Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Siapa yang mendorong agenda Pasifik?

Pemimpin-pemimpin negara anggota Forum Kepulauan Pasifik 2019. – ABC News/ Melissa Clarke

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Dr. Colin Tukuitonga

Wilayah Pasifik saat ini menjadi fokus perhatian kekuatan negara-negara Pacific Rim, yang hanya khawatir dengan keamanan dan prospek ekonomi mereka masing-masing. Situasi geopolitik ini mempersulit tantangan yang dihadapi oleh banyak Negara-negara dan Wilayah-wilayah Kepulauan Pasifik (Pacific Islands Countries and Territories; PICTs), seperti ancaman ganda yang disebabkan oleh krisis iklim dan krisis penyakit tidak menular (Non-communicable Diseases; NCDs), dan keterbatasan yang genting dalam bidang pendidikan dan pengembangan keterampilan. Kemudian, meskipun ada bukti yang kuat bahwa ideologi dan praktik neoliberal itu terbatas di Pasifik, kebijakan-kebijakan ini terus memengaruhi agenda pembangunan di wilayah Pasifik.

Jadi, ini menyebabkan pertanyaan ‘Siapa yang mendorong agenda ini?’

Pemimpin-pemimpin Forum Pulau Pasifik (PIF) telah menerima regionalisme sebagai kunci untuk mengatasi tantangan bersama, dan meningkatkan prospek pembangunan ekonomi dan kesejahteraan bagi semua. Visi pemimpin-pemimpin untuk wilayah ini mulia, tetapi sulit untuk bisa, umumnya karena keterbatasan kapasitas, kurangnya sumber daya, dan keprihatinan yang selalu ada tentang hilangnya kemandirian. Meskipun demikian, visi tersebut menyediakan kerangka kerja cukup meluas untuk memungkinkan pembangunan.

Krisis ganda di Pasifik

Tidak diragukan lagi bahwa krisis iklim mengancam kehidupan dan mata pencaharian masyarakat Pasifik. Akses ke air bersih dan makanan bergizi akan menjadi semakin sulit bagi orang-orang dari negara-negara berkembang pulau kecil atau Small Islands Developing States (SIDS) karena inundasi air laut, naiknya permukaan air laut, pemutihan karang, dan hilangnya habitat, yang memperburuk lingkungan yang telah rapuh dan genting. Lautan itu adalah sumber dari 80% protein orang-orang Pasifik.

Loading...
;

Laporan IPCC 2018 menunjukkan bahwa 70-90% terumbu karang dunia diperkirakan akan hilang ketika suhu udara mencapai 1,5 derajat Celcius. Ketika terumbu karang hancur, rantai makanan bagi banyak orang di wilayah Pasifik juga akan terpengaruh. Kemungkinan besar tanggapan dari krisis ini adalah orang-orang akan beralih ke makanan olahan dan minuman manis impor.

Krisis iklim mengubah faktor-faktor determinan dalam bidang sosial dan ekonomi kesehatan, dan kemungkinan membawa dampak negatif yang mendalam atas hal kesehatan, khususnya bagi anak-anak. Sebagian besar fasilitas perawatan kesehatan di Pasifik juga terletak di pinggiran pantai, membuatnya terpapar dan sangat rentan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh peristiwa cuaca ekstrem. Sebagian besar fasilitas ini tidak memenuhi peraturan yang diterima secara umum mengenai desain, konstruksi, dan pemeliharaan struktur. Biaya untuk memperbaiki fasilitas kesehatan untuk menjadi antiiklim juga terlalu tinggi bagi kebanyakan PICTs.

Terlepas dari advokasi vokal yang gamblang dan tegas oleh pemimpin-pemimpin Pasifik di hadapan UNFCCC, mendesak agar ada tindakan yang lebih maju dan ambisius untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) yang berbahaya, sebagian besar PICTs tidak siap untuk menghadapi dampak negatif dari krisis iklim, terutama di sektor kesehatan. Sudah jelas PICTs juga perlu menyusun dan menerapkan langkah-langkah adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang lebih baik, bukan hanya bergabung dengan negara-negara lainnya dalam advokasi global untuk mengurangi emisi GRK. Investasi yang diperlukan pun jumlahnya kemungkinan akan besar.

