Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Saksi: perusakan dan pembakaran bangunan di Wamena karena terprovokasi tembakan senjata

Suasana aksi protes para pelajar di wamena, akibat dugaan ujaran rasis seorang guru, sebelum ricuh . Jubi/Ist

Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Salah satu saksi, Obelom Wakerkwa mengatakan, perusakan dan pembakaran sejumlah gedung (fasiltas) umum di kota Wamena,Jayawijaya pada Senin, (23/9/2019) terjadi setelah massa terprovokasi dengan bunyi tembakan berturut-turut.

“Massa aksi adalah anak-anak SMA, mereka tidak melakukan perusakan. Tapi sejak pagi TNI, Polri dan Brimob melepaskan tembakan ke udara, bahkan hanya berjarak kurang dari 20 meter di depan anak sekolah. Ini saya lihat di depan SMK Yapis Wamena, tembakan berulang-ulang ini membuat anak SMA semakin terpancing emosi dan tidak dapat dikendalikan,” ujar Obelom Wakerkwa kepada Jubi melalui sambungan telepon  seluler.

Awalnya, kata Obelom, aksi ini dipicu oleh kejadian di SMA PGRI Wamena pada tanggal 21 September 2019. Seorang guru mengatakan anak muridnya ‘monyet’ di ruang kelas.

“Informasi ini berkembang dari siswa ke siswa hingga ke sekolah lain. Mulai dari jam 08.00 WP hingga waktu saat ini di Wamena terjadi aksi yang dipelopori oleh pelajar SMA di kota Wamena,” katanya bersambung.

Menurut dia, pagi ini ratusan siswa SMA mogok sekolah lalu turun ke jalan, massa aksi kemudian dikumpulkan di kantor Bupati Jayawijaya. Sebagian dari massa aksi yang tidak bergabung di kantor Bupati melakukan pembakaran di sejumlah ruko dan termasuk kantor bupati.

Loading...
;

“Jadi awalnya mereka aksi terkendali, hanya karena aparat keamanan keluarkan peluru bertubi-tubi sehingga para siswa tidak terima. Mereka anggap memangnya kami mau lakukan kerusuhan ka, padahal mau sampaikan aspirasi saja,” ujarnya.
Yosua, saksi lainnya menyebutkan, saat para siswa penyampaikan isi hati, Polisi bahkan melepaskan gas air mata.

“Ya polisi juga melepaskan gas air mata ke anak-anak SMA yang sedang berorasi di halaman kantor Bupati Jayawijaya,” kata Yosua.

Ia mengatakan, tuntutan mereka adalah memanggil guru yang bersangkutan untuk memintai keterangan lebih jelas.

“Kami mengutuk tindakan TNI dan Polri yang melepaskan tembakan berulang-ulang kali di depan anak-anak SMA,” katanya.

Ia menambahkan, pihaknya masih mengumpulkan data secara rinci berapa dan siapa saja korban dalam insiden itu. (*)

Editor: Syam Terrajana

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top