Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Sesalkan tindakan polisi, Waket II DPRD Deiyai: lebih baik tangkap kami

Beberapa orang yang masih berada di halaman kantor Bupati Deiyai angkat tangan saat ‘pecah’ penembakan pada 23 Agustus 2019- Melison for Jubi

Papua No. 1 News Portal | Jubi
Jayapura, Jubi – Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Deiyai, Petrus Badokapa menyesalkan tindakan Kepolisian Resort (Polres) Paniai dan Kodim Paniai atas perlakuan terhadap sembilan tersangka kasus anti rasisme yang ditahan pada 23 Agustus 2019 lalu.

“Lebih baik tangkap kami yang pejabat. Atau sekaligus bunuh saja kami semua yang ada di Meepago ini. Saya sangat menyesal dengan tindakan Polisi dan TNI di Paniai maupun Deiyai,” ujar Petrus Badokapa kepada Jubi, Sabtu, (1/11/2019).

Ia mengatakan, sembilan orang yang sudah dipindahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Nabire dan rumah tahanan Polres Nabire merupakan bentuk kebodohan aparat keamanan kepada masyarakat Meepago terutama dari Deiyai.

“Jelas-jelas, kepolisian menutupi dosa dan kelakuan mereka. Bahkan mereka tunjukkan kebodohan atas kurangnya pengetahuan menangani suatu masalah, apalagi soal rasisme di sini,” katanya.

Ia pesimistis dengan tindakan Pemerintah melalui aparat sebab tidak adili pelaku yang ujarkan kata-kata rasis di Surabaya pada 15 sampai 17 Agustus 2019 lalu. “Kalau mau adili berarti tangkap Ormas yang ada di Surabaya. Ulahnya ada di sana, awalnya mereka yang bilang kami orang Papua adalah monyet,” kata dia.

Loading...
;

Menurutnya, waktu demo di Deiyai anak-anak datang demo di kantor Bupati Deiyai itu dengan damai. Mereka tidak berbuat ricuh. “Masyarakat datang demo aman. Tapi yang bikin kacau itu oknum anggota TNI yang tabrak Yulianus Takimai hingga tewas di tempat lalu terjadilah kekacauan. Jadi tanpa bukti pelanggaran yang jelas, langsung main tangkap,” ujarnya.

Pastor Santon Tekege, Pr mengatakan, sembilan orang ditahan lantaran kerusuhan saat penolakan rasisme terhadap orang asli Papua (OAP), maka harusnya Polres Paniai dan Dandim Paniai juga menahan semua orang di Meepago.

“Masalah rasisme ini masalah besar. Rasisme dialamatkan kepada orang asli Papua. Nah, sembilan orang ditahan karena rasisme, maka sepatutnya Kapolres Paniai dan Dandim Paniai harus tahan kita semua orang Meepago,” ujar Pastor Santon Tekege, Pr kepada Jubi lewat sambungan telepon, Kamis, (31/10/2019).

Pastor Tekege yang banyak mengadvokasi kasus kekerasan di wilayah Meepago ini meminta kepada pimpinan Polri dan TNI di Paniai, tidak bertele-tele terhadap berbagai pernyataan dangkal, seperti sembilan orang masih ditahan karena belum dikembalikan satu pucuk senjata yang hilang.

“Jangan banyak pernyataan dari Kapolres ataupun Dandim, kalau anda berdua mau tahan lebih baik tahanlah semua orang Meepago. Entah Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, Intan Jaya dan Mimika. Ini bukan masalah sembilan orang, tapi ini masalah Papua dan Meepago,” katanya. (*)

Editor: Syam Terrajana

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top