Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Samoa berduka, puluhan anak korban campak dimakamkan

Fa’aoso Tuivale dan suaminya, Tuivale Luamanuvae Puelua, duduk di tepi kuburan anaknya di Lauli’i, Samoa. – Samoa Observer/Misiona Simo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Sapeer Mayron, hasil kolaborasi dengan Samoa Observer

Dalam enam minggu, wabah campak telah menyerang 3.000 orang dari populasi 200.000, menewaskan 42, kebanyakan anak-anak.

Fa’aoso Tuivale berbaring di kuburan anak-anaknya di siang hari, saat dimana ia paling merindukan mereka.

Dia dan suaminya, Tuivale Luamanuvae Puelua, sedang duduk di atas beton yang baru kering, menandai kuburan anak mereka, Itila yang berusia tiga tahun, dan si kembar yang berumur 13 bulan, Tamara dan Sale, dan bercerita tentang satu minggu yang telah berlalu sejak mereka memakamkan anak-anaknya.

Loading...
;

“Kepergian anak-anak saya terjadi seperti pencuri di malam hari, begitu tiba-tiba dan tidak terduga,” tutur Puelua. “Pikiran kami menjadi kosong dan kami tidak dapat berkata apa-apa, karena tidak ada kata yang tepat di dunia ini untuk menggambarkan bagaimana saya dan istri saya harus mengucapkan selamat tinggal kepada anak-anak kami.”

Keluarga Tuivale adalah keluarga yang terkena dampak paling parah dari penyakit yang telah menaklukkan bangsa kecil di Pasifik Selatan, Samoa, selama lebih dari sebulan.

Samoa, yang berjarak 4.300 km sebelah timur Sydney dan lulus menjadi negara maju pada 2014, dikenal oleh sebagian besar orang dari luar sebagai negara destinasi liburan tropis yang damai.

Tetapi selama enam minggu terakhir, negara ini telah dicekam oleh wabah campak yang mematikan. Ada lebih dari 3.000 kasus yang telah dipastikan di negara yang hanya berpenduduk 200.000 orang, 42 orang meninggal, 38 di antaranya anak-anak di bawah empat tahun.

Keluarga Tuivale tinggal di Desa Lauli’i, 9 km di luar ibu kota, Apia. Rumah mereka, yang tersembunyi di semak nanas, pohon-pohon pisang, talas, dan pohon-pohon pepaya di ujung jalan berdebu panjang yang menyusuri Sungai Namo.

“Sale itu yang pendiam, dia biasanya tidak nakal,” kenang Tuivale tentang anak-anak yang meninggalkannya. “Tamara dan Itila yang yang selalu ribut dan berkelahi.”

“Kebun ayah saya biasanya digunakan sebagai taman bermain untuk anak saya yang berusia tiga tahun; dia biasanya bermain dengan tanaman-tanaman dan membuat kakeknya sakit kepala.”

‘Tidak ada yang pernah berpikir untuk mengubur anak-anak mereka’

Penyakit paling menular di dunia itu telah menyebar ke beberapa negara maju tahun ini, dan meski beberapa negara menderita kerugian yang sangat besar akibatnya, negara-negara lainnya tidak banyak kehilangan nyawa manusia. Selandia Baru baru-baru ini menderita epidemi terburuk dalam 20 tahun – 2.000 orang terinfeksi, tidak ada seorang pun yang meninggal.

Samoa memiliki komunitas diaspora yang sangat besar di Selandia Baru, sehingga tidak dapat dihindari bahwa campak akhirnya akan mencapai pantai Samoa. Ketika tiba, ia (wabah campak) menjumpai populasi dengan tingkat imunisasi yang sangat rendah dan layanan kesehatan yang tidak memadai untuk menghadapi tantangan epidemi seperti itu.

Jumlah imunitas populasi Samoa telah diperkirakan oleh WHO turun hingga 30-40%, dibandingkan dengan negara-negara tetangganya di Pasifik, seperti Tonga dan Samoa Amerika, yang memiliki tingkat cakupan imunisasi lebih dari 90%, mendekati atau mencapai angka yang direkomendasikan untuk kekebalan.

Cakupan imunisasi bayi menurun dalam beberapa tahun terakhir. Empat tahun lalu, sekitar 85% dari anak usia satu tahun telah divaksinasi, pada 2017 persentase ini turun menjadi 60%.

Namun sejak saat itu, angka itu kolaps tajam, setelah skandal yang mengguncang Samoa pada 2018, ketika dua perawat Samoa memberikan vaksin MMR untuk bayi yang kemudian meninggal dunia. Kedua perawat mengaku bersalah karena lalai yang menyebabkan kematian dua bayi, dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara setelah diketahui bahwa salah satu perawat mencampur vaksin bubuk MMR dengan anestetis pelemas otot yang sudah kedaluwarsa, bukan air sebelum disuntikkan.

Masyarakat kehilangan rasa percaya kepada pemerintah dan pada program imunisasi, yang berarti bahwa pada 2018, hanya 31% anak-anak di bawah lima tahun yang telah divaksinasi.

Peter von Heiderbrandt adalah anak pertama yang meninggal dunia akibat wabah ini; dia meninggal pada Hari White Sunday, hari libur anak-anak nasional pada 13 Oktober.

“Tidak ada yang pernah berpikir untuk mengubur anak-anak mereka, saya selalu berpikir anak-anak saya akan menguburkan saya,” kata ayahnya, Jordan von Heiderbrandt.

