HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Satu persoalan yang mendasari semua isu di PNG

Orang Melanesia di pulau Nugini adalah salah satu penghuni yang paling lama di dunia. – Lowy Institute/ The Interpreter/ Alan & Flora Botting via Flickr

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Watna Mori

Belum lama berlalu sejak Provinsi Hela, di daerah pegunungan tinggi selatan Papua Nugini, yang dulunya bukan provinsi sama sekali dan hampir tidak menarik perhatian dunia luar, sekarang, hanya dalam beberapa bulan, ia telah menjadi sorotan dunia.

Pemilihan James Marape sebagai Perdana Menteri bulan Mei tampaknya melambangkan naiknya keberuntungan Hela, salah satu daerah yang paling terbelakang di negara ini. Marape, seorang anggota senior parlemen dari daerah Tari-Pori di Hela, mengambil alih kepemimpinan dan menjanjikan awal yang baru.

Pembantaian mengerikan yang terjadi 8 Juli lalu, atas 18 perempuan dan anak-anak, di provinsi kampung halaman Marape adalah pengingat bahwa tidak ada yang bisa melarikan diri dari masa lalunya.

Loading...
;

Beberapa artikel yang ditulis baru-baru ini oleh sekelompok ahli telah menemukan beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kekerasan ini, termasuk perang suku, perselisihan atas tanah dan sumber daya, kerentanan perempuan, minimnya layanan pemerintah, dan rusaknya norma-norma tradisional. Semua faktor ini nyata dan masih berlangsung, namun ada satu masalah yang lebih mendalam daripada mereka, dan merangkum banyak masalah yang dialami PNG selama hampir 43 tahun kemerdekaannya.

Hela telah dengan cepat naik ke puncak kekuasaan politik, dan sekarang telah menjadi saksi salah satu tindakan kekerasan paling buruk di bangsa ini. Perbedaan ini, meskipun ekstrem, tidak hanya terjadi di Hela – ini adalah pengalaman yang terjadi di seluruh PNG.

Masuknya budaya asing yang membawa konsepnya tentang kekuasaan, serta tekanan untuk memaksa pemahaman dan pembangunan yang ribuan tahun usianya hanya dalam beberapa dekade, telah menciptakan suatu lingkungan yang tidak dapat diduga; tidak lama namun tidak baru.

Orang Melanesia di pulau Nugini adalah salah satu penghuni yang paling lama di dunia. Penduduk pertamanya diperkirakan telah tiba 50.000 tahun yang lalu. Meskipun demikian, PNG masih dikenal oleh sebagian orang sebagai ‘the last frontier’, karena ia merupakan salah satu bangsa terakhir yang memulai kontak dengan dunia Barat.

Beberapa percaya PNG melompat langsung dari zaman batu ke zaman modern, seperti yang diilustrasikan oleh rekaman yang menunjukkan ‘penemuan’ daerah pegunungan PNG pada 1930-an. Penggambaran seperti itu, bagaimanapun, adalah dari pandangan kacamata dunia Barat. Seperti yang diketahui oleh orang-orang PNG, dan dibuktikan oleh semakin banyak penelitian, orang Melanesia, baik di pulau Nugini maupun di pulau-pulau sekitarnya, memiliki budaya sosial dan politik adat yang jauh lebih kompleks dan canggih daripada sekadar ‘zaman batu.’

Beberapa buku yang ditulis oleh penulis Papua Nugini pada masa perubahan itu, fiksi maupun nonfiksi, menyediakan wawasan yang lebih dalam. Tulisan ini mencakup karya Sir Albert Maori Kiki, Ten Thousand Years in a Lifetime, buku Sir Igantius Kilage, My Mother Calls Me Yaltep, and tulisan Sir Vincent Eri, The Crocodile.

Sir Kiki adalah seorang pakar patologi dan politisi PNG. Biografinya mengisahkan pengalaman hidupnya yang menyeluruh dan mencengangkan – yang masih dialami orang-orang PNG hingga sekarang: memaksakan 10.000 tahun peradaban dan perubahan dalam satu masa hidup.

