HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Sayur iris di Pasar Pharaa memiliki peminat sendiri

Penjual sayur iris di Pasar Pharaa Sentani – Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Mama-Mama penjual sayur iris di Pasar Pharaa Sentani memiliki penggemar sendiri, yaitu orang-orang yang tidak ingin repot memotong sayur.

Sayur iris merupakan sayur yang sangat diminati banyak orang di Sentani. Mereka yang butuh sayur cepat, tidak mau sibuk, atau untuk bahan makanan acara lebih memilih sayur setengah instan ini.

Sayur iris bermodal buah sayur labu siam ditambah dengan irisan wortel dan buah kacang panjang sehingga warnanya cukup menggoda.

Mince Sem, perempuan asal Genyem, 43  tahun, sudah menekuni usaha sayur iris ini selama empat tahun di Pasar Pharaa Sentani.

Loading...
;

“Satu tahun pertama Mama jualan di gedung atau pasar yang lama dan tiga tahun terakhir ini di gedung ini, jadi mama jualan sayur iris ini sudah lama,” kata Mince.

Waktu berjualan di gedung lama cukup bebas, kata Sem, sehingga ia berjualan tidak hanya sayur iris namun ada banyak jualan di atas karung yang ia atur

“Dulu di bawah itu bebas jadi Mama jualan sayur iris, bayam, dan terong, sampai di gedung baru ini karena dibatasi jadi hanya bisa jualan sayur iris dengan sagu saja,” katanya.

Sayur buah labu siam tersebut dibelinya kepada petani sayur ‘tiba berangkat’ yang berasal dari Kampung Genyem seharga Rp300 ribu.

“Mama beli sama mama petani sayur dorang dengan harga jualan Rp300 ribu itu untuk ukuran karung yang 50 kg dan dengan ukuran karung 50 kg ini bisa habis itu selama satu minggu dan juga tergantung pembeli saja, kalau untuk hasilnya itu bisa mencapai Rp500 ribu sampai Rp700 ribu,” katanya.

Sedangkan sayur irisnya sendiri per tumpuk dijual degan harga Rp10 ribu. Di dalamnya terdapat sayur buah labu siam dan irisan jantung pisang yang ditambah sedikit dengan daun papaya.

Dalam sehari ibu dua anak ini bisa mengiris cukup banyak sayur buah labu siam dan jantung pisang, namun tergantung jumlah pembeli. Jika banyak  pembeli maka irisan akan bertambah di atas meja jualannya.

“Tergantung pembeli saja, kalau pembeli banyak itu biasa saat ada kedukaan itu mereka butuh cepat, jadi mereka datang borong itu sampai lima tumpuk ke atas,” katanya.

Ternyata ia tidak hanya berjualan sayur iris di Kabupaten Jayapura, tapi juga di Wamena. Namun itu ia kirimkan jika ada yang memesan.

“Ada yang dari Wamena mereka biasa pesan sampai 20 tumpuk, di Wamena kan kena satu tumpuk Rp20 ribu, itu hanya untuk jantung pisang iris ini,” katanya

Untuk mendapatkan keuntungan yang lebih saat berjualan di Pasar Pharaa, Mama dua anak tersebut selain berjualan sayur iris juga berjualan sagu yang dibeli kepada masyarakat di Genyem.

“Kalau untuk sagu ini Mama beli dari masyarakat di Genyem yang baru datang menjual, Mama jual Rp350 ribu sekarung ukuran sedang 20kg, sedangkan kalau jualan per potong Rp20 ribu atau Rp10 ribu, kalau jual potong itu bisa dapat lebih dari yang jual dalam karung langsung,” ujarnya.

Dari hasil dari berjualan sayur iris dan sagu itu ia telah menyelesaikan studi anaknya dan juga membangun rumah miliknya.

“Dari hasil jualan ini saya punya anak sudah wisuda, dia alumni dari kampus Stiper bulan kemarin, wisuda sama-sama dan anak saya dia mendapatkan cumlaude,” katanya.

Di tempat terpisah, Paska Murib, mengatakan penjual sayur iris sangat membantu keluarga di rumah.

“Sayuran sudah dipotong, jadi mereka tinggal beli, sampai di rumah tinggal cuci dan masak jadi tidak sibuk, apalagi kalau ada acara itu pas sudah untuk beli sayur iris,” katanya.

Paska mengaku jika terlalu capek dari kebun dan membawa hasil jualan ke pasar, ia selalu mengambil jalan simpel saja.

“Capek jadi saya cari yang gampang saja beli sayur iris daripada pulang bikin sibuk lagi,” ujarnya.

Ia tidak selalu berbelanja sayur iris, namun jika mendadak saja.

“Tidak selalu juga kecuali kalau ada duka itu biasa saya dengan teman-teman angkat banyak-banyak, kalau beli sayur biasa siapa yang mau potong, nanti potong sayur saja lama lagi, jadi kita ambil yang mudah saja itu sayur iris ini sudah,” kata Murib.

Rahel, perempuan di Sentani, mengaku jika sibuk mengurus anak ke sekolah dan terlambat pasti mengambil sayur iris untuk mempermudah dalam menyediakan makan di rumah.

“Biasa itu kalau sudah urus anak ke sekolah itu pasti tinggi dan out lama, jadi saya ambil sayur iris saja untuk mempermudah, anak ini dia baru masuk sekolah jadi,” katanya.

Menurutnya usaha sayur iris yang dilakukan Mama-Mama di pasar Pharaa Sentani tersebut usaha yang kreatif dan sangat membantu pembeli.

“Saya lihat usaha Mama-Mama itu bagus sekali, karena sayur itu sudah jadi kami yang beli tinggal pulang cuci dan masak saja dan tidak repot,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top