Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Putra Putri Persipura sukses walau tanpa gelar

Tim perspipura usai laga dengan Madura United beberapa waktu lalu. dok Jubi

Papua No. 1 News Portal | Jub

Jayapura, Jubi – Perjalanan panjang Persipura Jayapura dan Persipura Putri di kompetisi Liga 1 2019 patut diacungkan jempol. Tanpa modal, dan tanpa target, skuad Mutiara Hitam berhasil menuai decak kagum walau diakhir kompetisi dua tim kebangaan masyarakat Kota Jayapura tersebut tak meraih tahta juara.

Awal musim bagi Persipura Jayapura, ditangani oleh legenda hidup PSM Makassar dan Persija Jakarta, Luciano Leandro. Pada turnamen pra musim, pasukkan Luci sapaan akrabnya memberikan harapan kepada publik Papua, bahwa Persipura dapat berbicara di kompetisi kasta tertinggi tanah air.

Manajemen pun mematok gelar juara kepada Boaz Solossa dan kawan-kawan. Sayang, di awal-awal musim, Persipura tak tersentuh kemenangan. Dari tujuh laga yang dijalani, Persipura hanya bisa mengumpulkan Empat poin.

Empat poin tersebut harus diraih dengan hasil imbang, yaitu melawan Persela Lamongan, PSS Sleman, Semen Padang FC dan Badank Lampung FC. Sedangkan tiga laga lainnya mengalami kekalahan. Tiga kekalahan tersebut didapat dari melawan Persib Bandung, PS Tira Persikabo, dan Arema FC.

Teriakan ganti pelatih pun berkumandang di Stadion Mandala Jayapura. Manajemen pun bergerak cepat untuk merespons suara dari pemain ke-12 Persipura tersebut. Mantan pelatih Persipura pun kembali didatangkan.

Jacksen F. Tiago pun akhirnya menandatangani kontrak dengan Persipura setelah mengundurkan diri dari Barito Putra. Nasib, JFT sapaan akrabnya di klub lamanya juga hampir sama dengan Luciano Leandro di Persipura. Tidak pernah meraih kemenangan dalam tujuh laga.

Loading...
;

Namun, keberuntungan JFT ada di Persipura. Memulai debutnya kala Persipura melawan Madura United, JFT berhasil mempersembahkan kemenangan perdana Persipura di depan pendukungnya sendiri dengan skor 1-0. Gol semata wayang Persipura tersebut di cetak oleh sang kapten Boaz Solossa pada menit ke-9.

Harapan untuk bangkit pun datang. Manajemen pun tak mematok gelar juara seperti awal musim. Intinya, Persipura harus lolos dari jurang degradasi. Mengapa? Saat Persipura kembali ditangani JFT, Persipura berada di posisi 17 klasemen sementara, alias dua peringkat dari dasar klasemen.

27 laga pun akhirnya dituntaskan dengan manis oleh JFT dengan memaksimalkan pemain yang ada. Akumulasi kartu hingga cidera berkepanjangan pemain Persipura membuat pelatih yang telah memberikan tiga gelar juara kepada Persipura tersebut memutar otak untuk mencapai ekspetasi yang diberikan manajemen kepada dirinya.

Ekspetasi tersebut pun melampuai batas. Dari 27 laga yang ditanganinya, Persipura berhasil meraih 14 kemenangan, tujuh laga dengan hasil imbang, dan hanya enam laga mengalami kekalahan. Dengan hasil tersebut, Persipura berhak menempati posisi tiga klasemen dengan perolehan 53 poin dari 14 kemenanga, 11 laga imbang, dan Sembilan laga mengalami kekalahan.

Persipura Putri Dikalahkan PSSI

Sebagai tim yang berpartisipasi pada edisi perdana liga sepakbola perempuan, kualitas permainan Persipura Putri tak perlu diragukan. Bermaterikan talenta-talenta lokal, skuat berjuluk Srikandi Mutiara Hitam ini tampil garang sepanjang kompetisi Liga 1 Series 3.

Dari 16 laga yang dilakoni, mereka memetik 14 kemenangan, sekali imbang dan cuma menderita satu kekalahan. Capaian 43 poin akhirnya berhasil mengantarkan Astri Yigibalom dan kawan-kawan melaju ke babak semifinal.

Di leg pertama semifinal pun, Srikandi Mutiara Hitam seperti tampil tanpa beban. Mereka mengalahkan tuan rumah Tira-Persikabo 4-5 di Pakansari, meski kemudian kalah 1-2 pada leg kedua di kandang.

Sampai di titik ini harusnya Persipura Putri dinyatakan lolos ke final karena unggul agregat gol tandang. Namun, situasi rupanya tak sesederhana itu.

Regulasi PSSI menyatakan agregat gol tandang tak berlaku untuk semifinal Liga 1 Putri 2019. Komite Disiplin (Komdis) menegaskan hal itu lewat surat bernomor 5308/AGB/1641/XII-2019 yang mereka klaim telah disetujui seluruh klub peserta.

Persipura yang merasa disudutkan oleh aturan itu lantas menolak bermain adu penalti. Komite Disiplin (Komdis) PSSI kemudian mengambil sikap menghukum Persipura kalah WO (dihitung 0-3).

Persipura Putri punya alasannya sendiri terkait penolakan melakoni adu penalti kontra Tira-Persikabo. Pihak klub mengaku heran karena regulasi peniadaan gol tandang yang diklaim PSSI “sudah disepakati” baru diitadatangani pada 4 Desember 2019, alias beberapa hari setelah mereka menang 4-5 di leg pertama.

Padahal, jika memang PSSI punya komitmen meniadakan gol tandang, aturan ini seharusnya sudah diteken sejak kompetisi belum dimulai.

Persipura Putri juga mempertanyakan aturan ini, sebab di sebagian besar kompetisi sepakbola gol tandang masih jadi aspek yang lazim diperhitungkan.

Aksi Persipura putri. Jubi/doc

Menurut keterangan Sekretaris Umum Persipura Rocky Bebena, Persipura Putri melayangkan surat protes kepada PSSI. Jika protes ini nantinya kembali tak digubris, maka mereka bersiap membawa kasus ini ke Komite Arbitrase Olahraga (CAS).

Di sisi lain, pihak PSSI dalam keterangan mereka tidak memberi alasan yang tegas soal munculnya regulasi peniadaan gol tandang. Ketua Komdis PSSI, Asep Edwwin Firdaus hanya menegaskan kalau aturan ini harus ditaati setiap klub peserta.

Fenomena penetapan aturan baru saat kompetisi sudah kadung berjalan sebenarnya bukan isu baru di Indonesia.

Di kompetisi Piala Indonesia misal, PSSI pernah mengizinkan pendaftaran ulang pemain saat turnamen menyentuh babak 32 besar. Saat bertugas merangkap jadi operator, federasi juga pernah tidak memberlakukan aturan walk-out (WO) ketika Persib Bandung mulanya gagal mencari izin stadion untuk menjamu Persiwa Wamena pada leg kedua 32 besar Piala Indonesia.

Keputusan ini tidak saja sempat menuai protes keras dari Persiwa, tapi juga dari suporter Persib yang tak mau klubnya meraih kemenangan dengan cara yang tidak sportif.

Dari sejumlah catatan tersebut, harapan terbesar untuk federasi pada kompetisi tahun depan agar bisa menjalankan kompetisi dengan arif dan bijaksana, tanpa harus mementingkan kepentingan klub tertentu. Dan semoga, para petinggi PSSI dapat mengerti soal fair play dalam sebuah pertandingan. (*)

Editor: Syam Terrajana

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top