Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Referendum Bougainville diharapkan bawa perubahan untuk atol-atol terpencil

Desa Nukutoa, Takuu. – RNZI/Briar March

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Takuu, Jubi – Masyarakat di atol-atol di Bougainville berharap referendum kemerdekaan yang akan datang, bisa mendorong untuk meningkatkan pelayanan ke pulau-pulau terpencil.

Periode dua minggu untuk referendum Bougainville menentukan nasib sendiri dari Papua Nugini dimulai Sabtu ini, 23 November. Referendum yang tidak mengikat ini adalah salah satu ketetapan perjanjian perdamaian Bougainville tahun 2001, yang secara resmi mengakhiri perang saudara yang berkecamuk sepanjang 1990-an.

Sione Paasia, seorang konsultan penerbangan yang berasal dari Atol Takuu (juga dikenal sebagai Mortlock), menjelaskan bahwa seluruh Bougainville telah menderita karena pengabaian layanan publik sejak perang saudara.

Dia mengungkapkan, bagi masyarakat yang tinggal di atol-atol di Bougainville yang terpencil, keperluan terbesar mereka adalah agar layanan pengiriman barang lebih sering dilakukan. Rata-rata, katanya, kapal datang hanya sekitar lima atau enam kali setahun.

Loading...
;

“Dan itu sangat menyulitkan dalam berbagai sisi, termasuk kegiatan ekonomi, termasuk layanan kesehatan dan pendidikan khususnya. Jadi akibatnya ada arus urbanisasi yang besar dari atol-atol ke Buka dan banyak daerah lainnya di PNG.”

Menurut Paasia, ia adalah salah satu dari sekitar 1.600 orang Takuu yang meninggalkan atol mereka, untuk mencari peluang kerja, dan sekarang tersebar di PNG dan bagian lain di seluruh dunia. Sekarang, ia diberitahu, kurang dari 400 orang saja yang masih tinggal di Takuu.

Komisi referendum Bougainville (BRC) telah berupaya keras untuk mendaftarkan semua orang dari atol-atol Bougainville yang terpencil, untuk memilih dalam referendum.

Masyarakat di atol-atol ini melihat referendum sebagai langkah yang mungkin dapat memulihkan ekonomi dan layanan publik Bougainville, kembali ke masa-masa jaya sebelum perang pecah. Terlepas dari tambang Panguna yang merupakan akar krisis itu, ekonomi Bougainville saat itu berbasis pertanian, terutama perkebunan kakao dan kelapa yang berkembang pesat pada saat itu namun belum pulih hingga saat ini.

Paasia juga menambahkan bahwa Bougainville memiliki satu sumber daya lainnya yang tidak kalah pentingnya – pemimpin-pemimpin yang baik.

“Saya percaya alasan mengapa kita sangat maju waktu itu adalah karena kita memiliki pemimpin-pemimpin yang memiliki pendirian dan tidak mementingkan kepentingan pribadi. Mereka fokus pada apa yang perlu kita lakukan bagi Bougainville,” tuturnya. “Sumber daya alam tidak selalu berarti negara yang makmur, kecuali jika ada pemimpin-pemimpin yang baik.”

“PNG akan menjadi negara yang lebih baik jika Bougainville merdeka.”

Ia percaya Bougainville dan PNG dapat hidup berdampingan dengan harmonis. “Selama kita menemukan pemimpin yang tepat, progresif, dan memiliki pola pikir dan integritas untuk memimpin Bougainville pasca-2020. Ada banyak pemimpin Bougainville yang baik di luar sana, yang belum sempat mencapai posisi kepemimpinan. Dan jika kita bisa menemukan dan mengidentifikasikan pemimpin-pemimpin itu di sana, kita akan mengubah Bougainville dan kita juga bisa mengubah layanan ke atol-atol terpencil.” (RNZI)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top