HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Sampah bikin pedagang merana

Ilustrasi tumpukan sampah pasar – Jubi/Titus Ruban

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sampah membuat pendapatan pedagang anjlok dalam dua bulan terakhir. Calon pembeli enggan menghampiri lantaran pasar menjadi kumuh.

KEMALANGAN menimpa Marni. Omzetnya menurun drastis. Uang hasil berdagang yang biasa mencapai Rp500 ribu, kini paling sebesar Rp100 ribu yang bisa dibawa pulang setiap hari.

Sampah yang menggunung di lokasi Marni berjualan menjadi musababnya. Lorong pasar menjadi terhalang sehingga calon pembeli enggan menyinggahi kiosnya.

Sudah sekitar dua bulan sampah tidak terangkut sehingga berserakan dan menggunung di Pasar Karang Tumaritis, Nabire. Selama itu pula omzet dagangan Marni menyusut. Bau menyengat merebak di lingkungan pasar dan lorong pun becek. Gunungan sampah membuat lingkungan pasar menjadi kumuh.

Loading...
;

“Jarang ada pembeli karena jalan menjadi berlumpur dan bau. Biasa bisa dapat Rp500 ribu (sehari), sekarang dapat Rp100 saja susah,” kata Marni kepada Jubi, Senin (20/5/2019).

Tidak hanya Marni yang merugi akibat sampah. Pedagang lain juga bernasib serupa. Ambo, misalnya. Perantau asal Sulawesi Selatan, itu tidak habis pikir mengapa sampah tidak kunjung diangkut Pemerintah Kabupaten Nabire selaku pengelola pasar dan persampahan.

“Faktor kebersihan memengaruhi untung-rugi (pendapatan) pedagang. Kalau kondisi pasar bersih, orang tentu akan senang untuk masuk dan berbelanja,” kata Ambo.

Hak pedagang

Kondisi yang dialami para pedagang tersebut tidak sebanding dengan kewajiban yang telah ditunaikan. Mereka selalu rutin menyetor sejumlah uang untuk berbagai jenis pajak maupun retribusi kepada pemerintah setempat.

Setiap pedagang yang menempati kios wajib membayar pajak sebesar Rp205 ribu sebulan. Di luar itu, semua pedagang juga dibebani biaya retribusi kebersihan sebesar Rp20 ribu dan uang keamanan sebesar Rp50 ribu sebulan.

Ambo sebenarnya tidak mau ambil pusing dengan ketentuan yang sudah menjadi kewajiban para pedagang tersebut. Namun, ceritanya menjadi lain karena kewajiban itu tidak diimbangi dengan pemenuhan hak para pedagang. Lokasi tempat mereka mencari nafkah kini menjadi tidak layak sehingga calon pembeli banyak yang lari.

“Kami tidak mempermasalahkan pajaknya karena sudah menjadi kewajiban, tetapi itu juga harus diimbangi dengan (pemenuhan) hak.  Kami tidak butuh yang lain, kecuali sampah ini harus diangkut,” kata Ambo.

Marni maupun Ambo sangat berharap pemerintah setempat segera mengambil tindakan. Kondisi pasar dikembalikan seperti sedia kala. Lingkungannya bersih dari sampah. Dengan demikian, pundi-pundi rupiah mereka pun kembali penuh terisi.

Sampah memang masih menjadi permasalahan klasik di Nabire. Kondisi ini juga banyak dikeluhkan warga di berbagai wilayah, termasuk para pedagang di pasar lain. Pemerintah kerap berdalih kekurangan personel, armada, hingga dana operasional dalam mengelola sampah.

“Seluruh retribusi sampah langsung disetor ke kas daerah, sehingga uangnya tidak bisa langsung dipakai. Jadi, kami harus menunggu penyerahan DPA (dokumen pelaksanaan anggaran),” kata staf Bidang Persampahan Dinas Lingkungan Hidup Nabire, Anselmus Degei, beberapa waktu lalu. (*)

Editor: Aries Munandar

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top