Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Si bungsu Otier Wenda, yang berpulang setelah pulang ke Papua

Jenazah Otier Wenda saat berada di rumah duka di Sentani, Kabupaten Jayapura. – Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Pada Rabu (25/9/2019), keluarga Otier Wenda berduka mendapati jenazah Otier. Ketika pemuda kelahiran 1992 itu memutuskan pulang meninggalkan kota studinya di Bangkalan, Jawa Timur, keluarga Wenda tak menyangka Otier justru akan menjadi korban dari bentrokan antara para mahasiswa “eksodus” dan polisi pada Senin (23/9/2019) lalu.

Otier Wenda adalah salah satu mahasiswa Papua di Surabaya yang memilih pulang ke Papua, meninggalkan bangku kuliahnya. Padahal, anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Yonas Wenda dan Mina Kogoya itu hampir merampungkan kuliahnya.

Otier kecil menghabiskan masa kecilnya di Maggi, Kabupaten Lanny Jaya, menempuh SD dan SMP di sana. Lulus SMP, ia menamatkan sekolah di SMA YPPGI Ani Gou, Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya.

Sejak 2012, ia merantau ke Madura, Jawa Timur, berkuliah di program studi Agribisnis, Universitas Trunojoyo, Bangkalan. Hingga terjadilah persekusi dan rasisme yang dilakukan massa yang mengepung Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III di Surabaya pada 16 dan 17 Agustus 2019 silam.

Loading...
;

Merasa tak aman, ia memilih mengikuti seruan Majelis Rakyat Papua yang meminta para mahasiswa yang berkuliah di luar Papua pulang ke Papua. Di Jayapura, masalah ternyata tak selesai. Napar Yoman yang mewakili keluarga Otier Wenda bertutur, di Jayapura Otier justru merasa nasibnya serba tak jelas.

Ia dan para mahasiswa Papua yang berkuliah di luar Papua telah mengikuti seruan pulang dari kota studi mereka, meninggalkan bangku kuliahnya masing-masing. “Studi [para mahasiswa yang pulang dari kota studi di luar Papua], tidak diperhatikan oleh pemerintah. Sementara [di Jayapura] mereka [justru] melihat teman-teman mereka menjalani aktivitas kuliah seperti biasa,” ucap Napar Yoman di rumah duka di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Kamis (26/9/2019).

Senin (23/9/2019) pagi, Otier Wenda dan ratusan mahasiswa “eksodus” lainnya berkumpul di kampus Universitas Cenderawasih, ingin mendirikan Posko Umum Pelajar dan Mahasiswa Eksodus di sana.  Akan tetapi, polisi tidak mengizinkan pendirian posko umum di dalam kampus Universitas Cenderawasih. Padahal, pendirian posko umum itu mendapat dukungan dari sejumlah aktivis mahasiswa Universitas Cenderawasih.

Polisi tetap menyebut posko tidak bisa didirikan di sana, karena polisi menerima permintaan dari Rektorat Universitas Cenderawasih untuk mengeluarkan para mahasiswa “eksodus” itu dari kampus. Negosiasi terjadi, akhirnya polisi sepakat untuk menyediakan truk untuk mengantar para mahasiswa “eksodus” itu ke Waena, Kota Jayapura.

Di Waena, para mahasiswa eksodus itu justru bentrok dengan aparat keamanan. Di satu pihak, polisi menyatakan para mahasiswa eksodus secara tiba-tiba menyerang aparat keamanan di Waena. Di pihak lain, para mahasiswa bersaksi truk yang mereka tumpangi ditembaki dengan gas air mata oleh aparat keamanan, sehingga mereka kalang kabut dan melarikan diri. Sejumlah tiga warga sipil tewas dalam bentrokan itu, termasuk Otier Wenda. Selain itu, seorang prajurit TNI, Praka Zulkifli, tewas.

Peristiwa itu mengagetkan banyak pihak, termasuk Rektor Uncen, Dr. Apolo Safanpo. Ia menyebutkan, pembubaran para mahasiswa eksodus di halaman auditorium Uncen berlangsung secara persuasif dan dialogis.

