HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

RUU ekstradisi Hong Kong dinyatakan batal

Ilustrasi, dok jubi

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Hong Kong, Jubi – Pemimpin Hong Kong Carrie Lam, menyatakan rancangan undang-undang ekstradisi yang telah menyulut krisis politik terbesar di wilayah itu sudah mati. Ia mengakui tugas pemerintah untuk mengusung RUU tersebut “gagal total”.

Tercatat pertengahan Juni lalu Lam menanggapi gelombang protes tersebut dengan menangguhkan RUU. Namun pada Selasa, ia mengatakan “masih terus ada keraguan soal ketulusan pemerintah, juga kekhawatiran soal apakah pemerintah akan memulai kembali proses ini di dewan legislatif”.

“Jadi, saya tekankan di sini, tidak ada rencana seperti itu, rancangan undang-undang tersebut sudah mati,” tegasnya, dalam acara jumpa pers, mengenai RUU Ekstradisi, Selasa, (9/7/2019).

Berita terkait : Protes baru kembali guncang Hong Kong

Loading...
;

Ribuan warga Hongkong protes UU ekstradisi baru

Suara Generasi Baru Radikal Warnai Hasil Pemilu Hong Kong

RUU Ekstradisi  memungkinkan orang-orang di Hong Kong dibawa ke China daratan untuk diadili, telah menyulut demonstrasi besar-besaran yang terkadang disertai kekerasan. Perdebatan soal RUU tersebut juga menjebloskan wilayah bekas koloni Inggris itu ke jurang kekacauan.

Pernyataan Lam tampaknya merupakan kemenangan bagi para penentang RUU. Namun, masih belum jelas apakah pernyataan itu akan cukup memuaskan mereka.

Sebelumnya, para pengunjuk rasa penentang RUU juga telah meminta Lam untuk mengundurkan diri. Mereka juga meminta agar penyelidikan independen digelar untuk mengusut tindakan polisi terhadap para pengunjuk rasa.Selain itu, pemerintah diminta untuk tidak menyebut protes, yang disertai kekerasan, pada 12 Juni sebagai kerusuhan.

Hong Kong dikembalikan kepada China oleh Inggris pada 1997 dengan janji akan diberi otonomi sangat luas. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini, kekhawatiran meningkat bahwa kebebasan itu telah terkikis di tangan Beijing.

Krisis menyangkut RUU Ekstradisi merupakan tantangan terbesar yang pernah dihadapi Beijing dalam menguasai wilayah itu selama 22 tahun, yaitu sejak China daratan mendapatkan kembali kendali atas Hong Kong.

Hong Kong dikembalikan kepada China pada 1997 berdasarkan formula “satu negara, dua sistem”, yang memungkinkan Hong Kong mendapat kebebasan –yang tak bisa dinikmati di China daratan, termasuk hak untuk menggelar unjuk rasa serta pengadilan independen.

Beberapa kalangan ahli hukum serta kelompok pembela hak asasi mengatakan sistem peradilan China ditandai dengan penyiksaan, pemaksaan untuk mengaku serta penahanan sewenang-wenang. Meski tuduhan itu dibantah Beijing. (*)

Editor : Edi Faisol

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top