Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Putra Marind siap berkompetisi pada Pilkada

Tokoh Papua Selatan Johanes Gluba Gebze – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

“Saya minta kepada semua orang, terutama non Papua untuk memberikan ruang kepada anak-anak Marind bertarung dalam pilkada, kami telah membuka tangan kepada siapa saja datang dan tinggal di negeri ini.”

MESKIPUN belum diketahui siapa saja yang akan maju bertarung dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Merauke 23 September 2020, baik melalui jalur perseorangan maupun partai politik, namun sejumlah tokoh telah mempromosikan diri.

Niat mereka terlihat melalui baliho, baik berukuran kecil, sedang, maupun besar di sejumlah lokasi agar dikenal publik.

Para bakal calon orang asli Marind yang gencar berpromosi di antaranya Romanus Mbaraka, Frederikus Gebze (petahana), Antonius Kaize, Yoseph Gebze, Herman Anitoe Basik-Basik, Fransiskus Ciwe, Hendrikus Mahuze, Christian Ndiken, dan Max Mahuze.

Dengan banyaknya putra Marind siap bertarung dalam Pilkada 2020, tokoh Papua Selatan, Johanes Gluba Gebze, ikut angkat bicara. Bagi Gebza fenomena tersebut menunjukkan Sumber Daya Manusia (SDM) anak asli Papua dari Marind sudah siap dan akan berlaga memperebutkan hati masyarakat.

“Saya kira tak perlu ditakutkan, ini saatnya anak Marind berkompetisi, entah dalam jabatan politik maupun karier karena SDM mereka telah siap dan tak perlu diragukan,” katanya.

Loading...
;

Dengan banyaknya anak Marind maju dalam pilkada, lanjut Gebza, mereka ingin memberitahukan kepada dunia, khususnya masyarakat Merauke bahwa semua sudah siap.

“Jika tak ada persiapan peralihan tongkat ke depan, saya kira kita gagal, bagi saya bukti keberhasilan meskipun mereka masih sebagai bakal calon bupati,” ujarnya.

Untuk bisa maju menjadi ditetapkan sebagai calon oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Merauke, mereka dapat melalui jalur politik yakni parpol dan jalur perseorangan.

Pasangan yang maju melalui partai politik harus memiliki enam kursi di lembaga Dewan Perwakilan Rakyat  Daerah (DPRD) Merauke. Kenyataannya, parpol di lembaga dewan tak bisa mengusung sendiri calon karena keterwakilan kursi tak sampai enam. Karena itu untuk maju parpol perlu melakukan koalisi.

Sedangkan bakal calon yang memilih jalur independen, tiket yang digunakan adalah mengumpulkan surat pernyataan dukungan dari pemilih yang yang masuk Daftar Pemilih Tetap (DPT). Dengan 148.000 pemilih dalam DPT Kabupaten Merauke maka pasangan calon perseorangan mesti memberikan bukti surat dukungan berikut kopian e-KTP minimal 15.000 pemilih.

“Memang untuk sekarang belum ketahuan siapa saja yang pasti, kita lihat bulan depan hingga Maret nanti,” ujarnya.

Gebze kembali menegaskan kalau orang Marind tak diberikan kesempatan bertarung dalam pilkada maka nasib mereka sama dengan DPRD sekarang, sebab lembaga legilatif tersebut kini didominasi oleh orang non Papua.

Menyangkut sejumlah bakal calon non Papua yang juga sedang bermanuver untuk ikut pilkada, Gebze menegaskan memang tak ada aturan yang melarang.

“Tetapi menurut saya aturan yang diberikan Tuhan adalah nurani, jadi pakailah nurani, jika aturan positif di dunia tidak ada aturan Allah ada, kita ingin tumbuh dan berkembang bersama-sama sebagai warga bangsa yang kuat dalam kekuatan serta kemajemukan,” ujarnya.

Kalau kekuatan serta kemajemukan dikurangi atau diabaikan dan berujung muncul masalah, jangan salahkan orang Marind-Papua.

“Anak-anak Marind ingin tumbuh dan berkembang, Tuhan Allah telah membagi negeri ini, lalu siapa juga yang bilang non Papua lebih hebat dari orang asli Marind,” katanya.

Ia meminta semua orang, terutama non Papua memberikan ruang kepada anak-anak Marind bertarung dalam pilkada.

“Kami telah membuka tangan kepada siapa saja datang dan tinggal di bumi Anim Ha,” katanya.

Motto Kabupaten Merauke, menurut Gebze, sangat jelas yakni “Izakod Bekai-Izakod Kai, Satu Hati-Satu Tujuan”. Artinya, “Kita ingin tumbuh dan berkembang bersama-sama agar tak menimbulkan permasalahan di kemudian hari.

“Janganlah memproduksi masalah, lantaran tidak ingin memberikan timbang rasa kepada Orang Asli Papua (OAP), Merauke adalah istana damai-istana cinta kasih, prinsip ini harus tetap dijaga serta dirawat dengan baik, tidak untuk dirusak,” katanya.

Salah seorang Bakal Calon Bupati Merauke, Romanus Mbaraka, ketika berdialog dengan masyarakat di Dusun Yakyu, Kampung Rawa Biru, Distrik Sota – Jubi/Frans L Kobun

Seorang tokoh yang akan maju sebagai calon bupati Merauke, Romanus Mbaraka, menyatakan dirinya siap bertarung dalam pelaksanaan pilkada September 2020.

“Keputusan saya bulat untuk siap bertarung dengan calon lain,” ujarnya.

Romanus mengaku akan segera mendeklarasikan diri bersama pasangan calon wakil bupatinya setelah rekomendasi dari partai politik dikantongi.

“Saya tidak ingin berkoar-koar, tunggu saatnya untuk deklarasi setelah rekomendasi ditangan, tetapi jelas saya maju melalui jalur partai politik,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top