Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Sempitnya kesimpulan tentang sawit

Protes masyarakat adat di Keerom terhadap Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit PTPN II – Jubi/Asrida Elisabeth

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Senin, 4 Februari 2019, Kementerian Koordinator Perekonomian mengeluarkan rilis hasil penelitian Satuan Tugas Kelapa Sawit International Union for Conservation of Nature (IUCN) tentang kelapa sawit. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa kelapa sawit sembilan kali lebih efisien dalam penggunaan lahan dibanding komoditas minyak nabati lainnya.

Disebutkan, untuk menjawab kebutuhan global akan minyak nabati, kelapa sawit jauh lebih baik dibanding minyak nabati lainnya. Dengan mengganti komoditas kelapa sawit dengan komoditas minyak nabati lainnya, akan secara signifikan meningkatkan total kebutuhan lahan.

Erik Meijaard, Kepala Satgas Kelapa Sawit IUCN, saat menyerahkan hasil studi ini kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, di Jakarta, Senin (4/2/2019), mengatakan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri kelapa sawit, utamanya di Indonesia, fakta berbasis ilmiah seperti ini sangat diperlukan untuk memberikan pemahaman kepada publik, terkait pengembangan kelapa sawit di Indonesia.

Pada tahun 2050, diperkirakan kebutuhan minyak nabati dunia sebesar 310 juta ton. Saat ini minyak kelapa sawit berkontribusi sebesar 35% dari total kebutuhan minyak nabati dunia, dengan konsumsi terbesar di India, RRT dan Indonesia. Proporsi penggunaannya adalah 75% untuk industri pangan dan 25% untuk industri kosmetik, produk pembersih, dan biofuel.

Loading...
;

Penelitian ini menunjukkan keanekaragaman hayati di hutan hujan tropis diisi sekitar 193 spesies yang langka, seperti orangutan, siamang, gajah, dan harimau. Pemerintah Indonesia pun sudah mengalokasikan habitat bagi flora dan fauna tersebut. Jenis habitatnya berupa taman nasional, cagar alam, suaka margasatwa, dan kawasan lindung lainnya dengan luasan hutan konservasi sebesar 22,1 juta hektare dan hutan lindung seluas 29,7 juta hektare.

Pemerintah juga telah mengalokasikan ruang lain di luar kawasan perlindungan sebagai areal habitat satwa seperti koridor satwa, Kawasan Ekonomi Esensial (KEE), serta High Conservation Value (HCV).

Di Indonesia, alokasi pemanfaatan lahan untuk menunjang kehidupan seluas 33% (66 juta hektare) dari total luas daratan Indonesia. Dari luasan tersebut, perkebunan kelapa sawit lahan terluas dengan pemanfaatan sebesar 14 juta hektar, diikuti sawah yang menempati 7,1 juta hektare lahan, dan selebihnya pemukiman dan fasilitas publik lainnya.

Lebih lanjut, hasil penelitian juga menyatakan bahwa wilayah tropis di Afrika dan Amerika Selatan merupakan daerah potensial untuk penyebaran kelapa sawit. Wilayah tersebut merupakan habitat bagi setengah (54%) dari spesies mamalia terancam di dunia dan hampir dua pertiga (64%) dari spesies burung yang terancam. Jika kelapa sawit digantikan oleh tanaman penghasil minyak nabati lainnya, maka akan menimbulkan dampak terhadap ekosistem hutan tropis dan savana di Amerika Selatan.

Kesimpulan yang sempit

Sepintas dengan hanya melihat perbandingan luas lahan yang dibutuhkan antara minyak sawit dan minyak nabati lain, tampak sawit jauh lebih baik dibanding minyak nabati lain. Dengan demikian sawit lebih mendukung keanekaragaman hayati

Namun, menurut Pastor Anselmus Amo dari Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Merauke (SKP KAME), kesimpulan itu terlalu sempit. Minyak nabati nonsawit bisa tumbuh di wilayah lain selain wilayah tropis dan wilayah-wilayah itu bukan kawasan hutan lagi. Sedangkan sawit, hanya tumbuh di daerah tropis dengan hutan yang luas.

“Memang secara luas lebih kecil dibandingkan dengan yang lain.Tapi persoalannya itu ketika dia masuk ke wilayah tropis. Sawit itu hanya di wilayah tropis dan dia akan mengambil kawasan hutan yang begitu besar,” kata Pastor Anselmus kepada Jubi di Jayapura.

Dengan demikian, dari segi upaya perlindungan hutan di wilayah tropis, sawit bermasalah. Hal lain yang dkritisi dari penelitian ini adalah tata kelola limbah sawit yang kemudian menunjukkan bahwa sawit ini ramah lingkungan. Faktanya tidak semua perusahaan kelapa sawit memiliki tata kelola limbah yang baik.

Di Merauke, tempat SKP KAME mendampingi masyarakat, limbah pabrik sawit mencemari Kali Bian.

”Jadi, kita lihat bahwa mungkin sampel yang diambil itu perusahaan yang tata kelola untuk limbahnya sudah baik. Tapi yang kita alami di sini memang ada yang belum baik.”

Karenanya, hasil penelitian ini tidak bisa menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa kelapa sawit lebih baik dan melegitimasi keluarnya izin-izin baru perkebunan sawit. Apalagi penelitian ini masih terbatas pada keanekaragaman hayati. Penelitian tentang masalah sosial budaya dan ekonomi bahkan belum dilakukan. Padahal masalah yang sering terjadi di Papua, adalah masalah sosial, budaya, dan ekonomi.

“Bukan soal keberlanjutan kelapa sawitnya untuk ekonominya semata. Apapun yang dilakukan itu kan untuk manusia. Pelestarian alam itu untuk melindungi manusia. Justru manusia, sosial budayanya ini yang harus dilihat lebih dahulu. Baru mengeluarkan satu pernyataan bahwa sawit ini bisa menjamin.” (*)

Editor: Timo Marten

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top