Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Sejarah, Delapan pelatih ‘Lepu’ ditangan BTM

Luciano Leandro merupakan pelatih ke delapan yang dipecat oleh manajemen Persipura – Jubi/Roy Ratumakin.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Kursi panas kepelatihan ditubuh Mutiara Hitam julukan Persipura selalu mengundang decak kagum, heran, dan juga tanda tanya besar. Ada apa dengan klub paling timur di Indonesia tersebut?

Sejak meraih sukses, sepertinya Persipura gemar melakukan bongkar-pasang arsitek yang ditunjuk sebagai suksesor bagi Boaz Solossa dan kawan-kawan dalam mengarungi kompetisi kasta tertinggi tanah air.

Bahkan, Persipura bisa menyaingi salah satu klub eropa Real Madrid dan AC Milan yang terkenal paling doyan melakukan gonta-ganti pelatih. Dalam musim 2018/2019, tercatat Real Madrid telah melakukan pergantian sebanyak dua kali yaitu Santiago Solari dari kursi pelatih dan menunjuk kembali Zinedine Zidane sebagai penggantinya.

Di Persipura, kompetisi belum paruh musim, Luciano Leandro telah menjadi korban pemecatan dari manajemen Persipura karena tidak bisa memenuhi ekspetasi dari manajemen dan juga masyarakat Papua khususnya masyarakat Kota Jayapura.

Bukan hanya Luciano Leandro, ada sejumlah pelatih yang pernah membawa Persipura meraih suksespun dipecat. Alasannya? Sebagian besar pelatih yang dipecat belum bisa memenuhi ekspektasi besar manajemen untuk menjuarai kompetisi di setiap musim.

Mungkin yang dipecat karena memiliki dua pekerjaan sebagai pelatih hanya Jacksen Tiago yang sudah memberikan sejumlah gelar juara bagi Persipura. Selebihnya “lepu” (dipecat).

Loading...
;

Pecat-memecat pelatih menjadi sejarah tersendiri bagi Persipura dan juga Benhur Tommi Mano, saat BTM sapaan akrabnya memegang tahta sebagai Ketua Umum Persipura. Sedikitnya sudah ada delapan pelatih yang menjadi korban dari ketidakpuasan BTM yang juga menjabat sebagai Wali Kota Jayapura tersebut.

Delapan pelatih tersebut adalah, Jacksen F. Tiago (Brasil), Osvaldo Lessa (Brasil), Jafri Sastra (Indonesia), Angel Alfredo Vera (Argentina), Liestiadi (Indonesia), James Peter Butler (Inggris), Amilton Da Silva Oliviera (Brasil), dan terakhir adalah Luciano Leandro (Brasil).

Ini menjadi sejarah baru di kancah sepak bola Indonesia, dan BTM merupakan satu-satunya Ketum yang memiliki rekor fantastik. Apakah rekor tersebut berpengaruh pada prestasi Persipura? Sama sekali tidak.

Dari sejumlah pemecatan, hanya coach Angel Alfredo Vera berpaspor Argentina itu yang berhasil membawa Persipura mengangkat Piala, namun dalam kompetisi tidak resmi yaitu ISC A 2016. Selebihnya hanya sebagai pemanis.

Lalu, bagaimana dengan pelatih baru yang akan menangani Persipura selepas Luciano Leandro? Kini, manajemen sedang memburu pelatih yang akan menangani Persipura untuk menatap kompetisi Shopee Liga 1 2019.

Banyak nama yang mulai bermunculan, ada Carlos de Melo, Jacksen Tiago, hingga Ivan Kolev. Namun, apakah pelatih-pelatih tersebut siap dipecat kala tidak bisa memenuhi ekspektasi dari sang Ketum Persipura?

BTM dalam suatu kesempatan mengatakan, tim Persipura Jayapura adalah tim paling sukses di tanah air karena telah empat kali menjuarai kompetisi Liga Super Indonesia. Untuk itu, target manajemen adalah meraih gelar juara di setiap kompetisi yang digelar.

“Kami selalu target juara setiap musim, bukan memperbaiki peringkat di klasemen,” katanya.

Artinya, siapapun pelatih yang akan menangani Mutiara Hitam, mau tidak mau harus membawa Persipura juara walau dengan kondisi tim saat ini. Kondisi tim saat ini seperti apa? Kondisi tim yang kurang menguntungkan dimana pemain asingnya belum memberikan kontribusi lebih, dan juga beberapa pemain Persipura mengalami cidera berkepanjangan.

 

Pemain indisipliner

Kekalahan atau terpuruknya sebuah tim bukan sepenuhnya ada pada kegagalan seorang pelatih. Pemain cukup berperan dalam sebuah laga, walau taktik dan skema permainan di susuk oleh sang pelatih.

“Siapapun pelatih kalau tidak mengenal karakter dari pemain Papua akan sama saja dengan pelatih-pelatih lain yang siap kapan saja dipecat oleh manajemen. Selain itu, manajemen juga harus melihat kedalaman skuad (pemain-pemainnya) yang sering melakukan indisipliner,” kata mantan asisten pelatih Persipura, Mettu Dwaramuri kepada Jubi belum lama ini melalui sambungan telepon selularnya.

Pemain yang sering melakukan indisipliner memang sering terjadi ditubuh Persipura Jayapura, mulai mangkir dari sesi latihan, terlambat mengikuti program latihan tanpa alasan jelas, hingga pemain ketahuan mengkonsumsi minuman keras sebelum laga.

Apa langkah manajemen terhadap ulah para pemain tersebut? Hanya diistirahatkan (tidak dimainkan dalam sebuah laga), ya hanya itu. Manajemen terlihat kurang tegas dalam mengambil tindakan. Seharusnya, manajemen bisa mengambil tindakan tegas, misalnya memecat sang pemain. Karena dengan begitu, akan menjadi efek jera atau pembelajaran untuk pemain lain tidak melakukan hal yang sama.

Sejauh ini, manajemen belum pernah melakukan hal tersebut. Imbasnya adalah, pelatih disalahkan dan terburuk adalah pelatih tersebut dipecat.

“Saya pikir, seorang pelatih memang harus menanggung semua beban karena dia adalah kepala dalam tim, tapi saya juga berharap manajemen bisa memgambil keputusan seadil-adilnya dengan tidak mengorbankan orang per orang. Siapa yang salah wajib disalahkan, bila perlu dilepas dari tim. Kalau sudah begitu, saya yakin Persipura akan kembali pada jalurnya. Selama itu tidak dilakukan, jangan bermimpi untuk mengangkat piala diakhir kompetisi,” ujar Dwaramuri yang juga merupakan legenda hidup Persipura Jayapura ini. (*)

 

Editor: Edho Sinaga

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top