Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Sekolah Adat jadi bukti eksistensi orang Papua

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw didampingi Fredy Sokoi selaku akademisi, dan perwakilan AMAN, Abdon Nababan, pada acara simposium Sekolah Adat. -Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Pada 4 Agustus 2017, bersamaan dengan kunjungan Bupati Minahasa Selatan (Minsel), Provinsi Sulawesi Utara, ke Sekolah Adat di Kabupaten Jayapura, Bupati Jayapura Mathius Awoitauw resmi membuka Sekolah Adat tersebut.

Memasuki usia dua tahun, Sekolah Adat kini dihuni oleh 176 siswa aktif dengan 14 tenaga pengajar sebagai sukarelawan.

Sejalan dengan perkembangan waktu serta kebutuhan atas sarana dan prasarana pendukung, tiga ruang kelas dan kantor baru dibangun dan telah diresmikan oleh Bupati Awoitawu, pada Jumat (22/2/2019).

Bupati Awoitauw mengatakan, Sekolah Adat sudah sejalan dengan apa yang diupayakan pemerintah selama ini. Menurutnya, inisiatif yang dilakukan oleh masyarakat dengan menghadirkan lembaga pendidikan kultur seperti itu sangat penting.

Loading...
;

“Karena melalui lembaga non-formal ini, setiap anak-anak yang mengenyam pendidikan akan ditempa dengan hal-hal yang tidak ditemui di lembaga pendidikan formal,” katanya.

Pendiri sekaligus Direktur Sekolah Adat, Origenes Monim mengatakan, salah satu gagasannya untuk mendirikan sekolah ini agar bisa menjadi lembaga pendidikan non-formal, yang mampu melestarikan nilai-nilai adat sebagai wahana budaya bangsa.

“Serta memiliki nilai strategis dalam menopang dan memberikan bobot pengetahuan, sikap, keterampilan, dan jati diri masyarakat adat dan pemerintahan Kampung Adat di Kabupaten Jayapura,” katanya.

Menurutnya, sudah bertahun-tahun terjadi pergeseran jati diri di tengah perkembangan generasi muda, khususnya di Sentani.

“Karena zaman dahulu ada tempat belajar bagi generasi muda yang disebut ‘khombo’. Tetapi ketika masuknya para penyebar ajaran baru, khombo dimusnahkan karena dianggap turut mengajarkan hal-hal yang beraliran mistis dan ilmu sihir,” ceritanya.

Kemudian, kata dia, seperti ada kegelisahan yang muncul akibat mulai tergerusnya tradisi dan adat istiadat dari masyarakat lokal.

“Maka untuk mengembalikan khombo didirikanlah Sekolah Adat ini, setelah kami berkoordinasi dengan pimpinan daerah,” katanya.

Setelah resmi menjadi sebuah wadah pendidikan atau ‘khombo modern’, Sekolah Adat juga menyelenggarakan proses belajar mengajar layaknya sekolah formal. Sekolah adat memiliki kurikulum, jadwal belajar, serta 10 mata pelajaran yang diajarkan kepada setiap peserta didik.

“Dengan jadwal dan program yang terencana selama dua semester di masing-masing mata pelajarannya,” katanya.

Dikatakan, yang menjadi perbedaan Sekolah Adat dengan sekolah formal adalah mata pelajaran. “Mata pelajaran yang diajarkan sebagian besar adalah bagian dari aktivitas, kebiasaan, dan cara hidup masyarakat Sentani, khususnya di waktu lampau. Seperti mam atau adat istiadat dan aturannya yang meliputi robu, kulu, rungkangge, wakundang, hembonirela, dan masih banyak lagi.”

Tetapi menurutnya ada sebagian mata pelajaran yang sifatnya umum dan biasa diajarkan di sekolah formal, seperti pendidikan kewarganegaraan, pariwisata, dan seni lukis.

Atas rekomendasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) pada Konferensi Masyarakat Adat Nusantara yang dilaksanakan beberapa waktu lalu di Jakarta, status sekolah ini diusulkan akan dinaikkan menjadi setara perguruan tinggi.

Untuk upaya tersebut, pihak Sekolah Adat pun menggelar simposium bersamaan peresmian gedung baru yang menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten, untuk menyusun langkah-langkah selanjutnya menuju perubahan status.

Untuk perubahan status sekolah ini, harus ada sekolah sejenis di beberapa tempat di Kabupaten Jayapura. Misalnya sekolah ini menjadi perguruan tinggi, maka lulusan dari Sekolah Adat di masing-masing kampung akan ditampung di perguruan tinggi itu,” kata Monim.

Salah satu narasumber dari AMAN yang hadir dalam simposium, Abdon Nababan, mengatakan untuk menindaklanjuti hasil pembahasan simsposium, sesegera mungkin akan dibentuk sebuah tim.

Sistematisasi sekolah-sekolah adat sejenis di tingkat kampung akan dilakukan tim,” ujar Nababan.

Abdon juga berjanji akan bekerja keras terkait pengalihan status Sekolah Adat di Kabupaten Jayapura. Ia mengaku AMAN memiliki jaringan masyarakat adat tidak hanya se-Nusantara, tapi juga di belahan negara-negara maju yang telah menerapkan sistem budaya.

Kami punya jaringan pendidikan yang luas, sehingga apa pun kondisinya kita akan berupaya semaksimal mungkin untuk kepentingan Sekolah Adat ini,” katanya.

Salah seorang peserta didik Sekolah Adat, Marnece Doyapo, dari Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, mengaku senang dan termotivasi untuk belajar dan mengetahui sejarah dan budaya Papua khususnya Sentani.

Saya sangat berharap agar anak–anak Sentani yang belum bergabung bersama kami, bisa segera ikut belajar di Sekolah Adat ini,” kata pemuda yang sekarang duduk di kelas Khahea (kelas pemuda). (*)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top