Komplikasi dengan penyakit lain, seperti pneumonia, telah merenggut lebih banyak nyawa. Seorang dokter Australia, Dan Holmes berkata kepada Samoa Observer, terutama karena perawatan yang diperlukan terlalu berat untuk ditangani oleh tubuh-tubuh mungil.

“Tidak diragukan lagi, ada kemungkinan bahwa anak-anak yang mengalami infeksi yang sangat parah, mereka akan memiliki masalah kesehatan lagi ke depannya.”

Keadaan darurat kesehatan masyarakat

Otoritas kesehatan bukan hanya lengah dalam cakupan imunisasi, begitu wabah campak tiba, mereka juga lambat menyatakan bahwa negara itu menghadapi epidemi, menunggu sampai beberapa minggu setelah wabah pecah, setelah 200 kasus yang awalnya diduga telah dipastikan dan satu anak meninggal dunia. Sebulan kemudian, pada 15 November, ketika jumlah korban tewas telah naik menjadi 16 jiwa, pemerintah mengumumkan keadaan darurat kesehatan masyarakat nasional.

Sejak deklarasi itu, Samoa telah berubah secara drastis.

Imunisasi menjadi wajib dan kampanye massal dimulai pada Senin berikutnya, yang menyebabkan lebih dari 30 pos didirikan di dalam aula-aula gereja dan sekolah-sekolah dasar, dan bahkan satu di luar suatu toserba.

Puluhan kendaraan klinik keliling yang penuh dengan perawat bersenjatakan megafon – berkeliling di seluruh negara itu, berupaya menjangkau setiap orang, dan polisi dikerahkan untuk menjaga perdamaian di klinik-klinik vaksinasi.

Di bawah peraturan keadaan darurat nasional ini, orang-orang di bawah usia 19 dilarang mengikuti pertemuan-pertemuan publik. Sekolah-sekolah telah ditutup, dengan ujian-ujian tidak diselesaikan dan upacara wisuda dibatalkan.

Kedai-kedai kopi di Apia kosong dan jualan pedagang di pasar tidak laku. Khawatir akan anak-anak mereka, keluarga-keluarga telah membatalkan penerbangan pulang ke Samoa untuk Natal, yang biasanya merupakan waktu tersibuk tahun ini untuk sektor pariwisata, sementara apotek-apotek dilaporkan menjual habis sanitiser tangan dan masker wajah, yang telah menjadi aksesori umum masyarakat di pasar, bank, dan tempat-tempat kerja di kota.

Setelah pemerintah Samoa meminta bantuan, hanya dalam dua minggu, hampir 100 pekerja kesehatan tambahan telah tiba dari Australia, Selandia Baru, Polinesia Prancis, dan Amerika Serikat. Satu tim dokter, perawat, dan ahli epidemiologi dari Inggris terbang ke negara itu pada Jumat lalu (29/11/2019), dan ratusan ribu vaksin telah dikirim dari Selandia Baru dan Dana Anak-anak (Children’s Fund) PBB.

Dihambat kelompok antivaksin dan dukun tradisional

Upaya-upaya terbaik pemerintah untuk melawan epidemi itu dihambat oleh influencer-influencer daring yang menyarankan pengobatan alternatif. Vitamin dan air kangen – air alkali (basa) yang diramu menggunakan mesin Jepang – keduanya disebut-sebut sebagai obat manjur.

Kelompok antivaksin juga telah menyebarkan pesan mereka secara daring, termasuk seseorang – yang juga merupakan influencer media sosial dan istri dari pemain rugby league Samoa – yang menyamakan Pemerintah Samoa dengan Partai Nazi Jerman karena program vaksinasi wajibnya.

Beberapa keluarga memilih mempercayai penyembuh tradisional Samoa yang menggunakan obat-obatan seperti daun teh, yang efektif dalam mengurangi demam, tetapi tidak bisa menekan virus yang sebenarnya.

WHO telah membantah semua pengobatan alternatif semacam itu dan memperingatkan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pengobatan-pengobatan itu berhasil.

“Untuk menunda atau menciptakan keraguan dengan pengobatan yang tidak bekerja, menurut saya, itu menipu orang-orang agar tidak mendapatkan perawatan,” kata Nikki Turner, dari WHO.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Samoa, Take Naseri, mendesak keluarga-keluarga dan dukun-dukun tradisional untuk segera datang ke rumah sakit, sebelum terjadi komplikasi yang tidak dapat disembuhkan.

“Ketika orang-orang putus asa, mereka mencari cara lain untuk mendapatkan bantuan, dan kita tidak bisa menghentikan hak orang-orang itu untuk memilih ke mana mereka ingin pergi. Kita telah memberi semua informasi kepada mereka sehingga mereka memiliki keputusan yang tepat, dan inilah bagian yang paling sulit.”

Dengan infeksi melonjak hingga 200 orang per hari, wabah ini belum mencapai titik kritis di mana penyakit ini berhenti menyebar.

“Ini belum pernah terjadi sebelumnya … Semua orang berupaya dengan sigap,” kata Limbo Fiu, presiden Asosiasi General Practitioner Samoa.

“Kita mengantisipasi hal ini akan berlangsung untuk beberapa waktu.” (The Guardian)

Artikel ini adalah hasil bersama The Guardian dengan Samoa Observer.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top