Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Sekolah di Jayawijaya diaktifkan kembali

Guru, masyarakat sekitar, dan aparat keamanan membersihkan puing-puing kerusakan di SMP YPPK Santo Thomas, Wamena – Jubi/Islami

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Pada Senin 23 September 2019 saat jam masih menunjukkan pukul delapan pagi, suasana di sejumlah wilayah di Wamena, Kabupaten Jayawijaya berubah menjadi tegang karena adanya demo yang dilakukan para pelajar.

Banyak masyarakat yang mengira hal itu sebagai tawuran pelajar, namun aksi itu berubah menjadi anarkis dan merusak ratusan bangunan, termasuk beberapa sekolah berbagai jenjang.

Data Dinas Pendidikan Jayawijaya, dari 61 sekolah di kabupaten tersebut, sebanyak 25 sekolah berbagai jenjang seperti PAUD/TK, SD, SMP, dan SMA/SMK yang telah melaporkan terkena dampak kerusuhan dengan berbagai jenis kerusakan.

“Ke-25 sekolah itu sudah menyampaikan bentuk kerusakan sekolahnya dan telah dilaporkan ke Bupati melalui Dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) dan mereka berharap ditindaklanjuti untuk perbaikan,” kata Sekretaris Dinas Pendidikan, Bambang Budiandoyo, Kamis, 3 Oktober 2019.

Loading...
;

Pada hari keenam pasca kerusuhan, dari pantauan Jubi, sejumlah sekolah di dalam kota rusak, baik kaca maupun ruangan, serta kerusakan lainnya.

Tak mudah untuk memaksa sekolah harus kembali dibuka seperti biasa, karena para siswa dan guru masih ada yang trauma dengan peristiwa tersebut.

Seperti yang disampaikan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Wamena, Yosep Wibisono. Ia mengatakan pasca kejadian banyak orangtua bersama siswa yang memilih keluar dari Wamena untuk menenangkan diri sejenak.

Baik hanya pergi ke Jayapura maupun ke luar Papua. Makanya untuk memulihkan keadaan sekolah, SMA Negeri 1 Wamena lima hari setelah kejadian, kepala sekolah bersama guru yang masih tinggal di Wamena dan siswa membersihkan puing-puing pecahan kaca.

“Kami berinisiatif sendiri membersihkan sekolah meski dengan guru dan siswa yang ada, semua ini demi menghilangkan kesan rusuh ketika proses belajar-mengajar dimulai,” kata Yosep.

Di SMA Negeri 1 Wamena hanya kaca-kaca jendela ruang kelas dan ruang guru, tata usaha yang hancur, karena dilempari batu oleh massa. Plang nama sekolah dan pagar tak luput dari perusakan.

“Kerugian belum bisa diperkirakan, kerusakan yang terjadi bisa saja menghambat dan tidak menghambat proses belajar-mengajar,” katanya.

Namun, tambahnya, bisa juga tidak mengganggu karena sarana belajar tidak rusak parah.

“Hanya kaca yang pecah, tetapi bisa dikatakan menghambat karena akan menimbulkan trauma kembali bagi siswa atau guru yang datang ke sekolah,” ujarnya.

Pada Jumat, 4 Oktober 2019 pegawai Pemkab Jayawijaya bersama sejumlah masyarakat dan TNI-Polri melakukan pembersihan sekolah yang rusak. Mulai dari wilayah Wouma masuk ke perkotaan hingga wilayah Hom-Hom.

Dari pembersihan di SMP YPPK Santo Thomas, berbagai elemen masyarakat turut membantu. Di sekolah ini ada satu ruangan yang terbakar sehingga dilakukan pembersihan, selain kaca-kaca yang pecah.

Pembersihan dilakukan agar rencana Pemkab Jayawijaya mengaktifkan sekolah mulai Senin, 7 Oktober 2019 berjalan lancar. Meskipun Dinas Pendidikan, pengelola sekolah, dan orangtua serta para siswa belum begitu yakin sekolah akan belum berjalan dengan baik.

Alasannya masih banyak peserta didik yang masih berada di luar Wamena. Bahkan, Sekretaris Dinas Pendidikan pun menyebutkan jika target tersebut hanya untuk membuka sekolah, selanjutnya berkoordinasi dengan komite sekolah dan juga memetakan jumlah siswa yang ada maupun yang masih di luar.

“Hanya sebatas membuka sekolah, kepala sekolah rapat dengan dewan guru, komite sekolah untuk memetakan siswanya yang ada berapa, memetakan yang perlu trauma healing berapa, perlakuan untuk kelas VI, IX, dan XII untuk persiapan ujian bagaimana,” kata Bambang.

Keinginan pemerintah daerah tersebut disampaikan Bupati Jayawijaya, Jhon Richard Banua, agar sekolah kembali dibuka. Pemerintah hingga TNI dan Polri tetap menjamin setiap sekolah hingga para guru, baik di dalam kota maupun pinggiran.

Bupati mengatakan soal jaminan keamanan sudah ada dari Dandim dan Kapolres serta pemerintah untuk melindungi guru.

“Diharapkan sekolah, baik di dalam kota maupun luar kota, agar kembali buka,” ujarnya.

Ia mengatakan sebelum akhir pekan ini Pemkab Jayawijaya juga melakukan pertemuan dengan kepala distrik, kapolres, danramil, dan tokoh perwakilan distrik.

“Untuk menyampaikan kepada masyarakat di distrik agar sekolah bisa kembali beraktivitas,” kata Banua.

Bahkan kata Bupati Banua, ia telah berkoodinasi dengan seluruh kepala distrik pada Sabtu, 5 Oktober 2019 di gedung DPRD Jayawijaya untuk meminta agar setiap kepala distrik juga turut menjaga kelancaran aktivitas sekolah.

Meski begitu, sejumlah orangtua siswa merasa jika memang ada siswa masih enggan pergi ke sekolah karena masih trauma, hal itu tidak dapat dipaksanakan.

“Haknya pemerintah daerah mengeluarkan instruksi atau imbauan agar sekolah bisa berjalan kembali, tetapi jika orangtua siswa atau murid yang bersangkutan belum mau masuk sekolah, itu juga hak siswa karena mungkin masih trauma,” kata Riko, orangtua siswa. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top