas bisa mengkoordinir kementerian dan lembaga terkait untuk hal-hal yang perlu dilengkapi bersama,” ujarnya

Ia berharap program telemedicine atau pelayanan medis jarak jauh bisa diaplikasikan di seluruh Provinsi Papua. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)