HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

‘Samubah Aweybe’, kiprah perempuan di Manokwari layani kesehatan gratis

Perempuan Papua dalam Komunitas ‘Samubah Aweybe’ saat melakukan Penyuluhan dan pelayanan kesehatan gratis bagi warga kampung Demdameh, Distrik Didohu kabupaten Pegaf. (Jubi/Hans Arnold Kapisa).

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Manokwari, Jubi – Pola hidup bersih, layanan kesehatan dasar dan pengurangan jumlah buta aksara, merupakan harapan besar Pemerintah Papua Barat untuk menciptakan generasi masa depan Papua yang sehat dan berdaya saing. Harapan besar Pemerintah ini, tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan dan keterlibatan semua elemen masyarakat.

Di Manokwari, kelompok perempuan Papua yang tergabung dalam komunitas ‘Samubah Aweybe’ secara mandiri dan swadaya melakukan pelayanan kesehatan gratis disertai sosialisasi tentang pola hidup bersih dan sehat kepada kelompok masyarakat kecil di pinggiran kota Manokwari.

Flora Kambuaya, ketua komunitas Samubah Aweybe kepada Jubi, menuturkan bahwa komunitas yang dibesutnya baru berjalan sekitar tujuh bulan disejak didirikan awal Januari tahun 2019.

Berbekal ilmu dan pengalaman, perempuan asli suku Maybrat ini bersama tiga anggotanya  memutuskan untuk mengabdi kepada masyarakat dengan apa yang mereka miliki.

Loading...
;

“Awal mula komunitas ‘samubah aweybe’ dari pemikiran kami bersama dengan satu tujuan yaitu melayani sesama dengan berkat dan ilmu pengetahuan yang kami miliki,” ujar Flora, Minggu (28/7/2019).

Pelayanan kepada masyarakat, kata Flora, bukan saja menjadi tanggungjawab Pemerintah, tetapi peran semua pihak dari kelompok/organisasi dan komunitas, turut andil dalam dunia kesehatan dan pendidikan khususnya bagi OAP di tanah Papua.

Dia menjelaskan, nama komunitas ‘Samubah Aweybe’ adalah gabungan bahasa daerah  dari dua suku di Papua Barat, yaitu bahasa suku Maybrat dan bahasa suku Sough-Arfak.

“Kata ‘Samubah’ dalam bahasa daerah suku Maybrat artinya ‘besar’ dan Aweybe dari bahasa daerah suku Sough-Arfak, artinya ‘rumah kaki seribu’  (rumah adat suku besar Arfak).

Jika digabungkan, ‘Samubah Aweybe’ dua kata tersebut  memiliki arti ‘rumah besar kaki seribu’ yang  berada di kepala burung pulau Papua atau di  wilayah adat Domberai,” ujarnya.

Pelayanan di Kampung Demdameh

Komunitas Samubah Aweybe, pada hari Sabtu (27/7/2019) kemarin, telah melakukan pelayanan di Kampung Demdameh Distrik Didohu kabupaten Pegunungan Arfak. Warga kampung Demdameh yang dilayani bukan berdomisili di Pegaf, tapi di Manokwari.

Dalam pelayanan tersebut, anggota komunitas samubah aweybe yang terdiri tenaga dokter, analis kesehatan, apoteker, perawat dan pegiat literari, melakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan terhadap 76 warga kampung Demdameh,  terdiri dari 36 orang dewasa  dan 40 anak.

Bagi 40 anak, juga diberikan buku-buku bacaan bergambar oleh pegiat literasi dalam komunitas tersebut.

Dr.Yuliana Sraun, koordinator tim kesehatan komunitas Samubah Aweybe mengatakan, Dari 76 warga yang menjalani pemeriksaan kesehatan, rata-rata keluhan kesehatannya adalah Ispa, luka-luka ringan (anak) dan malaria.
“Rata-rata warga Demdameh derita Ispa dan Malaria, tapi juga anak-anak kami lakukan pengobatan luka ringan. Makanya, sebelum pemeriksaan kesehatan, kami dahului dengan penyuluhan tentang pencegahan malaria dan pola hidup bersih,” ujarnya Yuliana.

Dia menjelaskan, untuk menunjang pelayanan, komunitasnya telah mendapat bantuan obat-obatan dari Dinkes Papua Barat. Dinas juga beri alat pemeriksa Malaria (RDT).

“Kami ajukan permohonan, lalu dijawab oleh Dinkes, kami dapat bantuan obat-obatan dari Dinkes syukur obatnya cukup, bahka dilengkapi dengan RDT untuk pemeriksaan Malaria. Agenda pemeriksaan malaria,  bagian dari support komunitas kami kepada Pemerintah Papua Barat menuju Papua Barat bebas Malaria di tahun 2022,” katanya.

Sementara kepala Kampung Demdameh, Alex Isya mengatakan, warganya sangat terbantu melalui penyuluhan pola hidup bersih dan pemeriksaan kesehatan gratis yang diberikan oleh komunitas Samubah Aweybe.

“Kami merasa terbantu, karena bisa mengerti untuk jaga kebersihan dan tahu penyakit yang kami derita setelah diperiksa. Kadang warga saya tidak mau berobat karena tidak punya uang,” katanya.

Alex mengatakan, warga kampung Demdameh tidak berada di wilayah administrasi Distrik Didohu, kabupaten Pegaf, tetapi 57 kepala keluarga (KK) dengan 130 jiwa di kampung ini justru berkampung sementara di wilayah Kelurahan pasir putih, Distrik Manokwari Timur, kabupaten Manokwari.

“Kami bagian dari kabupaten Pegaf. Di Manokwari, kami hanya buka kampung sementara untuk anak-anak sekolah tinggal dan bersekolah di Manokwari. Tapi untuk semua pelayanan administrasi pemerintahan, kami tetap di Pegaf,” katanya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top