Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Sedikitnya lima warga dilaporkan tewas dalam penembakan di Deiyai, Wiranto membantah

Ilustrasi pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Yogyakarta, Jubi – Data korban tewas insiden penembakan dalam unjukrasa anti rasisme di Waghete, ibukota Kabupaten Deiyai, Papua yang telah terverifkasi hingga Kamis (29/8/2019) bertambah. Aktivis hak asasi manusia, Yones Douw menyebutkan sedikitnya ada lima warga sipil yang tewas dalam insiden penembakan yang terjadi di halaman Kantor Bupati Deiyai pada Rabu (28/8/2019).

Yones Douw menjelaskan, sejumlah tiga korban tewas dalam insiden penembakan di Kantor Bupati Deiyai itu telah dibawa oleh pihak keluarga. “Ketiga korban yang jenazahnya sudah dibawa keluarga itu adalah Derikson Adii, Hans Ukago, dan seorang warga bermarga Ikomouw. Derikson Adii dan Hans Ukago adalah dua korban yang tewas seketika di halaman Kantor Bupati Deiyai pada Rabu. Sementara seorang warga bermarga Ikomouw adalah korban yang ditemukan tewas kehabisan darah di Kampung Yaba, Distrik Tigi,” kata Douw saat dihubungi Jubi di Nabire pada Kamis malam.

Douw menyatakan, dari ketiga korban tewas yang diketahui namanya itu, hanya Derikson Adii yang sempat dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Paniai di Madi, Kabupaten Paniai. “Sementara Hans Ukago ditemukan tewas di lapangan, dan jenazahnya langsung dibawa keluarganya. Jenazah warga bermarga Ikomouw juga diambil keluarganya dari Kampung Yaba, tidak pernah dibawa ke rumah sakit,” kata Douw.

Douw menjelaskan ia juga telah menerima keterangan dari sejumlah sumber bahwa RSUD Paniai masih menyimpan dua jenazah korban insiden penembakan di Kantor Bupati Deiyai. “Akan tetapi, identitas jenazah itu sulit dipastikan, karena aparat keamanan menghalangi beberapa warga yang datang ke rumah sakit untuk memeriksa jenazah,” kata Douw.

Loading...
;

Ia menjelaskan pihaknya juga kehilangan jejak keberadaan seorang korban tewas lainnya, Alpius Pigai. Douw menegaskan ia menerima kesaksian sejumlah orang yang menyatakan Alpius Pigai tewas tertembak. Akan tetapi, kekacauan situasi di halaman Kantor Bupati Deiyai membuat para saksi mata itu berlari menghindar, dan kini tidak mengetahui keberadaan jenazah Alpius Pigai. Hingga Kamis, Douw juga belum berhasil memastikan keberadaan jenazah Alpius Pigai.

“Jika ternyata jenazah Alpius Pigai ada di RSUD Paniai, berarti korban tewas dalam insiden Rabu itu ada lima orang. Mereka adalah Derikson Adii, Hans Ukago, seorang warga bermarga Ikomouw, Alpius Pigai, dan satu jenazah yang tidak dikenal. Akan tetapi, jika di antara kedua jenazah di RSUD Paniai itu tidak terdapat Alpius Pigai, saya menduga ada enam korban tewas. Mereka adalah Derikson Adii, Hans Ukago, seorang warga bermarga Ikomouw, dua jenazah yang masih disimpan RSUD Paniai, dan Alpius Pigai,” kata Douw.

Douw menyatakan sejumlah 15 korban yang terluka dalam insiden Rabu masih dirawat di RSUD Paniai. Selain itu, terdapat lima korban luka yang hingga Kamis belum menjalani perawatan di rumah sakit. Menurut Douw, kelima korban itu kini dirawat keluarganya masing-masing.

“Lima korban yang terluka itu dirawat sendiri oleh keluarganya. Pertama, Yanto Dogopia, 10 tahun, tertembak di paha kiri. Kedua, Marthinus Iyai, 27 tahun, tertembak di paha kanan. Ketiga, Yusti Agapa, 17 tahun, paha kanan tertembus peluru. Keempat, Apiin Mote, 32 tahun, pantat kanan tertembak, tembus ke samping. Kelima, Naomi Pigome, 28 tahun, jatuh ke parit saat terkena gas air mata, luka tergores di betis kiri,” kata Douw.

Douw mendesak agar aparat keamanan mengizinkan warga yang ingin mengidentifikasi dua jenazah di RSUD Paniai. “Sekarang, warga tidak boleh melihat kedua jenazah di RSUD Paniai. Informasi menjadi simpang siur, dan membingungkan. Bahkan ada informasi bahwa jumlah jenazah yang disimpan RSUD Paniai ada tiga. Saya tidak mengerti kenapa aparat keamanan melarang warga melihat jenazah. Apakah itu karena polisi terlanjur menyatakan jumlah korban tewas hanya dua warga sipil? Saya tidak tahu,” kata Douw.

Di Jakarta, Kantor Berita Antara melansir pernyataan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto yang membantah ada enam warga sipil tewas dalam insiden penembakan di Kantor Bupati Deiyai pada Rabu. “Kemarin ada berita bahwa dalam kerusuhan Deiyai itu ada enam masyarakat tertembak. Sampai di luar negeri diumumkan, padahal tidak,” sangkal Wiranto di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis.

Wiranto mengatakan dalam kejadian itu satu warga sipil tewas karena terkena panah dan senjata dari masyarakat sendiri. Ada satu anggota TNI tewas, dua luka. Serta ada empat polisi yang luka-luka,” kata Wiranto.

Wiranto juga menegaskan bahwa dirinya telah menginstruksikan para aparat keamanan untuk tidak menggunakan peluru tajam saat mengamankan aksi unjuk rasa di Kabupaten Deiyai, Papua pada Rabu. “Aparat keamanan sudah diinstruksikan jangan sampai melakukan tindakan represif. Harus persuasif terukur, bahkan senjata peluru tajam tidak boleh digunakan,” katanya.

Keterangan Wiranto itu tidak sesuai dengan pernyataan Kapolda Papua Irjen Pol Rudolf Rodja yang dilansir Kantor Berita Antara pada Rabu malam. Rodja menyebut dua warga sipil meninggal dalam insiden di Kantor Bupati Deiyai pada Rabu, namun tidak merinci identitas kedua korban sipil yang tewas itu.

“Laporan [yang menyatakan] enam warga sipil tewas dan terluka dalam insiden tersebut tidak benar. Yang pasti tiga orang meninggal dalam insiden tersebut, yakni dua warga sipil dan anggota TNI AD,” kata Irjen Pol Rodja kepada Antara pada Rabu malam.

Pada Kamis, Kantor Berita Antara melansir pernyatan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian yang menyebut Polri telah mengirim 300 anggota Brimob untuk menjaga keamanan di Deiyai, Paniai, dan Jayapura, Provinsi Papua. Tito berharap peristiwa serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top