Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Rendahnya semangat anak murid untuk sekolah

Kegiatan belajar mengajar di salah satu ruangan yang hanya diikuti beberapa murid di SDN Wapeko – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

“Komitmen kami adalah anak-anak harus bisa belajar menulis dan membaca, itu paling utama. Karena umumnya yang sekolah di SDN Wapeko adalah anak-anak Papua.”

KAMIS 28 November 2019, Jubi melakukan perjalanan ke Kampung Wapeko, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke. Perjalanan dari kota hingga kampung tersebut kurang lebih tiga jam, lantaran beberapa ruas jalan mengalami kerusakan, sehingga mobil yang ditumpangi harus ekstra hati-hati di jalan.

Meskipun ada kegiatan lain yang hendak diliput, namun Jubi menyempatkan waktu mendatangi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Wapeko sekitar pukul 11.00 WP. Di sekolah itu, hanya terdapat sekitar lima siswa. Sedangkan guru-guru yang berjumlah tujuh orang, sedang mempersiapkan bahan atau materi untuk pelaksanaan ujian.

Kepala Sekolah SDN Wapeko, Sutrianto – Jubi/Frans L Kobun

Kepala Sekolah (Kepsek) SDN Wapeko, Sutrianto, mengungkapkan jumlah murid dari kelas I-VI sebanyak 54 orang. Sedangkan guru, awalnya sembilan orang. Namun dua telah pindah, sehingga tersisa tujuh guru. Semuanya adalah guru yang berstatus aparatur sipil negara (ASN).

Loading...
;

Sejak tahun 2007, Sutrianto sudah bertugas di sekolah itu. Jumlah muridnya mencapai 80-an orang. Namun, dari tahun ke tahun, terjadi penurunan hingga saat ini tersisa 54 anak didik.

Dari jumlah itu, tidak semua murid masuk sekolah secara rutin. Kadang kala, semua anak masuk sekolah ketika mendapat informasi ada kunjungan dari PT Medco Papua, sekaligus memberikan bantuan.

“Begitu tak ada kunjungan, anak murid pun jarang masuk sekolah. Dalam satu hari, yang masuk sekolah hanya sekitar 10-15. Pak Wartawan bisa melihat kondisi sekarang. Jumlah anak masuk kelas sangat minim,” ujarnya sembari melayangkan pandanganya ke dalam kelas.

Meski demikian, semangat para guru tak pernah kendor. Mereka tetap masuk sebagaimana biasa. Jika tidak ada anak ke sekolah, para guru harus mencari anak-anak itu ke rumah-rumah. Upaya itu kurang mendapat respons positif dari para orangtua.

“Berulang kali kita melakukan pertemuan orangtua dengan komite melibatkan juga Babinsa. Sekaligus mengingatkan orangtua agar anak-anaknya didorong ke sekolah. Dalam satu dua hari, semuanya sekolah. Tetapi minggu berikutnya satu persatu mulai hilang,” katanya.

Terkadang, orangtua membawa anaknya masuk ke rawa mencari ikan atau ke dusun. Juga ketika ada kematian, sebagian besar anak tidak sekolah. Kondisi seperti demikian sering terjadi.

Meski jumlah anak masuk sekolah sangat minim, namun kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan sebagaimana biasa.

“Saya selalu mengingatkan kepada rekan-rekan guru  (tetap) masuk sekolah,” ungkapnya.

“Komitmen kami adalah anak-anak harus bisa belajar menulis dan membaca, itu paling utama. Karena umumnya yang sekolah di SDN Wapeko adalah anak-anak Papua. Kalau anak-anak pendatang, jumlahnya tidak sampai 10 orang,” katanya.

Hal serupa disampaikan salah seorang guru, Sispuji Laksono. Menurutnya, dukungan orangtua untuk memotivasi anaknya ke sekolah sangat minim, padahal berulang kali telah disampaikan.

“Tidak tahu dengan cara apa lagi agar anak-anak lebih rajin ke sekolah. Pendekatan dengan orangtua berulang kali dilakukan. Bahkan anak-anak dicari sampai rumah. Tetapi mereka melarikan diri dan bersembunyi di hutan,” katanya.

Pak guru bercerita pengalamannya yang lain. Para guru yang menegur anak didiknya di sekolah, kala membuat kesalahan, justeru akan didatangi orangtua murid dan dimarahi dengan mengeluarkan kata-kata yang kurang sopan. Menurutnya, setiap ditegur, anak-anaknya biasanya langsung melaporkan kepada orangtua mereka.

Hal seperti begitu sering dilakukan. Namun demikian, guru tetap melaksanakan tugas seperti biasa.

“Kami hanya menginginkan agar anak-anak Papua ini bisa belajar menulis dan membaca. Sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi,” harapnya.

Dikatakan lagi, secara umum, para guru selalu masuk sekolah secara rutin, meskipun jumlah anak murid minim. Intinya, proses belajar mengajar tetap berjalan.

“Kami tak pernah menyerah, meskipun selalu ada tantangan didapatkan entah dari ulah anak didik maupun orangtuanya yang datang marah-marah di sekolah,” katanya.

Semoga, mimpi agar ada lebih banyak anak-anak yang dikirimkan orangtua mereka ke sekolahan ini kembali bertambah. (*)

Editor: Yuliana Lantipo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top