Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Sepaham: orang Indonesia perlu tahu, mereka yang demo hari ini belajar sejarah

Aksi demo rasisme yang berujung anarkis pada Kamis (29/8/2019) di Kota Jayapura – Jubi/Engel Wally.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Serikat Perjuangan Mahasiswa atau Sepaham Papua mengatakan mahasiswa yang melakukan protes terhadap rasisme dan menuntut referendum dan kemerdekaan Papua bukanlah demonstran yang emosial dan reaktif. Para pengunjukrasa itu justru mahasiswa Papua yang telah belajar sejarah integrasi Papua ke dalam Indonesia.

Hal itu dinyatakan juru bicara Sepaham Papua, Nelius Wenda pada Kamis (5/9/2019). “Orang Indonesia [perlu] tahu, yang bergerak hari [ini] justru pemuda dan mahasiswa [yang] belajar sejarah. [Kami belajar sejarah] dari buku, tokoh, dan para korban pelanggaran hak asasi manusia,”ungkap Nelius Wenda di Kota Jayapura, Kamis.

Wenda menyatakan Sepaham adalah organisasi gabungan berbagai organisasi kemahasiswaan di Papua. Sepaham terbentuk melalui kongres bersama Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), Gerakan Mahasiswa dan Rakyat (GEMPAR), Forum Independent Mahasiswa (FIM) dan Solidaritas Nasional Mahasiswa Papua (SONAMAPa) pada tahun lalu. Wenda menyatakan para aktivis Sepaham belajar dari pengalaman kolektif orang asli Papua maupun buku sejarah tentang Papua.

Salah satu pengalaman kolektif itu, demikian menurut Wenda, adalah intimidasi yang dialami para pelaku sejarah Penentuan Pendapat Rakyat 1969 agar memilih Papua bergabung dengan Indonesia. “Kisah-kisah itu pun tercatat dalam buku yang menjadi bahan bacaan dan dasar pemberontakan hari ini,”ungkap Wenda.

Loading...
;

Berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua juga menjadi ingatan kolektif orang Papua, dituturkan para korban atau keluarga korban kekerasan Negara. Kisah penangkapan, penahanan, penyiksaan, hingga pembunuhan dengan tuduhan kabur masih terjadi di Papua, sehingga ingatan kolektif itu dikokohkan dengan fakta kasus baru pelanggaran HAM di Papua.

“Mahasiswa bergerak bukan karena emosional atau digerakkan spontanitas. [Mereka] berdasar [kepada] sejarah yang mereka pelajari ,dan kisah para korban pelanggaran HAM,” ungkap Wenda.

Soleman Itlay, salah satu aktivis mahasiswa yang fokus dalam advokasi isu pelayanan kesehatan di Papua mengatakan ketidakadilan pembangunan antara kota dan kampung juga telah menjadi pengetahuan mahasiswa. “Saya dan teman-teman berteriak kesehatan dan pendidikan orang Koroway hingga hari ini tidak ada penanganan,”ungkapnya kepada jurnalis Jubi.

Pengalaman  langsung para mahasiswa seperti Wenda dan Itlay semakin menguatkan pengetahuan sejarah yang mereka pelajar dari cerita maupun buku. Itlay menegaskan bahwa ia dan para mahasiswa Papua memahami sejarah pendudukan Papua bukanlah sejarah keberpihakan kepada kemanusiaan, namun sejarah menguasai kekayaan alam Papua.

“Kita dengar Koroway itu banyak penambang emas ilegal yang [dimodali] pejabat daerah hingga elit di Jakarta. Akan tetapi, nasib [orang asli Papua sebagai] pemilik [lokasi tambang] begitu, dibiarkan  bodoh dan sakit,”ungkapnya.

Itlay menegaskan pengetahuan yang menjadi dasar demonstrasi  para mahasiwa Papua hari ini berbeda dengan yang isu yang dipercakapkan para elit politik di Jakarta. Pengetahuan yang menjadi dasar para mahasiswa Papua turun ke jalan bahkan berbeda dengan isu yang dipercakapkan para elit oportunis Papua yang mengatasnamakan diri sebagai orang Papua, lalu berbicara di meja dialog atau media.

Itlay secara khusus mengkritik pernyataan sejumlah elit Papua yang menyebut masalah Papua sebagai persoalan Otonomi Khusus Papua maupun terhentinya proses dialog Jakarta-Papua.  “Orang yang bicara berbagai media itu tidak tahu masalah Papua. Mereka itu tinggal di Jakarta. [Mereka] juga bukan utusan pendemo [sehingga mereka tidak punya dasar untuk] membicarakan aspirasi pengunjukrasa,” ungkapnya.

Itlay mendesak kelompok oportunis Papua di Jakarta untuk berhenti menumpangi unjukrasa anti rasisme untuk membicarakan Otonomi Khusus Papua. Sejak unjukrasa anti rasisme pertama terjadi di Jayapura pada 19 Agustus 2019 lalu, para mahasiswa dan rakyat Papua tidak pernah membahas evaluasi Otonomi Khusus Papua, ataupun meminta tambahan Dana Otonomi Khusus Papua.

“Stop bicara, karena yang mereka bicara jauh dari aspirasi rakyat. Itu menambah emosi rakyat yang sedang lawan sistem kolonial. Rakyat Papua meminta referendum untuk penentuan nasib sendiri,” ungkap Itlay.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

 

 

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top