Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Serapan beras Bulog di Papua dan Papua Barat hanya 70 persen

Ilustrasi – Jubi/Dok.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Hingga November tahun ini, serapan beras di Perum Bulog mencapai 70,7 persen atau 34.500 ton dari target 48.750 ton.

Dengan total pengadaan penyerapan petani oleh Perum Bulog Papua dan Papua Barat di tahun 2019 ini sebanyak 48750 ton,  namun sudah terealisasi sebanyak 34.500 Ton artinya sudah 70,7 persen.

Kepala Bulog Papua dan Papua Barat, Sopran Kenedi menargetkan  akan ada serapan tambahan hingga Desember 2019.

“Karena kita masuk panen gaduh maka akan ada potensi penyerapan lagi tambahan lagi dari berabgai wilayah seperti Merauke sebanyak 8.000  Ton, Manokwari 250 ton dan  Nabire 1.200 ton atau kurang lebih 9.500 ton tambahannya. Ini akan beratahan hingga bulan Februari mendatang,” ujar Sopran Kenedi, Selasa (11/11/2019) di kantornya.

Loading...
;

Sementara serapan beras khusus di Merauke untuk wilayah Papua dan Papua Barat sudah hampir mencapai hampir 91 persen dari target 29.300 sudah diserap 26.700 ton untuk tahun 2019.

“Hingga bisa dibilang hampir 100 persen, dan akhir tahun ini kami optimis bisa tercapai,” ujarnya.

Terkait dengan adanya panen gaduh hingga Desember, pihaknya melakukan beberapa langkah salah satunya melakukan moving beras merauke ke berbagai daerah Papua seperti 1.000 ton ke Timika dan 3.000 ton ke Jayapura.

“Tidak benar kalau kami tak lakukan penyerapan beras Merauke. Solusi pendeknya moving beras ke berbagai daerah. Solusi jangka panjang, kami akan bangun gudang beras lagi dengan kapasitas 1.000-2.000 ton lagi di Semraya, dan upaya pinjam pakai gudang beras Provinsi sebesar 2 unit sebesar 5.000 ton  serta memperbanyak move hingga percepatan penyerapan beras bulog titipan anggaran dimana ada sekitar 800 ton,” ujarnya.

“Untuk penyerapan Nabire, kami hanya bisa menyerap 60 persen dari target  8.150 ton baru terserap 4.850 ton. Faktornya, dikarenakan kebutuhan lokal lebih besar dan  hasil panennya kecil tidak seperti Merauke dimana over suplai,” katanya lagi.

Sebelumnya, belasan petani mendatangi Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Merauke, setelah beras mereka tak kunjung diserap oleh Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divisi Regional (Divre)  Merauke.

Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Slamet Hariyadi mengatakan dalam beberapa bulan terakhir para petani mengeluh karena berasnya tak dapat dijual. Bahkan gabah menumpuk di rumah lantaran ditolak oleh pemilik penggilingan. (*)

 

Editor : Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top