“Tidak ada kekerasan di dalam kampus Uncen. Kita bisa lihat bahwa anak-anak yang ada di kampus Uncen dari dini hari, pagi sampai siang tidak ada kekerasan. Semua pembantu rektor dan dekan hadir lalu dialog dengan anak-anak,” katanya, Senin malam (23/9/2019).

Safanpo juga tidak mengetahui siapa yang membuat situasi di sekitar Expo Waena memanas, hingga akhirnya menelan korban. “Ada siapa, mengapa tiba-tiba situasi memanas? Ada pihak ketiga atau kelompok massa di sana?,” katanya bertanya.

Kebingungan keluarga

Sejak kabar bentrokan Waena itu tersiar, keluarga Otier Wenda kehilangan jejak keberadaan Otier. Napar Yoman mengatakan tidak mengetahui jenazah Otier telah terbaring di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Jayapura.

Napar menyebut pada Rabu (26/9/2019) keluarga Otier menerima informasi ada satu jenazah yang diduga bernama Otniel di RS Bhayangkara. Awalnya, keluarga tidak bercuriga bahwa itu jenazah Otier, lantaran perbedaan nama yang tercatat di rumah sakit.

Keluarga memilih mengecek keberaaan Otier dengan bertanya kepada pengurus Himpunan Mahasiswa Papua Lanny Jaya (HMPLJ). Pengurus  HMPLJ menyarankan keluarga Otier pergi ke RS Bhayangkara.

Di rumah sakit, Napar mengeluh karena merasa dipersulit pihak rumah sakit untuk dapat memastikan apakah benar jenazah di rumah sakit itu jenazah Otier Wenda. Untuk bisa mengambil jenazah Otier, pihak keluarga harus berkomunikasi dulu dengan Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya. Jenazah Otier baru bisa diambil pihak keluarga setelah Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung Lanny Jaya, Usman Jikwa datang mendampingi keluarganya di RS Bhayangkara.

“Ketika mayat dipindahkan [ke peti jenazah], itu keluarga pun tidak boleh masuk lihat. Seharusnya keluarga yang datang [dizinkan] melihat mayat, karena keluarga perlu tahu Otier ini meninggal karena apa? Apakah karena kena benda tajam, tembakan, atau apa begitu. Akan tetapi, saat itu penjagaan pihak kemanaan berlapis-lapis,” ucap Yoman.

Bagi Napar Yoman, pemulangan jenazah Otier Wenda seperti serba tergesa-gesa. “Pada waktu itu langsung dikasih naik mobil [jenazah], jadi kami tidak lihat kondisi mayat dari anak kami ini mukanya seperti apa. Dari [rumah sakit] langsung kasih naik di mobil seperti tergesa-gesa,” jelas Yoman.

Yoman juga menyesalkan tidak adanya penjelasan terkait penyebab kematian Otier Wenda. Ketertutupan informasi itu membuat keluarga Otier Wenda menjadi bercuriga tentang penyebab kematian Otier.

“Tidak ada keterangan terkait [penyebab] meninggalnya Otier, baik itu dari paramedis ataupun polisi. Kami sebagai keluarga sangat kecewa dengan apa dialami anak kami ini. Kalau [dibiarkan] tidak ada keterangan, kami dan orangtua [bisa-bisa] mengganggap itu pembunuhan,” tuturnya.

Demi Otiel dan para korban lainnya, harus ada langkah nyata untuk menyudahi kekerasan yang susul menyusul terjadi sejak kasus persekusi dan rasisme di Surabaya pada 16 dan 17 Agustus 2019 silam. Pemerintah Provinsi Papua juga harus bergerak cepat memberi kepastian nasib kepada ratusan mahasiswa eksodus yang telah pulang ke Papua. Demi Otier, dan demi para korban lain di Waghete, Jayapura, dan Wamena. Semoga mereka beristirahat dengan tenang dalam alam keabadian.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top