Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Sekolah di Wamena utamakan pemulihan trauma

Siswa SMP Negeri 1 Wamena melakukan kegiatan pemulihan trauma (trauma healing) pada hari pertama masuk sekolah pasca amuk massa -Jubi/Islami

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Setelah dua minggu ditutup pasca amuk massa 23 September 2019, semua sekolah di Kabupaten Jayawijaya kembali diaktifkan mulai Senin, 7 Oktober 2019.

Data dari Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya, sekolah yang terdampak akibat kerusuhan 16 SMP dengan jumlah siswa 4.775 orang. Kemudian 22 SD dengan jumlah murid 6.428 orang.

Selain itu 11 TK/PAUD (jumlah murid belum terdata), 7 SMA, dan 5 SMK yang jumlah siswanya belum terdata.

Hari pertama masuk sekolah pada Senin sesuai dengan kesepakatan pemerintah daerah yang sebelumnya mengadakan pertemuan dengan seluruh kepala sekolah, komite sekolah, dan juga seluruh kepala distrik.

Loading...
;

Meski begitu, dari pantauan di lapangan kehadiran siswa maupun guru di sekolah masih minim. Salah satu alasan, beberapa kepala sekolah menyebutkan penyebabnya karena masih ada guru dan siswa yang ingin menenangkan diri di luar Wamena.

“Problem guru ini paling banyak trauma, karena proses kejadian ini berawal dari sekolah sehingga banyak yang meminta izin hanya untuk menenangkan diri, baik di Jayapura maupun di kampung halaman,” kata Kepala SMA Negeri 1 Wamena, Yosep Wibisono.

Untuk itu, sekolah fokus mengadakan kegiatan untuk menghilangan trauma di awal-awal sekolah, baik untuk siswa maupun guru. Sekolah tidak langsung melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.

“Kita hanya meminta seluruh siswa dan guru merapikan kelas dan halaman sekolah, sambil kita mendata siswa yang hadir dan belum hadir, lebih kepada mengutamakan trauma healing,” kata Yosep.

Ia menyebut, di hari pertama sekolah jumlah siswa terdata 947 orag, pada hari pertama diperkirakan yang hadir sekitar 200-an orang, ditambah dengan jumlah tenaga pengajar dari 52 orang yang baru 34 orang.

Sama juga di SMP Negeri 1 Wamena, dari 1.097 siswa yang hadir pada hari pertama baru 190 orang atau baru 12 persen. Sedangkan guru baru 27 dari 43 orang.

“Kami belum melakukan proses belajar-mengajar, sifatnya hanya untuk pendataan dan kami ajak siswa bermain untuk menghilangkan rasa takut atau kegelisahan mereka,” kata Kepala SMP Negeri 1 Wamena, Yemima Kopeuw.

Pasalnya, kata Yemima Kopeuw, hari pertama sekolah hanya dimulai dengan pendataan khusus bagi yang masuk dan trauma healing khusus buat guru dan anak didik.

“Untuk proses KBM (Kegiatan Belajar-Mengajar-red) belum mulai, hari ini kami hanya pendataan, tadi diawali dengan doa bersama dihadiri ketua komite, orang tua siswa, dewan guru dan siswa-siswi, ini baru pendataan awal untuk siswa yang hadir sehingga belum disepkati kapan KBM dimulai,” katanya.

Pendataan yang dilakukan, kata dia, setiap kelas telah membuat grup di media sosial (WhatsApp) bersama orang tua siswa, agar setiap wali kelas dapat mengetahui siapa-siapa saja yang belum bisa hadir ke sekolah.

Kepala SD YPPK Santo Yakobus Honai Lama, Efaim Yeuruan, mengatakan sekolahnya sudah siap memulai sekolah, namun guru yang hadir baru tujuh orang dan siswa dari 490 baru dua orang yang hadir.

“Kebanyakan siswa kami dari Kabupaten Nduga, Yalimo, Lani Jaya, dan Wamena, kurangnya siswa yang hadir karena orangtua membawa mereka ke kampung masing–masing setelah kerusuhan,” kata Efaim Yeuruan.

Irgo Kogoya, seorang pelajar kelas VIII SMP Negeri 1 Wamena, mengaku senang bisa kembali belajar setelah dua pekan hanya tinggal di rumah.

“Senang bisa sekolah lagi dan ketemu teman-teman,” kata Irgo Kogoya yang sehari-harinya keluar dari rumah pukul 06.30 WP berjalan dari seputaran Kama, Distrik Wesaput.

Sekretaris Dinas Pendidikan Jayawijaya, Bambang Budiandoyo, menyampaikan jika dari pengamatannya di hari pertama masuk sekolah, sekitar 10-20 persen kehadiran guru dan siswa di 10 sekolah yang dikunjungi.

“Dari kunjungan kami semua sudah jalan, tetapi hanya pada proses kegiatan-kegiatan rekreatif dan pendataan mengenai jumlah siswa yang datang sekaligus guru-guru yang keluar,” kata Bambang.

Ia menyebut jika sejak hari pertama sekolah mulai dibuka, telah langsung ada suatu penanganan trauma healing dari Kementerian Sosial yang didahului di SMP Negeri 1 Wamena.

Selain itu, kata Bambang, ada juga bantuan dari Wahana Visi Indonesia (WVI) yang akan menurunkan tujuh orang untuk membantu menghilangkan rasa trauma peserta didik baik dari tingkat SD hingga SMA.

“Membantu trauma healing ini sementara ada dari Kementerian Sosial dan WVI, ada pula yang ingin membantu dari lembaga keagamaan, namun hal ini kami belum terima data dari lembaga mana dan jumlahnya,” katanya.

Untuk proses belajar-mengajar sendiri, kata Bambang, setelah trauma healing dilakukan paling tidak ada situasi sedikit kondusif dan dari situlah baru bisa pastikan data yang benar mengenai jumlah siswa dan guru.

“Kami juga ada teman-teman guru dari Indonesia Cerdas yang stay ada 30 orang, mungkin kami akan distribusikan mereka ke sekolah-sekolah yang kekurangan guru agar mendorong proses belajar-mengajar nanti,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top