Kenyataannya adalah, dalam dua generasi, PNG telah bergeser dari pemikiran dan gaya hidup tradisional Melanesia, ke budaya Barat yang sangat asing dan sama rumitnya yang juga masih terus berevolusi dengan cepat.

Semakin mempersulit, budaya Barat ini tidak diperkenalkan dan berkembang secara bersamaan dan bertahap. Daerah pegunungan tinggi baru dibuka pada 1950-an, dan bahkan pada 1970-an, beberapa bagian masih belum di bawah kendali pemerintah Australia yang berkuasa saat itu. Pada saat PNG merdeka pada 1975, populasinya sekitar 3 juta orang, tetapi kurang dari 10 orang yang lulusan perguruan tinggi.

Jika perjalanan PNG menuju ke sistem Barat sudah sulit, maka tempat-tempat seperti Hela dan pegunungan tinggi PNG membawa tantangan yang jauh lebih besar. Hela tidak pernah diberikan kesempatan untuk berkembang perlahan-lahan dan secara bertahap, untuk memahami sistem sosial dan politik Barat, baik oleh pemerintah kolonial maupun pemerintah-pemerintah PNG setelahnya. Hingga 2010, interaksi Hela dengan dunia luar itu sangat sedikit. Dengan pembangunan yang minim, banyak penduduknya yang pindah ke daerah-daerah lain negara itu, hanya agar dapat bergabung dengan sektor informal.

Peluncuran proyek PNG-LNG pada 2010 menempatkan Hela di peta untuk pertama kalinya. Dalam waktu singkat ia diberi status provinsi, memekarkannya dari Provinsi Southern Highlands. Seperti yang diperkirakan oleh beberapa komentator politik saat itu, Hela juga dengan cepat mengumpulkan pengaruh politik, yang memuncak dalam pemilihan di Parlemen James Marape sebagai PM awal tahun ini.

Bernard Narokobi, salah seorang bapak pendiri PNG dan salah satu filsuf terbaik Pasifik, sudah memperingatkan akan disfungsi yang akan menimpa PNG, jika bangsa ini gagal menemukan jalur budaya dan pembangunannya sendiri.

Dalam serangkaian artikel yang diterbitkan dari 1976 sampai 1978, Narokobi berbicara tentang pentingnya mengenali ‘The Melanesian Way’. Dia menulis tentang trauma hukum dari luar yang memaksakan menggantikan hukum Melanesia.

Dia menekankan bahwa untuk mencapai kesetaraan dan kemandirian, orang PNG harus memulai dengan mengenali struktur-struktur sosial tradisional melalui pengembangan ekonomi desa. Seperti yang ia katakan pada1976: Kita bukan berusia satu tahun, kita juga bukan berusia 200 tahun. Kita berusia ribuan tahun. Kita mungkin baru dalam hal institusi-institusi modern, tetapi kita tidak baru tentang kekuatan dan kelemahan manusia.

Pembantaian di Hela adalah hasil dari perjuangan- dan banyak kegagalan – orang PNG untuk mengembangkan satu identitas bersama, untuk mengambil alih kuasa atas pembangunannya sendiri, dan untuk menciptakan peluang yang setara bagi semua. Tantangan ini tampak jelas terjadi pada 1970-an, ketika Narokobi berkisah tentangnya, namun mungkin bahkan lebih mendesak hari ini.

Ke mana kita pergi sekarang? Solusinya hanya dapat dipimpin oleh orang-orang Papua Nugini, dengan memperbanyak penelitian, konsultasi, renungan, dan pertanyaan mengenai siapa kita pada 2019, kita ingin menjadi siapa ke depannya, dan bagaimana kita berencana untuk mencapai ini bersama-sama, sambil memastikan peluang yang setara untuk semua. (The Interpreter by Lowy Institute)


Editor: Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Ko ikut kompetisi Vlog, Foto dan Cerita Rakyat HUT Jubi boleh....