NCD, seperti diabetes dan penyakit jantung menyebabkan tiga dari empat kematian di Pasifik. Kondisi kesehatan seperti ini didorong oleh faktor-faktor risiko seperti jumlah perokok yang tinggi, pola makan yang tidak sehat, dan berkurangnya aktivitas fisik. Kondisi-kondisi ini menyebabkan masalah kesehatan yang cukup berat, seperti kebutaan, gagal ginjal dan jantung. Selain itu, dampak yang sepenuhnya dari kondisi-kondisi kesehatan ini pada sistem perawatan kesehatan dan ekonomi belum sepenuhnya diketahui. Roadmap NCD Pasifik adalah perangkat kebijakan pertama di dunia yang dikembangkan oleh Komunitas Pasifik (SPC) dan sejumlah mitra regional, atas permintaan Menteri-menteri Keuangan dan Kesehatan Pasifik.

Tujuh belas PICTs telah memperkenalkan langkah-langkah yang direkomendasikan oleh roadmap tersebut, seperti menaikkan pajak tembakau dan alkohol. Ada indikasi yang baik di banyak PICTs yang telah mengambil tindakan untuk mencegah dan mengendalikan NCD, tetapi dampak dari intervensi ini masih terbatas.

Wilayah Pasifik juga kekurangan sumber daya yang diperlukan untuk mengendalikan NCD dengan efektif. Akses ke pendanaan untuk intervensi nasional dan regional harus tetap menjadi prioritas utama.

Keterampilan untuk bekerja

Wilayah Pasifik juga harus mengatasi tantangan yang dihadapi oleh populasi mudanya, terutama di negara-negara Melanesia. Hasil dari penilaian literasi baca tulis dan literasi numerasi (Pacific Islands Literacy and Numeracy Assessment; PILNA) SPC menunjukkan bahwa generasi muda Pasifik tidak mencapai keterampilan baca tulis dan berhitung yang diharapkan. Khususnya, anak laki-laki Kelas 4 dan 6 tertinggal di belakang anak-anak perempuan. Kurangnya kemampuan baca tulis dan berhitung adalah awal dari generasi anak-anak muda tanpa keahlian dasar yang diperlukan dalam bekerja. Akibatnya, PICTs tidak memiliki keterampilan yang memadai untuk mengembangkan ekonomi. Instrumen kebijakan yang dirancang untuk mengatasi kesenjangan ini sering kali mandek pembiayaannya dan tidak sepenuhnya diimplementasikan.

Kesempatan melalui Strategi 2050

Tahun ini, pemimpin-pemimpin Forum Pulau Pasifik (PIF) sepakat akan mengembangkan Strategi 2050 untuk wilayah ini. Ini adalah kesempatan untuk kembali berkumpul dan merevisi agenda kebijakan untuk kawasan Pasifik.

Para pemimpin PICTs harus berkomitmen kepada rekan sesama pemimpin Pasifik mereka terlebih dahulu, dan menghindari bujukan untuk tunduk pada tuntutan eksternal. Dalam hal ini, pemimpin-pemimpin Pasifik didorong untuk terus berinvestasi dan mendukung lembaga-lembaga di bawah badan antar organisasi regional Pasifik, Council of Regional Organisations in the Pacific (CROP). Organisasi-organisasi regional saat ini hanya menerima sekitar 6% dari alokasi bantuan asing yang resmi. Padahal lembaga-lembaga ini efektif dan mereka hanya fokus pada kebutuhan kawasan Pasifik. Mereka bertanggung jawab langsung kepada negara-negara anggotanya. Tidak seperti lembaga-lembaga global, akuntabilitasnya langsung kepada anggotanya.

Pemimpin-pemimpin Pasifik juga harus memastikan bahwa organisasi-organisasi global yang bekerja di Pasifik memiliki rencana yang jelas untuk meningkatkan visibilitas dan mengutamakan kepemimpinan oleh orang Pasifik. Organisasi global sering bersaing langsung dengan organisasi regional untuk mendapatkan sumber daya dari donor yang sama. Mitra-mitra pembangunan juga dapat meningkatkan lanskap untuk pembangunan.

Sudah waktunya negara-negara Pasifik untuk menetapkan dan menjalankan agenda pembangunan. (Pacific Outlook/Griffith Asia Institute)

Dr. Colin Tukuitonga menjabat sebagai Direktur Jenderal Komunitas Pasifik (SPC) sampai baru-baru ini.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top