Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Sebanyak 4.656 warga Wamena dievakuasi ke Jayapura

Pengungsi dari Kota Wamena saat bertatap muka dengan Kapolda Papua – Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Sebanyak 4.656 warga Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua telah dievakuasi ke Jayapura hingga, Selasa (1/10/2019).

Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Danlanud) Silas Papare Jayapura, Marsekal Muda Tri Bowo Budi Santoso mengatakan, warga yang dievakuasi dari Wamena ke Jayapura tersebut ada yang tinggal di sejumlah lokasi pengungsian sementara di Sentani, Kabupaten Jayapura, di rumah keluarga mereka di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura, juga ada yang memilih pulang langsung ke kampung halaman.

Menurutnya, beberapa lokasi di Sentani, Kabupaten Jayapura yang dijadikan lokasi menampung sementara warga yang dievakuasi dari Wamena yakni, Aula Lanud Silas Papare, Batalyon 751 Raider, Rindam, Pos Masjid Alaqsha, daerah Tabita bagian dalam, dan Mushola Attaqwa.

“Kemarin sudah tiba satu pesawat Hercules lagi. Mulai hari ini akan beroperasi sebanyak empat pesawat,” kata Marsma TNI. Ir Tri Bowo Budi Santoso, kepada wartawan, Selasa (1/10/2019).

Loading...
;

Menurutnya sekali terbang dari Wamena ke Jayapura, pesawat Hercules milik TNI dapat mengangkut hingga 170 orang. Dalam sehari, penerbangan dilakukan hingga tiga kali.

“Kami akan optimalkan empat kali penerbangan setiap hari, tapi semua tergantung cuaca. Ada tambahan hercules dua dari Malang, karena sebelumnya satu pesawat sudah pulang ke Jawa untuk perawatan,” ujarnya.

Sebagain pengungsi akan pulang ke daerah asal mereka masing-masing, dan ada warga yang tetap di bertahan di Jayapura.

“Sore ini ada satu pesawat yang akan kembali ke Jawa. Nanti bermalam di Biak. Nanti dibawa dulu satu sorti sebanyak 150 personil tujuan Makassar dan Jawa Timur,” tuturnya.

Seorang warga, ibu Puput mengatakan, karena kondisi yang terjadi membuat dirinya trauma. “Kami rasa trauma jadi kami mengungsi ke Jayapura dan nanti kalau sudah reda baru akan kembali lagi ke Wamena,” ucapnya.

Ibu yang hari -hari berjualan nasi goreng ini mengatakan, selain mereka mengamankan diri mereka ke Jayapura, sambil menunggu keluarga yang masih tertahan di Kota  Wamena.

“Saya bersama keluarga dan anak-anak datang tapi suami saya masi ada di Wamena, dan saya khawatir kondisi dia di sana,” ucap ibu dua anak ini.

Sedangkan Marlina Kopunggu, guru SMP YPPGI Anigou Wamena asal Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan mengaku sudah 9 tahun tinggal di kota Wamena. “Awalnya saya ikut kakak, masih lajang. Tujuannya untuk mencari pekerjaan,” kata guru Kimia yang sudah bekerja selama 6 tahun di SMP tersebut.

Ia mengaku meski trauma, Marlina tetap akan kembali ke Kota Wamena saat situasi sudah aman

“Dari hati pribadi saya, saya akan kembali ke Wamena, karena saya pelayanan [guru] di sana. Kalau sudah kondusif. Sementara hilangkan trauma dulu. Tapi hati Nurani, saya tetap mau kembali. Karena Kota Wamena itu sudah seperti rumah sendiri. Masyarakat aslinya baik, saya sudah senang tinggal di sana,” katanya.

Amuk massa, pada Senin 23 Sepetember lalu mengakibatkan sedikitnya 33 orang tewas, puluhan orang terluka, dan lebih dari 600 rumah dan toko hancur atau terbakar.  (*)

Editor: Dewi Wulandari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top