HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Rencana larang popok sekali pakai, Vanuatu dipuji

Rencana larang popok sekali pakai, Vanuatu dipuji

 

Studi atas pengaruh larangan popok sekali pakai pada orang tua kelas pekerja, belum dilakukan sampai saat ini. – Guardian News/Vershinin/Getty Images/iStockphoto

Papua No. 1 News Portal | Jubi

London, Jubi – Vanuatu mungkin hanyalah titik kecil di Samudra Pasifik yang luas, tetapi negara itu memimpin perang global melawan limbah plastik.

Bangsa itu, yang telah memberlakukan salah satu larangan plastik sekali pakai paling ketat di dunia, diyakini akan menjadi negara pertama yang memulai larangan popok sekali pakai, yang akan dilakukan secara bertahap dimulai akhir tahun ini.

Dalam suatu pertemuan di London pekan lalu, dipimpin Patricia Scotland, Sekretaris Jenderal Persemakmuran, Vanuatu dipuji sebagai salah satu dari 12 negara yang terus maju melawan tantangan-tantangan polusi lautan dan perubahan iklim.

Proposal ekstrem untuk melarang penggunaan popok sekali pakai, yang mengandung plastik dan perlu ratusan tahun untuk terurai, telah menyebabkan protes dari kalangan orang tua negara itu, yang mengeluh kebijakan itu akan mempersulit perempuan, gender pengasuh anak utama dari sekitar 20.000 bayi di pulau itu.

Tetapi pemerintah negara berdataran rendah itu, yang sudah mulai merasakan dampak dari tantangan-tantangan iklim dan ekologis, dengan naiknya permukaan laut dan polusi lautan, berkata mereka tidak punya pilihan lain.

“Vanuatu melindungi masa depannya,” kata Mike Masauvakalo dari Kementerian Luar Negeri. “Limbah plastik akan sampai ke air laut dan rantai makanan, dan pada akhirnya, orang-orang Vanuatu memakan (mereka). Ada banyak protes dari komunitas dan kelompok perempuan tentang larangan itu,” tambahnya.

Dia menerangkan bahwa upaya untuk menemukan pengganti popok sekali pakai untuk orang tua di Vanuatu itu tidak mudah, tetapi mereka masih mempelajari katun sebagai alternatif.

Masauvakalo juga mengatakan larangan kantong plastik tahun lalu sudah mulai berdampak di negara itu, di mana sampah plastik yang terlihat di jalan-jalan lebih sedikit dan orang-orang telah beralih menggunakan tas kain dan tas buatan lokal.

Departemen perlindungan lingkungan hidup Vanuatu membenarkan pentingnya studi atas pengaruh larangan ini pada orang tua kelas pekerja, tetapi penelitian tersebut belum dilakukan sampai saat ini.

Vanuatu mengumumkan larangan tersebut setelah penelitian oleh Commonwealth Litter Program (CLiP), yang menemukan bahwa limbah organik dan popok sekali pakai mencakup tiga perempat dari total limbah yang dihasilkan. Saat ini negara itu sedang melakukan konsultasi publik dengan usaha-usaha lokal, LSM, masyarakat sipil, dan kelompok lainnya. Hasil dari konsultasi tersebut, yang akan berlangsung dari 1 Desember 2019 hingga 31 Desember 2020, akan diawasi dengan ketat oleh negara lain. (The Guardian)


Editor: Kristianto Galuwo

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)