Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Sang Kejora di rumah Tuhan Gembala Baik Abepura

Bendera Bintang Kejora yang dibawa empat mahasiswa dalam Gereja Gembala Baik Abepura, beberapa waktu lalu. -Jubi/Dok

Oleh: Pace P.

Langit Abepura masih gelap meskipun waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Saudari hujan turun membasahi mama bumi Papua. Saudara matahari bersembunyi di balik awan hitam. Pagi itu, Abepura lengang. Meskipun hujan, jemaat antusias menghadiri ibadah (misa) hari Minggu Adven I di Gereja Katolik “Gembala Baik” Abepura (Minggu, 1/12/2019).

Di Abepura, misa hari Minggu dilaksanakan dua kali. Misa pertama pukul 06.30 WIT, dan misa kedua pukul 08.30 WIT. Baik misa pertama, maupun misa kedua gedung gereja “Gembala Baik” akan selalu terisi penuh.

Saat ini, paroki Gembala Baik Abepura digembalakan oleh Reverendus Dominus (RD) Emanuel James Kosay. Ia menjadi pastor paroki Gembala Baik sejak tahun 2018, menggantikan RD Andreas Trismadi yang wafat karena sakit.

Pastor James, sapaannya, merupakan salah satu pastor orang Papua yang kritis. Khotbahnya merupakan perpaduan isi Injil dan realitas sosial di Tanah Papua. Ia sering mengkritisi kebijakan negara yang tidak berpihak pada orang miskin dan kaum papa lainnya. Muara khotbahnya mengajak umat untuk peduli pada penderitaan sesama.

Kehadiran Pastor James di paroki Gembala Baik, Abepura bagaikan oase bagi jemaat yang selama ini merindukan sosok Gembala yang berpihak pada penderitaan mereka. Secara khusus, orang Papua merasa disapa. Sebagai orang Papua, Pastor James memahami kerinduan jemaatnya. Di tengah kehidupan orang Papua yang tidak menentu, ia hadir dan memberikan harapan bahwa masih ada masa depan Papua.

Hari Minggu Adven I (Minggu, 1/12/2019) suasana misa kedua di Gereja “Gembala Baik” Abepura berlangsung sebagaimana mestinya. Tetapi, pada perayaan persiapan kedatangan Tuhan kali ini, ada pemandangan berbeda. Di bangku deretan belakang, tampak sosok empat pemuda Papua.

Loading...
;

Mereka berbusana adat Papua. Mereka mengenakan koteka. Wajah dua pemuda dicat mengikuti pola Bintang Kejora dengan warna khasnya, merah, putih, biru. Persis di dahi kedua pemuda itu, terpampang Bintang Fajar.

Kehadiran sosok empat pemuda dengan atribut Bintang Kejora pada saat misa di Gereja Gembala Baik Abepura merupakan wujud syukur pada Tuhan Allah, Pencipta langit dan bumi yang telah menganugerahkan rahmat kemerdekaan ke-58 bagi bangsa Papua Barat (West Papua).

Sejarah telah mencatat bahwa pada 1 Desember 1961, orang Papua telah memproklamasikan kemerdekaan West Papua. Negara West Papua yang didirikan itu lengkap dengan atributnya: Bendera Bintang Kejora, Lagu Hai Tanahku Papua dan Burung Mambruk.

Ironisnya, kemerdekaan Bangsa West Papua hanya bertahan 18 hari saja. Pada hari ke-19, tepatnya 19 Desember 1961, Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno mengeluarkan dekrit Tri Komando Rakyat (Trikora). Sejak saat itu, Indonesia melakukan invasi terbuka ke tanah Papua.

Sejak pendudukan Indonesia di tanah Papua, yang secara resmi dimulai 19 Desember 1961 sampai saat ini, gelombang protes dan upaya menuntut pengembalian kedaulatan bangsa Papua Barat sebagai negara merdeka tidak pernah pudar. Pada tataran ini, kita patut bertanya, “Mengapa orang Papua masih menuntut pengembalian hak kemerdekaannya yang dirampok oleh Indonesia? Mengapa orang Papua tidak pernah merasa menjadi bagian dari Indonesia?”

Aksi empat pemuda di Gereja Gembala Baik Abepura yang merayakan kemerdekaan bangsa Papua Barat dengan mengenakan busana adat Papua lengkap dengan bendera Bintang Kejora, memperlihatkan bahwa Indonesia tidak berhasil mengindonesiakan orang Papua.

Orang Papua masih berdiri tegak pada prinsipnya yaitu Papua Merdeka. Sebab, Papua Merdeka merupakan pilihan orang Papua, bukan separatis seperti yang dituduhkan dan disematkan oleh Indonesia kepada orang Papua.

Melihat foto-foto empat pemuda yang membawa bendera Bintang Kejora ke rumah Tuhan, bertepatan dengan misa hari Minggu Adven I serentak mengarahkan pandangan kita pada kisah Tiga Raja dari Timur yang mencari Mesias, Anak Allah.

Mereka dituntun oleh Bintang Timur menuju Betlehem. Mereka bertemu Raja Herodes untuk menanyakan informasi kelahiran Mesias seperti yang dikatakan dalam Kitab Suci.

