Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Sekjen PBB kunjungi Vanuatu

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dengan Perdana Menteri Vanuatu, Charlot Salwai. – DVU/Dan McGarry

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Port Vila, Jubi – Vanuatu dan negara-negara Pasifik lainnya dapat mengajar dunia, kata Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres pada hari Sabtu. “Pelajarannya itu sangat sederhana. Kita harus menyelamatkan Pasifik, dan menyelamatkan dunia,” kata Sekjen PBB António Guterres, “dan untuk dapat melakukan hal ini kita memerlukan kemauan politik yang kuat.”

Sekjen PBB itu tiba di Vanuatu, Sabtu lalu (18/5/2019), di tengah cuaca yang buruk. Sebuah badai, di luar musim siklon, sedang berada di sebelah utara Fiji, menyebabkan cuaca berawan dan angin kencang di Vanuatu, dengan gerimis mengguyur di landasan pesawat saat, Guterres turun dari pesawat hercules Angkatan Udara Australia, Royal Australian Air Force.

Dia disambut oleh perwakilan dewan kepala-kepala suku Vaturisu, dan diberi kehormatan tinggi dengan melangkah di bawah daun Namele, ketika dia memasuki ruang tunggu VIP bandara.

Setelah kunjungan kehormatan singkat kepada kepala negara, dimana mereka disajikan air kelapa segar, Guterres menuju ke kantor perdana menteri. Di sana ia menghadiri pertemuan bilateral untuk membahas isu-isu prioritas seperti perubahan iklim, dan dukungan Vanuatu untuk dekolonialisasi di seluruh belahan dunia yang tidak pernah berhenti.

Loading...
;

Guterres menyinggung isu Papua Barat serta beberapa masalah lainnya, dan berbicara dengan berapi-api tentang semakin pentingnya darurat perubahan iklim.

“Pasifik,” jelasnya, “memiliki otoritas moral untuk meminta semua negara agar mematuhi apa yang sekarang dianggap penting oleh komunitas internasional — dan komunitas ilmiah: bahwa suhu planet ini tidak akan naik lebih dari 1,5 derajat celcius pada akhir abad ini, dan demi tujuan itu, kita harus mencapai netralitas karbon (carbon neutrality) pada 2050.

Dia bersikeras “bahwa capaian-capaian ini dapat diraih. Mereka hanya bergantung pada kemauan politik.”

Tidak lama setelah itu, dalam sebuah wawancara dengan kantor berita AFP, dia berkata, “Saya berada di Tuvalu kemarin, dan untuk melihat ancaman eksistensial yang dihadapi Tuvalu, hal itu benar-benar menghancurkan hati saya.” (Daily Post Vanuatu/Dan McGarry)

Editor: Kristianto Galuwo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top