Seyogianya, selama ini Bintang Kejora berkibar di arena aksi demonstrasi, di lapangan, di pinggir jalan atau di belantara Papua. Kini, Sang Kejora memasuki Rumah Tuhan.

Keempat pemuda Papua dengan segala keberadaannya hendak mempersembahkan kembali perjuangan panjang untuk meraih kembali kemerdekaan Papua kepada Tuhan Allah, Pencipta langit dan bumi. Keempat pemuda pemberani itu merupakan representasi orang Papua yang bersyukur atas anugerah kemerdekaan dari Tuhan Allah bagi bangsa Papua, meskipun kenyataannya bahwa kemerdekaan itu sedang berada dalam genggaman kekuasaan Indonesia.

Adalah tepat bahwa 1 Desember, orang Papua mempersembahkan Sang Kejora ke altar Tuhan. Sebab, orang Papua mengalami Yesus Pembebas. Injil-Nya telah menjadi pelita bagi orang Papua.

Gereja telah menjadi rumah baru bagi orang Papua. Maka, kedatangan empat pemuda Papua dengan atribut Bintang Kejora ke rumah Tuhan, gereja Gembala Baik Abepura merupakan suatu bentuk penyerahan total kepada Tuhan Allah dan Gereja yang telah menjadi rumah baru bagi orang Papua.

Peristiwa masuknya Sang Kejora dalam rumah Tuhan perlu direfleksikan secara holistik dan mendalam oleh pimpinan Gereja-Gereja Papua (Uskup, Pastor, Pendeta).

Apa makna kehadiran Sang Kejora di dalam rumah Tuhan pada hari Minggu Adven I ini? Bagaimana realitas hidup umat Allah orang Papua selama ini bersama pemerintahan Indonesia? Mengapa selama ini pimpinan Gereja-Gereja Papua terkesan membisu di tengah penderitaan orang Papua karena pilihan politik Papua merdeka?

Secara sederhana, Gereja melalui pastor dan pendeta sudah membaptis orang Papua. Sejak orang Papua lahir sampai mati, mereka berada dalam perlindungan pastor dan pendeta. Karena itu, Gereja melalui pastor dan pendeta bertanggung jawab terhadap masa depan orang Papua, termasuk terhadap pilihan politik Papua merdeka.

Kehadiran Sang Kejora di rumah Tuhan Gembala Baik Abepura serentak mengundang kehadiran aparat keamanan Indonesia. Di halaman gedung gereja Gembala Baik Abepura, seorang aparat keamanan menggandeng salah satu dari empat pemuda itu.

Aparat keamanan itu orang asli Papua. Pada foto tampak wajahnya tertunduk mengikuti langkahnya. Ia memegang erat salah satu pemuda yang wajahnya tertera bendera Bintang Kejora.

Keduanya melangkah meninggalkan halaman gereja Gembala Baik Abepura. Foto keduanya terpampang di halaman pertama harian Cenderawasih Pos (Cepos), Senin (2/12/2019).

Keduanya orang Papua, tetapi memiliki pilihan politik yang berbeda. Si aparat keamanan memilih menjadi abdi negara Indonesia. Sedangkan saudaranya tetap pada prinsipnya, Papua merdeka.

Kondisi semacam ini terjadi di seluruh dunia bahwa bangsa-bangsa penjajah selalu merekrut bangsa pribumi untuk menjadi “kaki-tangan” demi melanggengkan kekuasaan di wilayah jajahannya. Itulah sekilas pemandangan yang tersirat dari foto kedua orang Papua di halaman rumah Tuhan, gereja Gembala Baik Abepura.

Di dalam Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tahun 1945 tertulis, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa. Oleh karena itu, penjajahan di atas dunia harus dihapus.” Sebagaimana dahulu, Indonesia menghendaki kemerdekaan dari penjajahan Belanda, demikian halnya, saat ini Papua menghendaki kemerdekaan dari penjajahan Indonesia.

Orang Papua memiliki sejarahnya sendiri. Orang Papua merasa bahwa mereka tidak pernah terlibat dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia dari Belanda. Selain itu, aspek sosial budaya memperlihatkan bahwa bangsa Indonesia memiliki ras Melayu, berbeda dengan Papua yang memiliki ras Melanesia.

Demikian halnya, proses integrasi Papua ke dalam NKRI, melalui Pepera Juli-Agustus 1969 merupakan rekayasa Indonesia. Saat itu, orang Papua berjumlah 803.000 jiwa, tetapi hanya 1.025 orang yang mengikuti Pepera. Dari jumlah tersebut, ada pula peserta Pepera yang bukan orang asli Papua.

Padahal Persetujuan New York 15 Agustus 1962 mengamanatkan satu orang satu suara (one man one vote). Tampak jelas bahwa Pepera 1969 merupakan hasil rekayasa Indonesia untuk menguasai alam Papua dan menindas orang Papua.

Pertanyaan mendasar yang patut direfleksikan, “Mengapa orang Papua mau merdeka?”

Catatan sejarah Papua memperlihatkan lembar-lembar sejarah berlumuran darah. Sejak invasi terbuka 19 Desember 1961, orang Papua mengalami penderitaan luar biasa. Aparat keamanan Indonesia melancarkan berbagai operasi militer dan operasi intelijen di tanah Papua. Ribuan orang Papua mati atas nama keutuhan NKRI.

Pola adat, budaya dan makan, minum terdegradasi oleh penjajahan Indonesia yang mewajibkan pakaian modern, bahasa Indonesia, makan nasi, ikan kaleng dan makanan instan lainnya. Bahasa daerah dan makanan lokal (sagu dan umbi-umbian) tersingkir dengan sendirinya.

Kisah paling miris di era milenium ini yakni sejak 2 Desember 2018 sampai saat ini aparat keamanan Indonesia melancarkan operasi militer di Nduga. Ribuan orang mengungsi ke hutan. Sebagian lainnya lari ke Wamena. Dalam rentan waktu satu tahun ratusan orang Nduga yang mengungsi meninggal dunia lantaran berbagai penyakit yang diderita, termasuk karena kekurangan makanan.

Dalam kondisi semacam ini, pemerintah Indonesia tetap memaksakan orang Papua untuk mencintai NKRI. Apakah orang Papua akan mencintai Indonesia tatkala menyaksikan kematian demi kematian yang dialaminya setiap hari?

Kini, permasalahan Papua telah menjadi isu internasional. Kesadaran kolektif orang Papua tentang memoria passionis yang tak kunjung henti telah membangkitkan semangat perlawanan damai. Di dalam negeri Papua, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) memperlihatkan eksistensinya melalui perlawanan bersenjata terhadap aparat keamanan Indonesia.

Di kota-kota di Papua, Komite Nasional Papua Barat (KNPB) tetap bersuara lantang menuntut dilaksanakannya referendum yang jujur bagi orang Papua. Demikian halnya, Negara Republik Federal Papua Barat (NRFPB) tetap solid bergerilya.

Sedangkan di dunia internasional United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) bekerja keras meyakinkan negara-negara Pasifik, Amerika, Eropa dan Australia tentang tidak adanya masa depan Papua bersama Indonesia.

Dalam menyikapi maraknya tuntutan Papua merdeka, pemerintah Indonesia bukannya membuka ruang dialog dengan orang Papua, melainkan mengirim aparat keamanan memenuhi tanah Papua. Pada 30 November 2019, seorang aktivis mengatakan, “Saya dari Sentani ke Ekspo, Waena. Sepanjang jalan dari Sentani sampai di Ekspo penuh dengan aparat keamanan, polisi dan tentara. Mereka tidak hanya berdiri di pinggir jalan, tetapi juga melakukan pemeriksaan terhadap setiap orang yang lewat dengan motor dan mobil.”

Tampak jelas bahwa Indonesia memperlakukan orang Papua bukan sebagai warganya, melainkan musuh negara. Setiap gerak-gerik orang Papua selalu diawasi. Ketakutan Indonesia terhadap orang Papua menimbulkan pertanyaan, “Kalau Indonesia mengklaim Papua sudah final di dalam NKRI mengapa harus takut terhadap orang Papua?”

Berbagai sikap dan tindakan represif pemerintah Indonesia terhadap orang Papua memperlihatkan dengan jelas bahwa relasi Indonesia dan Papua adalah relasi antara bangsa yang menjajah (Indonesia) dan terjajah (Papua). Karena itu, orang Papua akan tetap berjuang membebaskan diri dari penjajah Indonesia sebagaimana dahulu Indonesia berjuang membebaskan diri dari penjajah Belanda.

Pada akhirnya, Papua merdeka adalah pilihan orang Papua. Orang Papua menyadari bahwa mereka tidak memiliki masa depan bersama Indonesia. Pengalaman penderitaan selama 58 tahun bersama Indonesia membakar semangat juang untuk meraih kembali kemerdekaan Papua, 1 Desember 1961 yang dirampok oleh Indonesia.

Suara tifa akan terus memanggil anak bangsa Papua Barat untuk bangkit merebut kembali kemerdekaannya. Api perjuangan itu akan tetap menyala sampai Sang Kejora berkibar diiringi lagu Hai Tanahku Papua dan tarian serta kicauan Mambruk yang telah lama senyap.

Sambil menanti hari kembalinya Sang Kejora, Mambruk dan lantunan lagu Hai Tanahku Papua, hendaklah segenap orang Papua tetap bersyukur. Keempat pemuda berbalutkan busana Papua dan Sang Kejora di rumah Tuhan Gembala Baik Abepura menjadi contoh cara orang Papua bersyukur atas anugerah kemerdekaan Papua.

Datanglah ke rumah Tuhan dengan simbol hidup orang Papua, tanpa takut dan gentar. Sebabnya, hanya kepada Tuhan Allah orang Papua patut bersyukur dan memohon perlindungan.

Kepada Dia pula orang Papua meletakkan harapan akan masa depan Papua yang lebih baik. Suatu masa depan tanpa kekerasan, air mata dan pertumpahan darah. (*)

Penulis adalah warga Kota Jayapura, Papua.

 

Editor: Timoteus Marten

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top